Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil (sebagaimana dalam penamaan surat ke-17 dalam Al-Qur'an), memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Nama "Al-Isra" merujuk pada peristiwa luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu perjalanan malam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Peristiwa ini merupakan mukjizat agung yang menegaskan kebenaran kenabian beliau di tengah tantangan dakwah yang berat.
Peristiwa Isra' Mi'raj adalah dua bagian yang tak terpisahkan. Isra' adalah perjalanan fisik malam hari, sedangkan Mi'raj adalah kenaikan Nabi Muhammad ke langit, melewati tujuh lapisan langit hingga Sidratul Muntaha, tempat beliau menerima perintah shalat lima waktu langsung dari Allah SWT. Ayat pertama surat ini (Ayat 1) adalah saksi nyata dari perjalanan agung tersebut.
Lebih dari Sekadar Kisah Perjalanan
Meskipun dimulai dengan kisah fenomenal tersebut, inti ajaran Surat Al-Isra jauh melampaui narasi mukjizat. Surat ini berfungsi sebagai konstitusi mini yang mencakup prinsip-prinsip etika sosial, akidah, dan pedoman moral yang komprehensif bagi umat manusia. Surat ini menyoroti tanggung jawab manusia, konsekuensi perbuatan, serta pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama dan Allah SWT.
Salah satu pilar utama yang ditekankan adalah tauhid, yaitu pengesaan Allah, yang diperkuat dengan larangan syirik (menyekutukan Allah). Namun, surat ini juga sangat menekankan tanggung jawab sosial dan moral yang harus diemban seorang Muslim.
Sepuluh Pilar Etika dalam Al-Isra
Ayat-ayat selanjutnya dalam Surat Al-Isra memberikan serangkaian perintah dan larangan yang mendasar bagi pembentukan masyarakat Islami yang adil dan harmonis. Ayat-ayat ini sering disebut sebagai sepuluh prinsip dasar yang harus dipegang teguh:
- Tidak menyembah selain Allah (Tauhid murni).
- Berbakti kepada orang tua dengan penuh hormat dan kasih sayang.
- Menunaikan hak-hak kerabat, fakir miskin, musafir, dan tidak berlebihan dalam pemborosan.
- Tidak membunuh anak karena takut miskin.
- Menjauhi zina, karena zina adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.
- Tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar (hukum yang berlaku).
- Memelihara harta anak yatim dengan cara yang terbaik.
- Menepati janji dan menunaikan segala akad atau perjanjian.
- Memberikan takaran dan timbangan yang adil saat berjual beli.
- Tidak bersikap sombong di muka bumi dan berjalan dengan rendah hati.
Peringatan dan Konsekuensi
Al-Isra juga memberikan peringatan keras tentang akibat dari pembangkangan. Allah SWT mengingatkan Bani Israil tentang sejarah kegagalan mereka di masa lalu, yang sering kali disebabkan oleh pelanggaran janji dan penyimpangan dari perintah ilahi. Surat ini menjelaskan bahwa setiap generasi akan menuai hasil dari perbuatannya sendiri. Jika suatu kaum bersikap baik dan taat, mereka akan mendapatkan kemuliaan; sebaliknya, jika mereka berbuat kerusakan, kehancuranlah yang akan menanti.
Pesan mengenai keadilan dan etika ini relevan sepanjang masa. Misalnya, perintah untuk tidak melakukan penipuan dalam timbangan (Ayat 35) adalah prinsip fundamental dalam ekonomi Islam yang bertujuan menciptakan transparansi dan kepercayaan dalam muamalah. Demikian pula, perintah untuk berlaku adil bahkan terhadap mereka yang tidak kita sukai (Ayat 23) menunjukkan tingginya standar moral yang dituntut oleh Islam.
Tentang Pengetahuan dan Ruh
Menjelang akhir surat, terdapat pembahasan mengenai ilmu pengetahuan dan misteri ruh. Ayat 85 menyinggung tentang ruh: "Mereka menanyakan kepadamu tentang ruh. Katakanlah: 'Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberikan pengetahuan melainkan sedikit sekali.'" Ayat ini mengajarkan kerendahan hati intelektual manusia, mengakui batas kemampuan nalar manusia di hadapan keagungan ilmu Allah SWT.
Secara keseluruhan, Surat Al-Isra adalah kompendium ajaran yang mengikat mukjizat spiritual dengan implementasi praktis dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengajarkan bahwa keimanan sejati harus tercermin dalam perilaku yang etis, sosial yang adil, dan hubungan yang penuh rasa syukur kepada Allah SWT, Sang Pemilik segala keajaiban.