Ilustrasi Perjalanan Malam Gambaran bulan sabit di atas masjid dengan siluet orang berjalan di malam hari.

Surat Al-Isra Beserta Bacaan Latin dan Terjemahannya

Surat Al-Isra (juga dikenal sebagai Bani Israil) adalah surat ke-17 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Surat ini terdiri dari 111 ayat dan termasuk golongan Makkiyah, diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW melakukan Hijrah ke Madinah. Surat ini mengandung kisah penting tentang Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, serta berbagai peringatan, ajaran akhlak, dan hukum-hukum penting lainnya bagi umat Islam. Mempelajari surat ini memberikan wawasan mendalam mengenai keesaan Allah, batasan-batasan moral, dan tanggung jawab sosial.

Teks Lengkap Surat Al-Isra (Ayat 1 sampai 111)

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Subḥānal-ladzī asrā bi‘abdihi jailal-minal-masjidi al-ḥarāmi ilal-masjidi al-aqṣal-ladzī bāraknā ḥawlahu li-nuriya-hu min āyātinā, innahu huwas-samī‘ul-baṣīr.
Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-MasjidilAqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِن دُونِي وَكِيلًا
Wa ātainā mūsāl-kitāba wa ja‘alnāhu hudan li-banī isrā’īl, allā tattakhidhū min dūnī wakīlā.
Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku."
ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
Dzurriyyata man ḥamalnā ma‘a nūḥ, innahū kāna ‘abdan syakūrā.
"(Hai) anak cucu orang-orang yang Kami selamatkan bersama menundukkan Nuh. Sesungguhnya dia adalah seorang hamba (Allah) yang banyak bersyukur."
وَقَضَيْنَا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا
Wa qaḍaynā ilā banī isrā’īla fil-kitābi latufsidan-na fil-arḍi marrataini wa lata‘lunna ‘uluwwan kabīrā.
Dan telah Kami wahyukan kepada Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan melampaui batas dengan kesombongan yang besar."
فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولَاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ ۚ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولًا
Fa-idza ja’a wa‘du ūlāhumā ba‘atsnā ‘alaikum ‘ibādal-lanā ulī ba’sin syadīdin fa-jāsū khilālad-diyār, wa kāna wa‘dan maf‘ūlā.
Maka apabila datang janji (Allah) permulaan (pertama) dari kedua (masa kerusakan) itu, Kami datangkan kepada kamu hamba-hamba Kami yang sangat keras peperangan-Nya, lalu mereka menjadi hakim-hakim di antara rumah-rumah (negeri-negeri); dan itulah janji yang pasti terlaksana.
ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا
Tsumma radadnā lakumul-karrata ‘alaihim wa amdadnākum bi-amwālin wa banīna wa ja‘alnākum aktsara nafīrā.
Kemudian Kami kembalikan lagi kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka, dan Kami tambahi kamu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar (jumlahnya).
إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا
In aḥsantum aḥsantum li-anfusikum, wa in asa’tum fa-lahā. Fa-idza ja’a wa‘dul-ākhirati liyasū’ū wujūhakum wa liyadkhulul-masjida kamā dakhulūhu awwala marratin wa liyutabbirū mā ‘alaw tatbīrā.
Jika kamu berbuat baik, (maka) kebaikan itu adalah untuk dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, kejahatan itu akan (kembali) kepadamu juga. Dan apabila datang janji (Allah) yang kedua (untuk mengalahkan kamu), (Kami datangkan orang lain): supaya mereka menyuramkan muka-muka kamu dan supaya mereka masuk ke dalam Masjid (Al-Aqsa) sebagaimana mereka membinasakannya pada kali yang pertama dan supaya mereka menghancurleburkan apa saja yang mereka kuasai dengan sehancur-hancurnya.

