Surat Al-Isra, atau yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan petunjuk, mukjizat, dan peringatan bagi umat manusia. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan mendalam bagi para mufassir dan pembaca adalah ayat ke-89. Ayat ini menyentuh inti dari tantangan yang dihadapi oleh Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan risalah Islam di tengah penolakan kaum musyrik.
Ayat 89 ini berfungsi sebagai penegasan terhadap kebenaran Al-Qur'an, terutama ketika menghadapi orang-orang yang meminta mukjizat yang tak terbatas atau meragukan keaslian wahyu yang dibawa oleh Rasulullah.
Fokus utama dari Al-Isra ayat 89 terletak pada penyebutan bahwa Allah SWT telah "membuat dalam Al-Qur'an ini bermacam-macam perumpamaan bagi manusia." Kata 'matsal' (perumpamaan) di sini memiliki cakupan makna yang sangat luas. Ini tidak hanya mencakup kisah-kisah teladan, perbandingan moral, atau analogi logika, tetapi juga mencakup seluruh struktur ajaran, hukum, dan janji-janji Ilahi yang disajikan dalam Al-Qur'an.
Tujuan dari variasi perumpamaan ini adalah untuk memudahkan pemahaman bagi setiap lapisan masyarakat. Baik mereka yang berpikir secara logis, yang tergerak oleh emosi, maupun mereka yang membutuhkan contoh nyata dalam sejarah, Al-Qur'an menyediakan sarana komunikasi yang sempurna. Allah SWT menunjukkan kemahabijaksanaan-Nya dengan menyajikan kebenaran universal dalam kemasan yang relevan bagi kondisi manusia yang beragam.
Jika suatu kaum menanyakan tentang bukti, Al-Qur'an memberikan bukti melalui fakta-fakta alam dan sejarah kenabian. Jika mereka memerlukan motivasi, disajikan janji surga dan ancaman neraka. Jika mereka membutuhkan landasan etika, disajikan aturan moral yang jelas. Ini adalah bentuk kemudahan dan rahmat yang luar biasa dari Allah kepada umat manusia.
Namun, setelah penjelasan yang begitu lengkap dan variasi penyampaian yang begitu indah, ayat ini memberikan sebuah diagnosis yang menyedihkan tentang kondisi mayoritas manusia: "tetapi kebanyakan manusia itu enggan kecuali mengingkari (kufur)."
Penolakan ini bukanlah karena kurangnya bukti atau kurangnya kejelasan dalam wahyu. Sebaliknya, keengganan tersebut timbul dari kesombongan, hawa nafsu yang menguasai akal, atau ketakutan akan perubahan sosial yang dibawa oleh ajaran tauhid. Mereka merasa nyaman dalam kebiasaan lama mereka, meskipun kebiasaan tersebut merugikan mereka di dunia dan akhirat. Mereka memilih untuk menutup mata terhadap bukti yang begitu terang benderang.
Sifat 'kufur' di sini merujuk pada penolakan aktif dan penolakan terhadap kebenaran yang sudah terbukti, bukan sekadar ketidaktahuan. Ini adalah sikap kepala batu yang menolak mengakui kebenaran meskipun semua jalur logika dan hati telah ditunjukkan.
Surat Al-Isra ayat 89 tetap relevan hingga kini. Di era informasi yang melimpah, di mana berbagai ideologi dan pandangan dunia bersaing untuk mendapatkan perhatian, Al-Qur'an tetap menawarkan fondasi yang kokoh. Namun, tantangan modern sering kali adalah bagaimana menyampaikan kebenaran di tengah "kebisingan" informasi. Sebagaimana di masa Nabi, tantangan kita hari ini bukanlah kekurangan informasi, melainkan kecenderungan manusia untuk memilih informasi yang sesuai dengan keinginan mereka, dan menolak apa pun yang menuntut perubahan atau pertanggungjawaban.
Ayat ini mengajarkan pentingnya kesabaran bagi para da'i dan pendakwah. Meskipun pesan telah disampaikan dengan berbagai cara (perumpamaan), hasil akhir penyerahan diri sepenuhnya berada di tangan petunjuk Ilahi. Tugas manusia hanyalah menyampaikan dengan cara terbaik, menggunakan semua perumpamaan yang ada dalam hikmah Ilahi.
Pada akhirnya, Al-Isra ayat 89 adalah cerminan tentang respons manusia terhadap cahaya wahyu: sebagian menerima dan menggunakannya sebagai pedoman hidup, sementara mayoritas memilih untuk tetap berada dalam kegelapan penolakan, meskipun cahaya telah diperlihatkan dalam ribuan bentuk yang berbeda.