Tafsir dan Hikmah Surat Al-Isra Ayat 51-60

Simbol Kebangkitan dan Cahaya Ilahi Sebuah lingkaran besar melambangkan keesaan Tuhan, dengan garis-garis cahaya memancar keluar, merepresentasikan janji dan wahyu.

Pendahuluan: Konteks Wahyu dan Respons Kaum Quraisy

Surat Al-Isra (Bani Israil) adalah surat Makkiyah yang kaya akan pelajaran tauhid, mukjizat Nabi Muhammad SAW, dan peringatan keras bagi mereka yang menolak kebenaran. Ayat 51 hingga 60 secara spesifik membahas dialog antara Allah SWT dengan orang-orang musyrik Quraisy yang meragukan kebangkitan (hari kiamat) dan mempertanyakan kemampuan Allah untuk menghidupkan kembali tulang belulang yang telah hancur.

Rangkaian ayat ini berfungsi sebagai bantahan tegas atas keraguan mereka. Allah menegaskan kekuasaan-Nya yang absolut, yang tidak terbatas oleh batas-batas pemahaman manusia yang sempit. Keraguan mereka bukan karena kurangnya bukti, melainkan karena kesombongan dan kekerasan hati.

Ayat Kunci: Penegasan Kuasa Ilahi (Ayat 51-53)

قُلْ كُونُوا حِجَارَةً أَوْ حَدِيدًا

Katakanlah: "Jadilah kamu batu atau besi."

Dalam ayat 51, Allah memerintahkan Nabi untuk menjawab keraguan mereka dengan tantangan balik: "Katakanlah: 'Jadilah kamu batu atau besi.'" Maksudnya, meskipun mereka telah menjadi benda yang paling keras dan tidak bernyawa, Allah tetap mampu membangkitkan mereka. Pertanyaan retoris ini bertujuan untuk menonjolkan perbedaan mutlak antara keterbatasan makhluk dan kekuasaan Sang Pencipta.

Ayat selanjutnya (52-53) menegaskan bahwa Allah pasti akan membangkitkan mereka, dan mereka akan berkata, "Siapakah yang akan menghidupkan kami kembali?" Lalu Allah menjawab, "Dialah Yang menciptakan kamu pertama kali." Ini adalah pengingat fundamental bahwa menciptakan dari ketiadaan adalah lebih mudah daripada mengulang ciptaan yang sudah ada. Mengingat proses penciptaan awal manusia dari air mani, kebangkitan kedua seharusnya tidak diragukan lagi.

Perintah kepada Nabi: Ketegasan dan Kehati-hatian (Ayat 54-56)

Setelah membantah keraguan tentang kiamat, ayat-ayat berikutnya mengarahkan fokus pada etika dakwah dan sikap seorang Rasul. Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk:

Ayat 56 khususnya menyoroti kesia-siaan menyembah berhala. Mereka berdoa kepada sesuatu yang tidak dapat menjawab doa mereka di dunia, apalagi di akhirat. Ini adalah kritik tajam terhadap logika politeisme.

Peringatan Mengenai Akhir Zaman dan Sifat Manusia (Ayat 57-60)

وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di laut, niscaya hilanglah sembahan-sembahan yang kamu seru selain Dia.

Ayat 57 memberikan contoh nyata tentang kemunafikan akidah orang musyrik. Ketika mereka berada dalam kesulitan besar, seperti badai di laut, naluri tauhid mereka muncul seketika. Semua sesembahan selain Allah terlupakan, dan hanya Allah yang mereka seru untuk meminta pertolongan. Ini membuktikan bahwa jauh di lubuk hati mereka, mereka mengakui keesaan Allah dalam kondisi darurat.

Ayat 58 hingga 60 berfungsi sebagai penutup rangkaian ini dengan memperingatkan tentang azab yang akan menimpa kaum yang mendustakan hari pembalasan. Allah menegaskan bahwa kota-kota yang menolak kerasulan akan dihancurkan atau mengalami azab pedih sebelum hari kiamat besar tiba. Ayat 60, yang menyebutkan tujuan kedatangan para malaikat (sebagai hukuman) hanya dapat dipahami oleh orang yang berakal, mengisyaratkan bahwa tanda-tanda kekuasaan Allah sering kali diremehkan hingga azab itu benar-benar datang.

Kesimpulan Hikmah

Rangkaian Surat Al-Isra ayat 51-60 ini mengajarkan beberapa pelajaran penting:

  1. Kekuasaan Mutlak Allah: Tidak ada batasan bagi Allah dalam menciptakan dan membangkitkan. Keraguan manusia tidak mengurangi kuasa-Nya.
  2. Pentingnya Dakwah yang Bijak: Menggunakan kelembutan dan hikmah dalam berdialog, sambil tetap tegas mempertahankan kebenaran tauhid.
  3. Kelemahan Syirik: Kesyirikan terbukti batal ketika manusia menghadapi kesulitan ekstrem, menunjukkan bahwa hati nurani sejati mengakui Sang Pencipta.

Memahami ayat-ayat ini memperkuat keimanan akan janji-janji Allah dan mendorong kita untuk berpegang teguh pada tauhid, baik dalam keadaan lapang maupun sulit.

🏠 Homepage