Ringkasan Isi Lanjutan Surat Al-Isra

Setelah membahas tentang kehancuran Bani Israil akibat kesombongan mereka, Allah SWT melanjutkan dengan ayat-ayat yang berisi pedoman moral dan tauhid yang fundamental bagi seluruh umat manusia, termasuk umat Nabi Muhammad SAW.

عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يَرْحَمَكُمْ ۚ وَإِنْ عُدتُّمْ عُدْنَا ۚ وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ حَصِيرًا
‘Asā rabbukum ay yarḥamakum, wa in ‘udtum ‘udnā, wa ja‘alnā jahannama lil-kāfirīna haṣīrā.
Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu; dan jika kamu mengulangi (pelanggaran), Kami pun akan mengulangi (hukuman kami) dan Kami jadikan Jahannam penjara (tempat tahanan) bagi orang-orang kafir.

Ayat-ayat berikutnya (9 hingga 14) menekankan pentingnya Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup yang lebih baik daripada Taurat dan sebagai rahmat bagi kaum mukminin. Ayat 15-21 berbicara tentang prinsip keadilan universal dan pembalasan ilahi; setiap orang memikul dosanya sendiri, dan Allah tidak akan menzalimi seorang pun.

Bagian inti dari surat ini mencakup sepuluh adab atau etika sosial yang sangat penting dalam Islam, dimulai dari ayat 22 hingga 39. Adab-adab ini meliputi:

  1. Keesaan Allah dan larangan menyekutukan-Nya (Ayat 22).
  2. Berbakti kepada kedua orang tua dengan penuh hormat (Ayat 23-24).
  3. Menyambung silaturahmi dan menunaikan hak-hak kerabat, fakir miskin, dan musafir (Ayat 26-27).
  4. Tidak berlaku boros (Ayat 29).
  5. Tidak membunuh anak karena takut kemiskinan (Ayat 31).
  6. Menjauhi zina (Ayat 32).
  7. Menjaga amanah dan menepati janji (Ayat 34).
  8. Memberikan takaran dan timbangan yang adil (Ayat 35).
  9. Tidak memaksakan diri pada hal yang tidak diketahui (Ayat 36).
  10. Tidak berjalan di muka bumi dengan angkuh (Ayat 37).

Surat Al-Isra juga mengabadikan perjalanan agung Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW (Ayat 1), yang merupakan mukjizat luar biasa sebagai penghiburan di tengah penolakan kaum Quraisy. Allah menegaskan kebenaran Al-Qur'an sebagai kitab terakhir dan penyempurna (Ayat 88). Selain itu, terdapat pula dialog antara Allah dan Iblis, di mana Iblis menyatakan bahwa ia tidak akan mampu menggoda keturunan Adam kecuali mereka yang berpaling dari ketaatan (Ayat 64).

Penutup surat (Ayat 105-111) menegaskan kembali kebenaran Al-Qur'an diturunkan secara bertahap (bertahap) dan mengakhiri dengan penegasan bahwa Al-Qur'an adalah firman Allah yang hakiki, mengajak manusia untuk bersujud dan bertasbih kepada-Nya.

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا
Qulid‘u-llāha awid‘ur-raḥmān, ayyam-mā tad‘ū fa-lahul-asmā’ul-ḥusnā, wa lā tajhar bi-ṣalātika wa lā tukhāfit bihā wa-btaghi baina dzālika sabīlā.
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Tuhan yang Maha Pemurah. Dengan nama mana saja kamu menyeru-Nya, Dia mempunyai Al-Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara keduanya."
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا
Wa qulil-ḥamdu lillāhil-ladzī lam yattakhid wa ladan, wa lam yakul-lahū syarīkun fil-mulki wa lam yakul-lahū waliyyum minad-dhulli wa kab-birhu takbīrā.
Dan katakanlah: "Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan sekali-kali tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya, dan tidak ada penolong bagi-Nya untuk melindunginya dari kehinaan, dan bertasbihlah kepada-Nya dengan pengagungan yang sebesar-besarnya."
🏠 Homepage