Menggali Hikmah Surat Al-Isra Ayat 7

Ilustrasi Perputaran Nasib Ilustrasi sederhana yang menunjukkan siklus kebaikan dan keburukan yang berputar. Kebaikan ⛈️ Keburukan Pergantian

Teks Ayat dan Terjemahannya

Surat Al-Isra' (atau dikenal juga sebagai Al-Isra' wal Mi'raj) adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat ketujuh surat ini mengandung pelajaran mendalam mengenai perputaran nasib di dunia, baik bagi individu maupun umat manusia secara keseluruhan.

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ جِئْنَا بِعِبَادٍ لَّنَا أُولَئِكَ شَدِيدُو بَأْسٍ فَبَعَثْنَاهُمْ خِيلَانَ الدِّيَارِ ۚ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولًا
"Jika kamu berbuat baik, (kebaikan itu) untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, kejahatan itu untuk dirimu sendiri pula. Maka, apabila datang saatnya (telah tiba) kerusakan yang kedua kalinya, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajah-wajahmu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuhmu memasukinya pertama kali, dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang kamu kuasai." (QS. Al-Isra [17]: 7)

Memahami Konteks dan Makna Perputaran Nasib

Ayat ketujuh Surat Al-Isra' ini membuka dengan sebuah prinsip fundamental dalam etika Islam: akuntabilitas pribadi. Allah SWT menegaskan bahwa setiap perbuatan, baik atau buruk, akan kembali kepada pelakunya. Ini adalah konsekuensi langsung dari pilihan bebas yang diberikan kepada manusia. Ketika kita berbuat baik, manfaatnya kembali kepada diri kita dalam bentuk ketenangan jiwa, pahala, dan dampak positif di kehidupan sosial. Sebaliknya, keburukan akan mendatangkan kerugian, baik di dunia maupun akhirat.

Namun, ayat ini tidak berhenti pada pertanggungjawaban individu. Bagian kedua ayat ini mengisyaratkan adanya konsekuensi kolektif atas penyimpangan besar suatu umat. Frasa "فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ" (Maka, apabila datang saatnya kerusakan yang kedua kalinya) merujuk pada janji Allah (yang merupakan konsekuensi dari pelanggaran berat) untuk mengirimkan azab atau musuh yang akan menghancurkan kejayaan dan kekuasaan umat yang telah lalai dan berbuat kerusakan.

Peringatan dari Sejarah

Banyak mufassir menafsirkan bagian kedua ayat ini berkaitan dengan kehancuran Bani Israil di masa lalu, terutama terkait dengan perusakan Baitul Maqdis (Yerusalem) oleh bangsa Babilonia di bawah pimpinan Nebukadnezar. Setelah Bani Israil melanggar janji dan melakukan kejahatan, Allah mengirimkan pasukan yang keras (yang digambarkan sebagai "sangat keras kekuatannya") untuk menumpas mereka, menghancurkan kota mereka, dan menghinakan mereka di tempat suci mereka sendiri.

Pelajaran yang dapat diambil di sini adalah bahwa kemuliaan dan kekuasaan yang dianugerahkan Allah bukanlah hak milik permanen. Kekuatan dapat berpindah tangan ketika pemiliknya menyalahgunakan nikmat tersebut dengan kezaliman, kesombongan, dan penyimpangan dari ajaran ilahi. Ketika umat telah mencapai titik puncak kemaksiatan dan kerusakan moral, Allah akan memberikan kesempatan kepada pihak lain untuk mengambil alih dan menegakkan keadilan, seringkali dengan cara yang sangat keras.

Implikasi Bagi Umat Islam Masa Kini

Ayat ini berfungsi sebagai cermin universal. Ia mengingatkan bahwa kesejahteraan suatu bangsa tidak hanya diukur dari kekuatan militer atau ekonomi, tetapi dari integritas moral dan kepatuhan kolektif terhadap prinsip keadilan dan kebaikan. Jika sebuah komunitas—terlepas dari nama atau keyakinannya—terus menerus melakukan ketidakadilan, menyebar kerusakan, dan melupakan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur, maka mereka sedang mempersiapkan kehancuran mereka sendiri.

"Kerusakan yang kedua kalinya" menunjukkan adanya sebuah siklus. Ada kerusakan pertama (mungkin berupa kesalahan besar di masa lalu), dan jika kesalahan itu terulang dalam skala yang lebih besar, maka azab atau pergantian kepemimpinan yang keras akan datang sebagai konsekuensi yang pasti ("وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولًا" - janji yang pasti terlaksana).

Ketegasan Akuntabilitas

Inti dari Surat Al-Isra' ayat 7 adalah penegasan bahwa alam semesta ini beroperasi berdasarkan hukum sebab-akibat yang adil. Tidak ada perbuatan yang tersembunyi dari pengawasan Ilahi. Baik pujian maupun celaan yang kita terima di dunia dan akhirat adalah hasil dari benih kebaikan atau keburukan yang kita tanam sendiri. Ayat ini mendorong introspeksi mendalam: apakah tindakan kita saat ini sedang membangun kejayaan masa depan, atau sedang mengundang datangnya "kerusakan yang kedua kalinya"? Dengan memahami ayat ini, seorang mukmin didorong untuk senantiasa berbuat kebajikan, menjaga amanah kekuasaan, dan menjauhi segala bentuk kezaliman demi keselamatan diri dan bangsanya.

🏠 Homepage