Visualisasi konsep kebenaran dan penolakan.
Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW (Isra' Mi'raj) dan berbagai peringatan penting bagi umat manusia. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan mendalam adalah ayat ke-83, yang membahas tentang reaksi alami manusia terhadap wahyu dan kebenaran ilahi.
Berikut adalah teks Arab dari Surat Al-Isra ayat 83 beserta terjemahannya:
"Dan apabila Kami menimpakan bahaya kepada manusia, dia menyeru Tuhannya dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri. Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia berlalu seolah-olah dia tidak pernah menyeru Kami (untuk menyingkirkan) bahaya yang menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan."
Ayat 83 ini memberikan gambaran tajam tentang sifat manusia yang cenderung berubah-ubah, terutama dalam menghadapi kesulitan dan kemudahan. Ayat ini menjelaskan sebuah siklus perilaku yang umum terjadi: ketika ditimpa musibah (adh-dhurr), manusia cenderung kembali bersujud dan memohon pertolongan kepada Allah SWT dalam segala posisi—saat berbaring, duduk, atau berdiri. Ini menunjukkan pengakuan naluriah akan kekuasaan Tuhan saat menghadapi keputusasaan.
Namun, poin krusialnya terletak pada kalimat berikutnya. Begitu Allah SWT mengangkat kesulitan tersebut, manusia tersebut kembali berpaling. Ia melupakan sejenak doa tulusnya, seolah-olah penderitaan itu tidak pernah ada dan seolah-olah ia tidak pernah memohon pertolongan dari Rabb-nya. Perilaku ini sering disebut sebagai nisyân (kelupaan) terhadap karunia dan janji saat cobaan telah berlalu.
Bagian akhir ayat ini memberikan kesimpulan yang sangat penting: "Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas (musrifin) apa yang mereka kerjakan." Kata musrifin di sini merujuk pada mereka yang berlebihan dalam perbuatannya, baik dalam kesenangan maupun dalam sikapnya yang melupakan Tuhan setelah kesusahan hilang. Kemaksiatan dan kelalaian mereka dihiasi indah oleh setan, membuat mereka merasa bahwa perilaku tersebut adalah hal yang wajar atau bahkan benar, padahal itu adalah bentuk kesombongan spiritual.
Tafsir lain melihat bahwa "dijadikan terasa indah" adalah bentuk siksaan atau tipu daya yang membuat mereka nyaman dalam kelalaiannya. Kenikmatan dunia yang datang setelah musibah seolah menjadi penghalang antara mereka dan rasa syukur yang sejati.
Surat Al-Isra ayat 83 mengajarkan beberapa pelajaran mendasar:
Oleh karena itu, ayat ini berfungsi sebagai cermin bagi setiap jiwa. Apakah kita termasuk golongan yang hanya memanggil Allah saat badai datang, lalu ketika langit kembali cerah, kita langsung melupakan janji dan pengakuan tulus kita? Merenungkan Al-Isra ayat 83 adalah langkah awal untuk menumbuhkan konsistensi spiritual dan menghindari perangkap israf (melampaui batas) dalam bersikap.