Ilustrasi perjalanan malam yang suci.
Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil (Anak-anak Israel), adalah surat ke-17 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Surat ini terdiri dari 111 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah, meskipun beberapa ulama menyebutkan beberapa ayatnya turun di Madinah. Nama "Al-Isra" merujuk pada peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW, perjalanan malam beliau dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang disebutkan pada ayat pertama.
Surat ini kaya akan ajaran moral, hukum, dan peringatan bagi umat manusia, khususnya merangkum banyak peristiwa yang dialami oleh Bani Israil sebagai pelajaran penting bagi umat Islam. Pembahasan mencakup larangan berbuat syirik, pentingnya berbuat baik kepada orang tua, etika sosial, hingga tanda-tanda akhir zaman.
Berikut adalah sebagian dari ayat-ayat pembuka Surat Al-Isra beserta bacaan Latinnya (transliterasi) untuk memudahkan pembacaan bagi yang belum fasih membaca huruf Arab.
Ayat pertama menegaskan kemahabesaran Allah (Subhana) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) di malam hari. Peristiwa Isra' ini adalah mukjizat yang menunjukkan status tinggi Nabi dan signifikansi Masjid Al-Aqsa sebagai kiblat pertama umat Islam, tempat beliau melanjutkan perjalanan ke Sidratul Muntaha (Mi'raj). Kisah ini menjadi landasan penting dalam sejarah Islam.
Salah satu perintah utama dalam surat ini adalah tauhid yang sangat ditekankan. Allah melarang keras menyembah selain-Nya. Ayat 22 berbunyi: "Janganlah kamu jadikan di samping Allah tuhan yang lain, (karena kamu akan duduk tercela dan ditinggalkan)." Penekanan ini menggarisbawahi pondasi akidah yang harus dijaga oleh setiap Muslim.
Etika sosial dalam Islam mendapatkan sorotan tajam. Allah memerintahkan untuk berbuat ihsan (kebaikan) kepada kedua orang tua, melarang ucapan kasar sekecil apapun ('uf'), dan memerintahkan untuk merendahkan diri dengan penuh kasih sayang terhadap mereka. Ini menunjukkan betapa tingginya posisi orang tua dalam syariat Islam.
Surat Al-Isra juga memberikan panduan manajemen harta yang seimbang. Umat Islam diperingatkan agar tidak menjadi pemboros (israf) yang dicap sebagai saudara setan, namun juga tidak boleh kikir (bakhil) sehingga menahan hak orang lain. Keseimbangan antara kebutuhan diri dan kewajiban sosial ditekankan.
Terdapat larangan tegas mengenai perbuatan keji dan kriminal. Selain larangan membunuh anak karena khawatir kemiskinan (sebuah praktik jahiliyah), surat ini juga melarang mendekati zina, sebab zina adalah perbuatan keji dan merupakan jalan yang buruk. Hak atas kepemilikan pribadi juga dijaga dengan larangan mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang terbaik.
Secara keseluruhan, Surat Al-Isra berfungsi sebagai konstitusi moral dan etika komprehensif. Dengan memahami dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya, seorang Muslim dapat menjalani kehidupan yang lurus, seimbang, dan diridai Allah SWT, sebagaimana telah dicontohkan melalui mukjizat perjalanan suci Nabi Muhammad SAW. Membaca dan merenungkan maknanya adalah bentuk ibadah yang mendalam.
Semoga uraian singkat ini menambah wawasan kita tentang kemuliaan Surat Al-Isra.