Dan sungguh, hampir saja mereka memalingkan kamu dari wahyu yang telah Kami wahyukan kepadamu, (sehingga) kamu membuat-buat kedustaan terhadap Kami; dan kalau tidak karena Kami telah meneguhkan hati kamu, niscaya kamu hampir condong sedikit kepada mereka.
Surat Al-Isra ayat 74 merupakan pengingat penting dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW mengenai intensitas cobaan dan godaan yang dihadapi selama berdakwah. Ayat ini menyoroti betapa dekatnya situasi ketika Nabi hampir terpengaruh oleh ajakan kaum musyrik untuk mengubah atau mengarang sebagian dari wahyu yang diturunkan kepadanya. Ini menunjukkan bahwa dakwah Islam sejak awal dihadapkan pada tekanan luar biasa, bukan hanya dalam bentuk penolakan fisik, tetapi juga melalui upaya halus untuk merusak substansi risalah itu sendiri.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "وَلَوۡلَآ أَن ثَبَّتۡنَٰكَ" (dan kalau tidak karena Kami telah meneguhkan hati kamu). Kalimat ini menegaskan bahwa keteguhan Nabi dalam memegang teguh kebenaran wahyu bukanlah semata-mata hasil upaya manusiawi semata, tetapi merupakan karunia dan pertolongan langsung dari Allah SWT. Allah memberikan kekuatan batin (tsabat) agar hati Nabi tetap kokoh, meskipun hampir saja ia "condong sedikit kepada mereka." Kata "sedikit" di sini mengisyaratkan bahwa sekalipun penyimpangan itu kecil, dalam konteks menyampaikan risalah ilahi, sedikit saja penyimpangan adalah kegagalan besar.
Meskipun ayat ini ditujukan langsung kepada Rasulullah, implikasinya sangat relevan bagi setiap Muslim. Kita semua akan diuji dengan berbagai bentuk godaan, baik yang datang dari luar (lingkungan yang tidak mendukung kebenaran) maupun dari dalam (kelemahan diri sendiri). Surat Al-Isra ayat 74 mengajarkan bahwa pertahanan utama melawan penyimpangan adalah dengan selalu memohon keteguhan dari Allah.
Godaan untuk "condong sedikit" bisa berbentuk kompromi kecil terhadap prinsip agama demi mendapatkan penerimaan sosial, kenyamanan duniawi, atau menghindari konflik. Namun, ayat ini mengingatkan kita bahwa kompromi dalam akidah atau syariat adalah jurang yang sangat berbahaya. Keberhasilan dalam menjaga kemurnian iman memerlukan kesadaran konstan bahwa kekuatan untuk menolak rayuan maksiat dan penyelewengan berasal dari sumber Ilahi.
Lebih lanjut, ayat ini menanamkan rasa syukur yang mendalam. Setiap kali seorang mukmin berhasil melewati ujian iman dan tetap berada di jalan yang lurus, ia harus menyadari bahwa itu adalah hasil dari pertolongan Allah. Ini mendorong kerendahan hati dan menjauhkan sifat ujub (merasa hebat atas kemampuan diri sendiri). Rasulullah SAW sendiri membutuhkan peneguhan ilahi; apalagi kita yang memiliki kedudukan jauh di bawah beliau.
Konsekuensi dari ketidakteguhan yang hampir terjadi digambarkan sangat serius: "niscaya kamu hampir condong sedikit kepada mereka." Dalam konteks kenabian, ini berarti mengurangi otentisitas Al-Qur'an di mata umatnya. Bagi kita, ini berarti melemahkan kualitas ibadah dan amal saleh kita. Ayat ini menegaskan bahwa konsistensi dalam memegang teguh kebenaran (tauhid dan syariat) adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar, sekecil apapun godaannya.
Untuk menjaga keteguhan hati, seorang Muslim perlu secara rutin menguatkan fondasi spiritualnya melalui tadabbur (perenungan mendalam) terhadap Al-Qur'an, memperbanyak doa memohon keteguhan (seperti doa yang diajarkan Rasulullah), dan menjauhi pergaulan atau situasi yang berpotensi menguji keimanan secara berlebihan. Surat Al-Isra 74 adalah mercusuar yang mengingatkan kita bahwa pertolongan Allah datang kepada mereka yang berjuang untuk tetap teguh di atas kebenaran yang diwahyukan. Dengan memahami dan meresapi ayat ini, kita dapat lebih waspada terhadap jebakan-jebakan halus yang berusaha menjauhkan kita dari jalan lurus Allah.