Surat Al-Maidah (Hidangan) merupakan surat ke-5 dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran hidup, hukum, dan kisah-kisah penting. Salah satu ayat yang sarat makna dan sering direnungkan umat Islam adalah ayat ke-173, yang membahas tentang tauhid (keesaan Allah) dan penolakan terhadap kesyirikan dalam bentuk apapun. Ayat ini menegaskan posisi tunggal Allah sebagai satu-satunya zat yang berhak disembah.
Pemahaman mendalam terhadap Surat Al-Maidah ayat 173 sangat krusial dalam memperkuat pondasi keimanan, terutama di tengah berbagai tantangan pemikiran yang berusaha mengaburkan konsep ketuhanan yang murni.
Ayat ini turun dalam konteks dakwah Nabi Muhammad SAW kepada Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) serta kaum musyrikin. Ayat ini memberikan dua opsi ekstrem bagi penerima dakwah, dan konsekuensinya masing-masing.
Frasa "فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُم بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا" (Maka jika mereka beriman seperti apa yang kamu imani, maka sungguh mereka telah mendapat petunjuk) menegaskan bahwa standar kebenaran dan petunjuk berada pada iman yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu iman yang murni kepada Allah (tauhid), kenabian, hari akhir, dan semua rukun iman lainnya. Iman yang sejati adalah titik temu keselamatan. Ketika seseorang menerima kebenaran ini, ia otomatis berada di jalan petunjuk yang lurus.
Sebaliknya, ayat melanjutkan dengan ancaman bagi mereka yang menolak: "وَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ" (dan jika mereka berpaling, maka sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan). Kata 'syikak' (شقَاق) berarti pertentangan, perpecahan, atau permusuhan mendalam. Penolakan terhadap kebenaran wahyu bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan penempatan diri dalam barisan yang berseberangan dengan kebenaran ilahi. Ini menunjukkan betapa seriusnya konsekuensi menolak dakwah tauhid.
Puncak penegasan ayat ini adalah janji perlindungan: "فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ" (Maka Allah akan melindungimu dari mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui). Ayat ini memberikan ketenangan bagi Rasulullah SAW dan umatnya. Ketika dakwah menghadapi penolakan yang keras, bahkan ancaman fisik atau pengkhianatan, Allah menjamin akan mencukupi keperluan dan membela hamba-Nya. Nama-nama Allah (As-Sami', Yang Maha Mendengar, dan Al-'Alim, Yang Maha Mengetahui) menjadi penekanan bahwa setiap ucapan dan niat jahat musuh tidak luput dari pengawasan-Nya.
Dalam konteks modern, pesan Al-Maidah 173 tetap relevan. Ayat ini mengingatkan umat Islam bahwa integritas akidah adalah harga mati. Tidak ada kompromi dalam pokok-pokok keimanan. Jika sebuah ajaran atau pemikiran bertentangan dengan wahyu, maka itu adalah jalan permusuhan, bukan jalan dialog yang setara. Bagi pendakwah, ayat ini mengajarkan bahwa meskipun harus berdakwah dengan sabar, namun tidak perlu gentar menghadapi perlawanan, karena pertolongan dan pengawasan penuh ada pada Allah SWT.