Representasi visual tentang tantangan dan wahyu.
Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran historis, spiritual, dan etika. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan mendalam bagi para mufassir adalah ayat ke-75. Ayat ini berbicara tentang skenario terburuk yang mungkin dihadapi umat Nabi Muhammad SAW, yaitu godaan untuk meninggalkan kebenaran dan berpaling dari ajaran Allah SWT, bahkan jika godaan itu datang dari kaum kafir yang paling gigih menentang dakwah.
Ayat ini adalah bentuk penegasan ilahi yang luar biasa kepada Rasulullah ﷺ tentang beratnya perjuangan dakwah. Allah SWT memberitahu Nabi bahwa tekanan dan bujukan dari musuh-musuh Islam sangatlah intens, hampir saja berhasil menjauhkan beliau dari kebenaran yang telah diwahyukan. Ancaman yang disajikan oleh para penentang sangat licik: mereka menawarkan persahabatan sejati—'khalil'—sebagai imbalan jika Nabi mau sedikit saja memutarbalikkan atau mengarang ajaran yang menyimpang dari wahyu murni Allah.
Frasa "wa in kaadu layaftinunana" (Dan sungguh, hampir saja mereka memalingkan kami) menunjukkan tingkat bahaya yang nyata. Meskipun Allah SWT Maha Menjaga, penyebutan ini berfungsi untuk menyoroti betapa kuatnya strategi musuh dalam merayu dan mengintimidasi. Ini bukan sekadar ancaman retoris, melainkan penggambaran situasi genting di mana godaan duniawi dan tekanan sosial mencapai puncaknya. Bagi Nabi Muhammad ﷺ, janji persahabatan atau penerimaan sosial dari komunitas yang dominan adalah godaan yang sangat besar, mengingat beliau saat itu berada di bawah tekanan hebat.
Namun, keimanan Nabi ﷺ yang teguh dan pemeliharaan langsung dari Allah SWT berhasil menangkis upaya tersebut. Ayat ini sekaligus menjadi penghibur dan penguat bagi kaum Muslimin secara umum. Ia mengajarkan bahwa ketika seseorang berada di jalan kebenaran, akan selalu ada kekuatan yang berusaha menjauhkannya, seringkali melalui tawaran yang tampak menyenangkan seperti popularitas, harta, atau penerimaan sosial.
Puncak dari ayat ini terletak pada konsekuensinya: "wa idzan lattakhadzuka kholila" (dan jika demikian, tentulah mereka akan menjadikan kamu sahabat akrab). Kata 'khalil' (صديق حميم) adalah tingkatan persahabatan yang paling intim dan mendalam. Ini menyiratkan bahwa musuh-musuh tersebut tidak benar-benar menginginkan Nabi berubah karena keyakinan, melainkan karena mereka ingin mengakomodasi ajaran tersebut agar sesuai dengan keinginan mereka. Jika Nabi mau sedikit saja 'mengarang' demi mendapatkan dukungan mereka, maka label musuh akan dicabut dan diganti dengan label sahabat akrab.
Dalam konteks yang lebih luas, ayat ini menekankan kemurnian Tauhid. Tidak ada kompromi yang dapat diterima dalam urusan wahyu dan penyampaian risalah Allah. Mengubah satu titik pun dari wahyu ilahi demi mendapatkan simpati duniawi adalah pengkhianatan tertinggi, yang konsekuensinya adalah kehilangan kedudukan sejati di sisi Allah. Sebaliknya, kesetiaan Nabi ﷺ kepada wahyu, meskipun harus menanggung penderitaan dan isolasi, justru menjamin hubungan spiritual yang tak terputus dan abadi dengan Penciptanya.
Kisah dalam Surat Al-Isra ayat 75 memberikan pelajaran fundamental bagi umat Islam di setiap zaman, termasuk di era modern yang serba terhubung dan penuh tekanan informasi. Tantangan saat ini mungkin bukan dalam bentuk penawaran persahabatan langsung dari kaum musyrik Mekkah, melainkan dalam bentuk tren budaya, ideologi sekuler yang mendominasi media sosial, atau tekanan untuk menyesuaikan nilai-nilai agama agar "terlihat lebih modern" atau "diterima secara luas."
Setiap Muslim harus bertanya pada diri sendiri: Apakah kita siap menghadapi godaan untuk sedikit "melunakkan" prinsip agama kita demi mendapatkan validasi digital atau penerimaan sosial? Ayat 75 adalah pengingat bahwa persahabatan sejati dan kebahagiaan hakiki hanya ditemukan dalam ketaatan penuh terhadap wahyu Allah, meskipun harga yang harus dibayar adalah ketidakpopuleran sementara di mata sebagian besar manusia. Keteguhan ini adalah warisan Nabi ﷺ yang harus kita jaga dalam setiap langkah dakwah dan kehidupan pribadi.
Oleh karena itu, memahami ayat ini berarti memperkuat fondasi iman agar tidak mudah goyah ketika badai godaan datang menghampiri. Keberanian untuk berbeda demi memegang teguh kebenaran adalah inti dari keteladanan Rasulullah ﷺ yang diabadikan dalam firman-Nya ini.