Kewajiban Akal dan Ilmu dalam Perspektif Islam

Simbol Buku Terbuka dan Cahaya

Al-Qur'an adalah petunjuk ilahi yang komprehensif bagi umat manusia. Di dalamnya, terdapat banyak sekali ayat yang tidak hanya memerintahkan ibadah ritual, tetapi juga menekankan pentingnya penggunaan akal, penyelidikan, dan ilmu pengetahuan. Salah satu landasan penting dalam prinsip ini termaktub dalam Surat Al-Isra ayat 36. Ayat ini berfungsi sebagai peringatan keras agar manusia tidak mengikuti dugaan atau asumsi buta dalam hal-hal yang memerlukan kepastian.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra: 36)

Makna Mendalam Larangan Mengikuti Dugaan

Ayat 36 dari Surat Al-Isra (Bani Israil) secara tegas melarang umat manusia untuk "taqfu"—mengikuti—sesuatu yang tidak disertai dengan ilmu atau pengetahuan yang pasti. Dalam konteks modern, larangan ini memiliki relevansi yang sangat besar. Ia menuntut kita untuk bersikap kritis dan berbasis bukti (evidence-based) dalam setiap pengambilan keputusan, mulai dari keyakinan agama hingga urusan duniawi. Islam sangat menghargai objektivitas dan menolak fanatisme buta yang didasarkan pada hawa nafsu atau tradisi semata tanpa dasar yang jelas.

Allah SWT tidak hanya melarang tindakan mengikuti hal yang tidak diketahui, tetapi juga secara spesifik menyebutkan tiga perangkat utama yang seharusnya digunakan manusia untuk memperoleh ilmu dan kebenaran: pendengaran (as-sam'), penglihatan (al-bashar), dan hati atau akal (al-fu'ad). Tiga indera dan pusat kognitif ini adalah instrumen yang dianugerahkan Allah untuk memahami realitas alam semesta dan wahyu-Nya.

Tanggung Jawab Pendengaran dan Penglihatan

Pendengaran kita bertanggung jawab terhadap informasi yang kita terima. Kita diperintahkan untuk menyaring berita, mendengarkan dengan seksama, dan tidak menyebarkan desas-desus tanpa verifikasi. Dalam era digital saat ini, di mana informasi salah (hoaks) menyebar dengan cepat melalui audio dan teks, ayat ini menjadi landasan etika komunikasi yang kuat. Kita harus memastikan bahwa apa yang kita dengar itu benar sebelum kita menjadikannya landasan tindakan atau keyakinan.

Penglihatan (mata) juga memegang peranan penting. Mata digunakan untuk mengamati fenomena alam, mempelajari tanda-tanda kebesaran Allah (ayat-ayat kauniyah), dan juga untuk membaca serta menyaksikan bukti-bukti. Penglihatan harus digunakan untuk mencari kebenaran, bukan sekadar membenarkan prasangka yang sudah ada. Ilmu pengetahuan—baik sains maupun agama—banyak dibangun melalui observasi dan penelitian visual.

Peran Sentral Hati (Fuad) sebagai Pusat Pemikiran

Kata "Al-Fu'ad" sering diterjemahkan sebagai hati, namun dalam konteks ini, ia merujuk lebih dalam kepada akal, pemahaman intuitif, dan kemampuan berpikir kritis. Hati adalah tempat di mana input dari pendengaran dan penglihatan diproses, dianalisis, dan kemudian diubah menjadi keyakinan atau keputusan. Ayat ini menegaskan bahwa akal bukan hanya alat pasif; ia adalah entitas aktif yang harus dipertanggungjawabkan.

Kewajiban mempertanggungjawabkan pendengaran, penglihatan, dan hati menunjukkan bahwa karunia kognitif ini bukanlah hadiah yang tanpa konsekuensi. Di hari kiamat, setiap individu akan ditanyai: Bagaimana kamu menggunakan apa yang Aku anugerahkan kepadamu untuk mencari kebenaran? Apakah kamu menutup telingamu dari petunjuk? Apakah kamu memejamkan matamu dari tanda-tanda-Nya? Apakah kamu membiarkan hatimu dikuasai oleh hawa nafsu daripada oleh ilmu?

Aplikasi Kontemporer Ayat Al-Isra 36

Ayat ini menjadi fondasi bagi etika intelektual seorang Muslim. Ia mengajarkan bahwa iman sejati tidak bertentangan dengan akal sehat; sebaliknya, iman menuntut penggunaan akal yang maksimal. Ketika kita dihadapkan pada klaim-klaim yang tidak berdasar, baik dalam bidang teologi, moralitas, maupun ilmu pengetahuan, Al-Isra 36 memerintahkan kita untuk berhenti sejenak dan meminta bukti.

Penerapan ayat ini mendorong umat Islam untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Kegigihan dalam mencari ilmu, kerendahan hati untuk mengakui ketidaktahuan, dan keberanian untuk meninggalkan keyakinan lama ketika dihadapkan pada bukti yang lebih kuat, semuanya bersumber dari pemahaman mendalam terhadap ayat ini. Mengikuti apa yang tidak berilmu berarti hidup dalam kegelapan dugaan, sementara mengikuti ilmu berarti berjalan di bawah cahaya wahyu dan akal yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta.

Oleh karena itu, Surat Al-Isra ayat 36 bukan sekadar larangan masa lalu, melainkan sebuah manifesto abadi yang memanggil setiap individu untuk bertanggung jawab atas cara mereka memperoleh dan memproses pengetahuan, memastikan bahwa setiap langkah yang diambil didasari oleh dasar yang kokoh, yakni 'ilmu.

🏠 Homepage