Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, ayat 75 hingga 85, memuat rangkaian pesan ilahiah yang sangat mendalam mengenai konsistensi iman, tantangan kehidupan, dan hakikat ketetapan Allah SWT. Rangkaian ayat ini seringkali dibahas dalam konteks ujian kenabian dan keteguhan seorang hamba dalam menghadapi penolakan atau godaan terbesar.
Ayat-ayat ini berfungsi sebagai pengingat bahwa konsistensi dalam beribadah dan keyakinan kepada janji Allah adalah fondasi utama seorang Mukmin, terutama ketika ujian datang bertubi-tubi. Fokus utama dalam rentang ayat ini adalah tentang kesabaran menghadapi intimidasi dan pentingnya menjaga tauhid (keesaan Allah) di tengah tekanan yang mengancam untuk memalingkan seseorang dari jalan-Nya.
"Dan sungguh, mereka hampir memalingkan engkau dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar engkau membuat-buat kedustaan terhadap Kami, dan jika demikian tentulah mereka telah menjadikan engkau sebagai kawan akrab."
Ayat ini berbicara tentang intensitas usaha musuh-musuh untuk menyesatkan Nabi Muhammad SAW. Tekanan yang dihadapi begitu besar sehingga hampir saja ia tergelincir. Ini menunjukkan bahwa menjaga kebenaran seringkali membutuhkan perjuangan yang sangat berat.
"Dan seandainya tidak Kami jadikan engkau teguh, niscaya hampir saja engkau condong sedikit kepada mereka."
Allah menegaskan bahwa keteguhan hati Nabi adalah anugerah dan pertolongan langsung dari-Nya. Hal ini memberikan pelajaran berharga bahwa dalam menghadapi krisis iman, kita memerlukan dukungan spiritual dan kekuatan yang datang dari Allah, bukan murni kekuatan diri sendiri.
Ayat-ayat selanjutnya (78-79) kemudian membahas tentang penetapan waktu shalat wajib harian dan malam hari (shalat sunnah/tahajjud), menandakan bahwa benteng pertahanan utama melawan godaan adalah ketaatan pada ritual ibadah yang telah ditetapkan.
Setelah berbicara tentang potensi kegoyahan, Allah segera menyusul dengan janji perlindungan dan peneguhan posisi Nabi.
"Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu pertolongan yang menolong.'"
Doa ini mengandung permohonan komprehensif: petunjuk dalam setiap langkah (masuk dan keluar), serta permohonan pertolongan spesifik dari Allah. Ini adalah doa yang universal untuk setiap tantangan hidup.
Ayat 82 menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah penyembuh dan rahmat bagi orang yang beriman, namun bagi orang yang zalim, Al-Qur'an justru menambah kerugian. Ini menegaskan bahwa penerimaan kebenaran sangat bergantung pada kondisi hati pembacanya.
"Dan mereka menanyakan kepadamu tentang roh. Katakanlah, 'Roh itu termasuk urusan Tuhanku; dan tidaklah diberikan kepada kamu pengetahuan melainkan sedikit.'"
Ayat penutup rangkaian ini menjawab pertanyaan besar tentang hakikat roh. Jawaban ilahi ini mengajarkan batasan pengetahuan manusia. Ada hal-hal metafisik yang hanya menjadi ranah ilmu Allah, dan tugas manusia adalah beriman serta beramal berdasarkan yang telah diturunkan, bukan membongkar semua rahasia alam gaib.
Rangkaian Surat Al-Isra ayat 75 hingga 85 memberikan cetak biru bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap di tengah badai keraguan dan intimidasi. Pertama, mengakui kelemahan diri dan memohon pertolongan Allah (ayat 80). Kedua, menjadikan ibadah rutin (shalat) sebagai jangkar spiritual (ayat 78). Ketiga, menerima batasan ilmu pengetahuan manusia, fokus pada wahyu yang jelas, dan menghindari terlalu jauh masuk ke ranah yang menjadi hak prerogatif Tuhan.
Keteguhan iman yang dibahas dalam ayat-ayat ini bukanlah sifat bawaan, melainkan hasil dari usaha keras yang dibantu oleh rahmat Ilahi. Bagi umat Islam saat ini, ayat-ayat ini relevan dalam menghadapi berbagai ideologi dan tekanan modern yang mencoba mengikis nilai-nilai dasar keimanan. Kuncinya terletak pada konsistensi menjalankan perintah Allah dan selalu menyandarkan segala urusan kepada-Nya.