Kajian Surat Al-Isra Ayat 27

27 Pencerahan Ilahi

Setiap ayat dalam Al-Qur'an membawa hikmah dan panduan hidup yang mendalam. Salah satu ayat yang seringkali menjadi pengingat penting tentang tanggung jawab finansial dan sosial adalah Surat Al-Isra ayat 27. Ayat ini menjadi landasan bagi kita untuk memahami etika dalam membelanjakan harta, khususnya terkait dengan perilaku boros.

Teks Asli dan Bacaan Latin

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
Innal mubadzdziriina kaanuu ikhwaanal syayaatiin(i), wa kaanasy syaitaanu lirabbihii kafuurā.

Artinya

"Sesungguhnya orang-orang yang berlebih-lebihan (boros) itu adalah saudara-saudara setan. Dan setan itu adalah sangat kufur kepada Tuhannya."

Konteks dan Kedalaman Makna

Surat Al-Isra ayat 27, yang terletak pada Juz ke-15 Al-Qur'an, secara eksplisit memberikan peringatan keras terhadap perilaku israf (pemborosan) dan tabdzir (menghambur-hamburkan harta). Ayat ini tidak hanya sekadar larangan konsumsi berlebihan, tetapi menempatkan pemboros dalam kategori hubungan yang sangat tercela.

Hubungan dengan Setan

Poin paling menonjol dari ayat ini adalah penyamaan orang boros dengan "saudara setan" (ikhwan asy-syayathin). Dalam terminologi Islam, setan adalah representasi dari segala bentuk penyimpangan, kekufuran, dan penolakan terhadap kebenaran ilahi. Ketika seseorang menghamburkan nikmat Allah tanpa perhitungan—baik itu waktu, tenaga, maupun materi—ia telah mengikuti pola pikir setan. Setan selalu mendorong manusia menjauhi jalan lurus, dan salah satu cara efektifnya adalah melalui kesenangan duniawi yang berlebihan dan tidak bermanfaat.

Kufur Kepada Tuhan

Ayat ini ditutup dengan penegasan bahwa "setan itu adalah sangat kufur kepada Tuhannya." Kufur di sini bukan hanya berarti tidak beriman, tetapi juga ingkar terhadap nikmat. Harta yang dimiliki manusia sejatinya adalah titipan dan amanah dari Allah SWT. Menggunakannya secara boros, tanpa mengingat hak fakir miskin, tanpa memikirkan keberlanjutan, atau hanya untuk kesenangan sesaat yang sia-sia, merupakan bentuk pengingkaran terhadap kebaikan pemberi rezeki. Pemborosan adalah bentuk ketidaksyukuran yang nyata.

Perbedaan Boros dan Pemborosan (Israf vs. Tabdzir)

Meskipun seringkali diterjemahkan bersamaan, penting untuk membedakan israf dan tabdzir. Israf adalah mengeluarkan harta melebihi batas kebutuhan atau sewajarnya, bahkan jika dalam hal kebaikan (misalnya, shalat terlalu lama hingga mengganggu kewajiban lain). Sementara tabdzir adalah menghamburkan harta pada hal-hal yang jelas-jelas sia-sia atau maksiat. Kedua perilaku ini dilarang keras karena merusak potensi keberkahan harta dan mengabaikan tanggung jawab sosial.

Implikasi Ekonomi dan Sosial

Dalam konteks sosial yang lebih luas, pemborosan menciptakan ketidakadilan. Harta yang dihaburkan oleh segelintir orang bisa jadi merupakan solusi bagi banyak orang yang membutuhkan. Ayat ini mengajarkan pentingnya moderasi (tawassuth) dalam Islam. Kehidupan yang seimbang, di mana pengeluaran sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan, serta menyisihkan untuk sedekah dan investasi akhirat, adalah jalan yang diridhai.

Oleh karena itu, renungan terhadap Surat Al-Isra ayat 27 ini harus mendorong setiap Muslim untuk introspeksi mendalam mengenai cara mereka mengelola sumber daya yang telah dianugerahkan Allah. Hindari mengikuti jejak setan dalam memandang nikmat sebagai sesuatu yang bisa dihabiskan tanpa pertanggungjawaban.

🏠 Homepage