Surat Al-Isra (Bani Israil), ayat ke-42 hingga 46, merupakan bagian penting dalam rangkaian teguran dan penegasan tauhid (keesaan Allah) yang ditujukan kepada kaum musyrikin Mekkah yang mengingkari kenabian Muhammad SAW. Ayat-ayat ini secara tegas menolak anggapan mereka bahwa ada tuhan lain selain Allah yang berhak disembah, sekaligus menjelaskan bahwa orang-orang yang menyembah selain-Nya sesungguhnya berada dalam kesesatan yang nyata.
Penegasan ini bertujuan memurnikan konsep ketuhanan dan membantah syubhat (keraguan) yang mereka ciptakan untuk menjustifikasi perbuatan syirik mereka. Pemahaman mendalam terhadap ayat-ayat ini membawa konsekuensi penting dalam cara seorang Muslim memandang realitas spiritual dan duniawi.
Katakanlah (Muhammad): "Sekiranya ada di samping-Nya tuhan-tuhan lain, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu akan mencari jalan kepada Tuhan Pemilik 'Arsy (singgasana)."
Ayat ini menyajikan logika deduktif yang kuat. Jika, seandainya, anggapan kaum musyrikin tentang adanya tuhan-tuhan lain itu benar, maka tuhan-tuhan tersebut pasti akan berebut kekuasaan atau mencari cara untuk mendekati atau menyaingi Allah Yang Maha Tinggi (Dzul 'Arsy). Namun, karena tidak ada pencarian jalan, perlawanan, atau persaingan, maka logisnya hanya ada satu Tuhan yang Mahakuasa.
Langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya bertasbih memuji-Nya. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak memahami tasbih mereka itu. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.
Ayat 44 menguatkan keesaan Allah dengan menunjukkan universalitas ibadah (tasbih). Semua ciptaan, mulai dari langit, bumi, hingga makhluk yang tak terlihat, secara otomatis dan konstan memuji Allah. Fakta bahwa manusia tidak dapat memahami tasbih tersebut bukan berarti tasbih itu tidak ada, melainkan menunjukkan keterbatasan pemahaman indrawi manusia. Di akhir ayat, Allah disifati sebagai Al-Haliim (Maha Penyantun) dan Al-Ghafuur (Maha Pengampun), menunjukkan betapa luasnya rahmat-Nya meskipun manusia sering kali melakukan kesalahan fatal seperti syirik.
Dan apabila Engkau (Muhammad) membaca Al-Qur'an, Kami jadikan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat suatu dinding yang tertutup.
Dan Kami jadikan pada hati mereka penutup sehingga mereka tidak memahaminya, dan (Kami jadikan) pada telinga mereka kesumbatan. Dan apabila Engkau menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Qur'an, mereka berpaling ke belakang dengan rasa jijik.
Dua ayat terakhir ini menjelaskan dampak spiritual dari Al-Qur'an. Bagi mereka yang menolak iman kepada Hari Akhir, ketika Rasulullah SAW membacakan Al-Qur'an, ayat-ayat tersebut seolah terhalang oleh "dinding tertutup" (rajmam mastura). Ini adalah metafora untuk penghalang spiritual yang mencegah mereka memahami kebenaran ilahi. Hati mereka telah tertutup (akinna) dan pendengaran mereka menjadi tuli (waqra) terhadap petunjuk.
Puncaknya, ketika Nabi menyebut Allah semata (tauhid murni) tanpa menyertakan tuhan-tuhan sesembahan mereka, mereka menunjukkan reaksi penolakan ekstrem, yaitu lari berpaling dengan rasa jijik (nufuuran). Ini menunjukkan betapa dalamnya penolakan mereka terhadap inti ajaran Islam.
Surat Al-Isra ayat 42-46 menegaskan bahwa tauhid adalah kebenaran mutlak yang diakui oleh seluruh alam semesta. Penolakan manusia terhadap tauhid bukan disebabkan oleh kurangnya bukti, melainkan karena adanya penghalang spiritual yang mereka ciptakan sendiri atau yang disebabkan oleh penolakan keras mereka. Ayat-ayat ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk terus berpegang teguh pada kemurnian tauhid, menyadari bahwa Al-Qur'an adalah pemisah antara mereka yang beriman dan mereka yang menolak kebenaran.