Visualisasi konsep cahaya dan petunjuk dalam Al-Qur'an.
Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah surat Madaniyah yang kaya akan hukum-hukum syariat, kisah para nabi, dan peringatan penting bagi umat Islam. Ayat ke-16 ini merupakan salah satu ayat pembuka dalam rangkaian ayat yang menegaskan peran vital kenabian dan Al-Qur'an dalam membimbing umat manusia keluar dari kegelapan menuju kebenaran.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "نُوْرٌ" (Nurun/Cahaya) dan "كِتٰبٌ مُّبِيْنٌ" (Kitabun Mubin/Kitab yang jelas). Kedua elemen ini adalah anugerah terbesar yang diberikan Allah kepada umat manusia melalui Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ayat ini secara eksplisit menghubungkan kedatangan cahaya tersebut (yaitu Rasulullah) dengan kehadiran kitab suci (Al-Qur'an).
Cahaya dalam konteks ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi lebih merujuk kepada petunjuk spiritual dan kebenaran hakiki. Nabi Muhammad SAW adalah personifikasi dari cahaya tersebut. Beliau datang membawa ajaran yang menerangi hati manusia dari kebodohan, kesesatan, dan kegelapan syirik yang melanda Jazirah Arab kala itu. Sebelum Islam, banyak masyarakat hidup dalam kebingungan moral dan spiritual; Islam hadir sebagai pelita yang menunjukkan jalan yang benar menuju tauhid dan moralitas luhur. Cahaya ini menerangi akal, memurnikan jiwa, dan memberikan arah yang jelas dalam menjalani kehidupan duniawi.
"Kitabun Mubin" merujuk langsung kepada Al-Qur'anul Karim. Kata "Mubin" berarti terang, nyata, atau jelas. Kejelasan Al-Qur'an terletak pada kemampuannya memisahkan antara yang hak (benar) dan yang batil (salah). Hukum-hukum di dalamnya sangat rinci, ancaman dan janji-Nya sangat tegas, serta kisah-kisah di dalamnya berfungsi sebagai pelajaran yang mudah dipahami.
Al-Qur'an menjelaskan secara gamblang tentang hakikat Tuhan, tujuan penciptaan manusia, batasan-batasan moral, dan konsekuensi dari setiap perbuatan. Kejelasan ini menghilangkan keraguan yang seringkali muncul dalam pemikiran manusia yang tanpa bimbingan ilahi. Dengan adanya Al-Qur'an, manusia tidak lagi perlu menebak-nebak jalan mana yang diridai Allah.
Ayat ini menekankan bahwa petunjuk Allah datang dalam dua wujud yang saling melengkapi: Nabi sebagai pembawa dan penjelas (cahaya hidup), serta Al-Qur'an sebagai sumber hukum dan ajaran abadi (kitab yang jelas). Rasulullah SAW adalah penerjemah terbaik bagi isi Al-Qur'an. Tanpa bimbingan Rasul, memahami kedalaman dan implementasi praktis dari ayat-ayat Al-Qur'an akan menjadi sulit. Sebaliknya, Al-Qur'anlah yang meneguhkan kerasulan dan menjaga kemurnian ajaran yang dibawa Nabi. Keduanya bekerja sinergis untuk memandu umat manusia.
Setelah Allah menganugerahkan "cahaya dan kitab yang jelas" ini, konsekuensinya adalah manusia dituntut untuk beriman dan mengikutinya. Barangsiapa yang menerima cahaya dan kitab ini, mereka akan memperoleh petunjuk menuju jalan keselamatan, yaitu surga Allah. Sebaliknya, menolak petunjuk ini berarti memilih untuk tetap berada dalam kegelapan kesesatan, yang berujung pada kerugian abadi.
Kajian surat Al-Maidah ayat 16 mengingatkan kita betapa berharganya nikmat Islam. Kita harus bersyukur atas kehadiran Rasulullah dan Al-Qur'an, serta berkomitmen untuk terus mempelajari dan mengamalkan isinya. Karena sesungguhnya, hanya dengan cahaya dan kitab yang jelas inilah hati dapat menemukan ketenangan hakiki dan tujuan hidup yang sesungguhnya.
Renungan ini berdasarkan pemahaman umum tafsir Al-Qur'an.