Tafsir dan Makna Surat Al-Isra Ayat 72

Hisab

Ilustrasi: Konsep pertanggungjawaban di akhir perjalanan.

Surat Al-Isra (17) Ayat 72

Wa man kāna fī hadhihi a‘mā fa huwa fīl-ākhirati a‘mā wa aḍallu sabīlā.

Artinya: "Dan barangsiapa yang buta di dunia (tidak mau melihat kebenaran), maka di akhirat ia lebih buta lagi dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)."

Penjelasan dan Hikmah Ayat

Ayat 72 dari Surat Al-Isra ini merupakan kelanjutan dari pembahasan mengenai pembangkangan kaum musyrik Mekkah yang menolak seruan tauhid dan kenabian Muhammad SAW. Ayat ini memberikan peringatan keras mengenai konsekuensi kekufuran dan penolakan petunjuk Ilahi.

Makna Kebutaan

Kata "buta" (أعمى - a'mā) dalam konteks spiritual tidak selalu merujuk pada kebutaan fisik. Dalam ayat ini, buta berarti kebutaan hati, ketidakmampuan atau keengganan untuk menerima kebenaran yang dibawa oleh wahyu Allah. Orang yang memiliki mata namun hatinya tertutup adalah orang yang sesungguhnya buta.

Mereka mungkin melihat bukti-bukti kebesaran Allah di alam semesta, mendengar ayat-ayat Al-Qur'an, namun mereka menutup diri dari pemahaman dan ketaatan. Ini adalah bentuk kesombongan intelektual dan spiritual.

Konsekuensi di Akhirat

Konsekuensi dari kebutaan hati di dunia sangatlah fatal. Allah menegaskan bahwa "di akhirat ia lebih buta lagi dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)." Kebutaan spiritual di dunia akan termanifestasi sebagai kebutaan hakiki di akhirat. Di padang Mahsyar, ketika semua orang membutuhkan petunjuk untuk menuju surga, mereka yang buta di dunia akan mendapati diri mereka tidak mampu melihat cahaya petunjuk tersebut.

Lebih jauh lagi, mereka tidak hanya buta, tetapi juga "lebih tersesat dari jalan." Ini menunjukkan bahwa kehancuran mereka bersifat total. Jalan yang dimaksud adalah jalan menuju rahmat dan keridhaan Allah (Shirathal Mustaqim). Bagi orang kafir, jalan ini akan menjadi jurang kehancuran.

Pelajaran Bagi Umat Islam

Ayat ini menjadi cermin bagi setiap Muslim untuk senantiasa memohon perlindungan dari kebutaan hati. Penting untuk selalu membuka pikiran dan hati terhadap kebenaran, melakukan muhasabah (introspeksi), dan tidak pernah merasa cukup dalam beribadah dan belajar agama.

Kebutaan hati muncul ketika seseorang terjerumus dalam kesombongan, hawa nafsu, atau mengikuti tradisi buta tanpa mau membandingkannya dengan petunjuk Al-Qur'an dan As-Sunnah. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa umatnya akan mengikuti jejak-jejak umat terdahulu sejengkal demi sejengkal, hasta demi hasta. Jika mereka masuk ke lubang biawak, umat Islam pun akan mengikutinya. Ayat ini mengingatkan bahwa mengikuti kesesatan secara massal tidak akan menyelamatkan dari konsekuensi akhirat.

Oleh karena itu, seorang mukmin harus proaktif mencari kebenaran, membersihkan hati dari penyakit iri, dengki, dan kesombongan, agar mata hatinya senantiasa terang benderang, baik di dunia maupun di hari perhitungan.

Wallahu a'lam bish shawab.

🏠 Homepage