Menggali Hikmah Surat Al-Hijr (Surat ke-15 Al-Qur'an)

Al-Qur'an adalah lautan hikmah yang tak pernah kering. Di antara 114 surahnya, terdapat Surat Al-Hijr, yang merupakan surah ke-15. Surah ini memiliki keunikan tersendiri, di mana namanya diambil dari salah satu kaum yang dibinasakan Allah karena kekufuran mereka, yaitu kaum Tsamud yang tinggal di lembah batu, Hijr. Surat ini sarat dengan penguatan tauhid, kisah-kisah umat terdahulu, serta penegasan tentang kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW.

Ilustrasi Lembah Batu dan Cahaya Wahyu Gambar abstrak menunjukkan pahatan batu di tebing (melambangkan kaum Tsamud) dengan cahaya lembut memancar dari atas (melambangkan wahyu Ilahi). وَلَقَدْ جِئْنَاهُمْ

Kisah Kaum Tsamud dan Peringatan Tegas

Salah satu bagian paling mendalam dari Surat Al-Hijr adalah kisah kaum Tsamud. Mereka diberi mukjizat berupa unta betina yang keluar dari batu, sebagai ujian keimanan dari Nabi Shaleh AS. Sayangnya, kaum Tsamud, yang sombong dan keras kepala, membunuh unta tersebut. Balasan Allah atas kedurhakaan mereka digambarkan dengan sangat nyata. Allah SWT berfirman bahwa negeri mereka akan dihancurkan, dan mereka akan mendapati kehinaan di dunia, serta azab yang pedih di akhirat.

Pelajaran utama yang dapat diambil adalah pentingnya bersyukur dan taat terhadap peringatan Ilahi. Kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran kenabian akan selalu berujung pada kehancuran, sebagaimana diceritakan Allah SWT melalui kisah-kisah ini. Surat Al-Hijr berfungsi sebagai pengingat agar umat Nabi Muhammad SAW tidak mengikuti jejak kaum-kaum terdahulu yang diazab.

Penegasan Tentang Keagungan Al-Qur'an

Surat Al-Hijr juga secara tegas menyatakan keagungan dan kemuliaan Al-Qur'an. Allah SWT berfirman bahwa Dialah yang menurunkan Al-Qur'an, dan Dia pula yang akan menjaganya dari perubahan atau kerusakan ("Inna nahnu nazzalna adz-dzikra wa inna lahu lahafidzun"). Ayat ini merupakan jaminan ilahiah yang memberikan ketenangan kepada umat Islam mengenai keaslian wahyu hingga akhir zaman. Penjagaan ini menjadi bukti bahwa Al-Qur'an adalah firman murni dari Sang Pencipta.

Dalam konteks dakwah, surat ini juga memuat instruksi kepada Nabi Muhammad SAW untuk tetap berdakwah dengan penuh kesabaran, meskipun menghadapi ejekan dan tantangan dari kaum musyrikin. Ayat-ayat ini menekankan bahwa tugas rasul hanyalah menyampaikan, sementara penentuan akhir berada di tangan Allah.

Keindahan Penciptaan dan Kehidupan

Selain peringatan keras, Al-Hijr juga dipenuhi dengan ayat-ayat yang memuji kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya. Allah mengingatkan manusia untuk merenungkan penciptaan langit yang bertaburan bintang, gunung-gunung yang dipancangkan kokoh, serta bagaimana Allah mengatur rezeki dan kehidupan di bumi. Keindahan alam semesta adalah tanda-tanda keesaan dan kekuasaan Allah.

Sebagai contoh, disebutkan kisah penciptaan manusia dari tanah liat kering yang kemudian ditiupkan ruh, sebuah proses ajaib yang menunjukkan kemuliaan kedudukan manusia. Kemudian, ada kisah tentang Iblis yang menolak bersujud kepada Adam AS karena kesombongan—satu kisah abadi tentang bahaya keangkuhan intelektual dan spiritual. Penolakan Iblis ini menjadi pelajaran fundamental bahwa ketaatan harus didasarkan pada perintah Allah, bukan pada pertimbangan logika atau ego pribadi semata.

Pentingnya Menghindari Perbuatan Sia-sia

Surat Al-Hijr memberikan arahan praktis mengenai bagaimana seorang mukmin harus menjalani hidup. Salah satu pesannya adalah tentang pentingnya menjauhi perbuatan yang sia-sia dan dusta. Kehidupan dunia ini dipandang sebagai ujian yang singkat, dan fokus utama harus diarahkan pada persiapan akhirat.

Pada akhir surah, terdapat penegasan kembali tentang kebenaran risalah, dan perintah untuk bersabar menanti ketetapan Allah. Surat Al-Hijr (15) adalah perpaduan antara kisah historis yang mengharukan, jaminan ilahiah terhadap Al-Qur'an, dan penguatan aqidah yang fundamental bagi setiap muslim. Mempelajari dan merenungkan maknanya adalah cara untuk memperkuat hubungan spiritual kita dengan Sang Pencipta.

🏠 Homepage