Ilustrasi: Timbangan Keadilan dan Wahyu
Surat Al-Maidah adalah surat terakhir yang diturunkan secara keseluruhan kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat ke-101 dari surat ini, yakni Surat Al-Maidah ayat 101, mengandung peringatan penting dari Allah SWT kepada umat Islam mengenai sikap mereka dalam bertanya kepada Rasulullah SAW. Ayat ini diturunkan dalam konteks ketika beberapa sahabat pernah mengajukan pertanyaan yang berulang-ulang atau pertanyaan yang tidak perlu, yang terkadang membebani Rasulullah SAW.
Inti dari ayat ini adalah nasihat untuk tidak bertanya tentang hal-hal yang jika dijelaskan akan menjadi beban atau larangan bagi mereka. Ini menekankan pentingnya ketaatan tanpa mencari celah atau mempersulit urusan agama.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ ۖ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan kepada Nabi hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan hal itu ketika Al Qur'an diturunkan, niscaya akan diperlihatkan hal itu kepadamu. Allah telah mema'afkan (semua pertanyaan itu), dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun." (QS. Al-Maidah: 101)
Ayat 101 Al-Maidah memberikan beberapa pelajaran fundamental bagi umat Islam, terutama mengenai etika bertanya dan batasan dalam mencari ilmu.
Allah SWT melarang umat-Nya bertanya tentang hal-hal yang jika jawabannya diungkapkan secara eksplisit justru akan menyulitkan mereka. Ini sering terjadi ketika suatu hal diizinkan secara umum, namun jika detailnya dipertanyakan, detail tersebut mungkin mengandung hukum yang memberatkan atau melarang praktik yang sebelumnya mereka lakukan tanpa sadar. Sikap ini dikenal sebagai takalluf, yaitu membebani diri dengan hal-hal yang tidak diwajibkan. Rasulullah SAW bersabda, "Tinggalkanlah apa yang aku diamkan atasnya, karena sesungguhnya umat sebelum kalian dibinasakan karena banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka."
Frasa "jika kamu menanyakan hal itu ketika Al Qur'an diturunkan, niscaya akan diperlihatkan hal itu kepadamu" mengindikasikan bahwa saat wahyu turun adalah momen sakral dan kritis. Pertanyaan yang diajukan pada saat itu haruslah pertanyaan yang membangun dan bertujuan untuk memahami hikmah, bukan untuk menguji atau mencari celah keringanan. Pertanyaan yang tidak pada tempatnya dapat menyebabkan turunnya ayat baru yang mungkin memperketat hukum yang sudah ada.
Bagian penutup ayat, "Allah telah mema'afkan (semua pertanyaan itu), dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun," adalah bentuk rahmat yang sangat besar. Allah menyadari bahwa di masa awal penetapan syariat, mungkin ada kekhilafan dalam cara bertanya dari para sahabat yang baru belajar. Rahmat ini menjadi janji bahwa meskipun ada kesalahan dalam metode bertanya di masa lalu, Allah memilih untuk menutup pintu tersebut (memaafkan pertanyaan yang belum terjawab) dan memberikan keringanan, menunjukkan sifat Ghafur (Maha Pengampun) dan Halim (Maha Penyantun) yang mendominasi sifat-sifat-Nya.
Di era modern, ayat ini relevan dalam konteks bagaimana kita berinteraksi dengan para ulama atau pemimpin agama. Kita harus memastikan niat kita dalam mencari ilmu agama adalah untuk ketaatan dan pemahaman yang lapang, bukan untuk mencari alasan untuk meninggalkan kewajiban atau memperdebatkan hal-hal yang sudah jelas hukumnya.
Fokus harus diarahkan pada pengamalan perintah yang sudah ditetapkan (seperti salat, puasa, zakat) daripada menghabiskan energi pada perdebatan filosofis yang tidak menghasilkan amal saleh. Ayat ini mengajarkan kita untuk menerima kemudahan dalam agama (yusra) dan menghindari sikap mempersulit diri (ta'assur) dalam beribadah. Dengan memahami ayat ini, seorang Muslim didorong untuk memiliki kedewasaan spiritual, berpegang teguh pada prinsip dasar agama, dan senantiasa bersyukur atas keluasan rahmat Allah yang telah menutupi banyak potensi kesulitan dari pandangan kita.