Kajian Mendalam Surat Al-Maidah Ayat 109

Surat Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak ayat penting yang mengatur berbagai aspek kehidupan umat Islam, mulai dari hukum, etika, hingga interaksi sosial dan politik. Salah satu ayat yang sering menjadi sorotan dalam konteks hubungan antarumat beragama adalah ayat ke-109.

Ayat ini secara khusus membahas tentang Hari Kumpul (Hari Kiamat) dan bagaimana Allah akan mengumpulkan para rasul-Nya untuk dimintai pertanggungjawaban atas penyampaian risalah mereka. Memahami konteks dan makna Al-Maidah ayat 109 adalah kunci untuk merefleksikan tanggung jawab kenabian dan keadilan ilahi.

Teks dan Terjemahan Al-Maidah Ayat 109

Berikut adalah teks asli ayat tersebut beserta terjemahan sederhananya:

يَوْمَ يَجْمَعُ ٱللَّهُ ٱلرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَآ أُجِبْتُمْ ۖ قَالُوا۟ لَا عِلْمَ لَنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّـٰمُ ٱلْغُيُوبِ
"(Ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan para rasul, lalu Dia bertanya kepada mereka: 'Apa jawaban (umatmu) terhadap (risalah) yang kalian sampaikan?' Mereka menjawab: 'Kami tidak mempunyai pengetahuan (tentang hal itu). Sesungguhnya Engkaulah Maha Mengetahui segala yang gaib.'"

Ayat ini menggambarkan sebuah momen krusial di hadapan Mahkamah Agung Ilahi. Ini bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi sebuah gambaran realitas akhirat yang menegaskan bahwa setiap pembawa pesan (rasul) akan dimintai pertanggungjawaban mengenai bagaimana risalah yang mereka bawa diterima dan direspons oleh kaumnya.

Konteks Pertanggungjawaban Para Rasul

Inti dari Al-Maidah ayat 109 adalah proses evaluasi universal. Allah SWT, sebagai Pemilik segala ilmu dan kekuasaan, akan menanyakan kepada setiap rasul, "Maa dzaa ujibtum?"—apa jawaban yang kalian terima (dari umat kalian)?

Respon para rasul sangat mendalam: "Laa 'ilma lanaa, innaka Anta 'Allamul-Ghuyuub." (Kami tidak punya pengetahuan, sesungguhnya Engkaulah Maha Mengetahui yang gaib). Jawaban ini menunjukkan beberapa hal penting:

  1. Keterbatasan Pengetahuan Rasul di Akhirat: Meskipun para rasul adalah manusia pilihan yang menerima wahyu, pengetahuan mereka tentang keadaan batin dan reaksi kolektif umat mereka setelah mereka wafat atau di saat penghakiman adalah terbatas.
  2. Pengakuan Supremasi Allah: Dengan mengakui bahwa hanya Allah yang Maha Mengetahui yang gaib (termasuk isi hati manusia), para rasul menegaskan kembali tauhid dan keesaan Allah sebagai satu-satunya sumber pengetahuan mutlak.
  3. Fokus pada Penyampaian, Bukan Hasil Mutlak: Pertanyaan ini lebih menekankan pada apakah risalah telah disampaikan dengan benar, bukan pada berapa banyak orang yang akhirnya beriman. Tugas nabi adalah menyampaikan, sementara hidayah sepenuhnya ada di tangan Allah.

Relevansi Ayat bagi Umat Islam Saat Ini

Meskipun ayat ini secara langsung berbicara kepada para rasul terdahulu, maknanya memiliki implikasi kuat bagi umat Nabi Muhammad SAW, sebagai umat penutup yang menerima risalah terakhir.

Tanggung Jawab Dakwah

Jika para rasul dimintai pertanggungjawaban atas penyampaian mereka, maka umat Nabi Muhammad, khususnya para ulama, dai, dan setiap Muslim yang mampu, memikul tanggung jawab untuk meneruskan risalah Islam. Kita akan ditanya tentang bagaimana kita menjalankan amanah amar ma'ruf nahi munkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran).

Ayat ini menjadi peringatan bahwa menyampaikan kebenaran adalah kewajiban, dan kita harus melakukannya dengan sebaik-baiknya, tanpa membebani diri dengan hasil akhir, karena hasil mutlak hanya Allah yang tahu. Hal ini mengajarkan kerendahan hati dan fokus pada proses penyampaian yang jujur dan berdasarkan petunjuk Ilahi.

Keadilan Ilahi yang Sempurna

Kesaksian para rasul di hari kiamat memastikan bahwa keputusan Allah adalah adil secara mutlak. Ketika para rasul menyatakan ketidaktahuan mereka tentang detail batin umatnya dan menyerahkan penilaian kepada Allah, ini mengukuhkan bahwa tidak ada keputusan yang diambil tanpa dasar pengetahuan yang sempurna.

Oleh karena itu, Surat Al-Maidah ayat 109 adalah pengingat akan seriusnya amanah risalah dan keharusan setiap Muslim untuk selalu memastikan bahwa tindakan dan perkataannya selaras dengan ajaran yang diwariskan oleh para nabi, yaitu Tauhid yang murni.

Simbol Kepercayaan dan Pertanggungjawaban

Renungan mendalam terhadap ayat ini mendorong umat Islam untuk senantiasa introspeksi diri, meningkatkan kualitas ibadah, dan bersemangat dalam menyebarkan kebaikan, mengingat bahwa pertanggungjawaban akhir akan segera tiba dan hanya Allah yang menjadi hakim tertinggi.

🏠 Homepage