Islam adalah agama yang sangat menekankan pentingnya keadilan, kejujuran, dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan yang merusak tatanan sosial maupun spiritual. Salah satu landasan kuat yang membahas hal ini dapat kita temukan dalam Kitab Suci Al-Qur'an, khususnya pada Surat Al-Ma'idah ayat 90. Ayat ini seringkali dikutip sebagai peringatan keras terhadap perbuatan yang tampak remeh namun memiliki konsekuensi dosa yang besar.
Teks dan Terjemahan Surat Al-Ma'idah Ayat 90
Empat Pilar Larangan dalam Ayat
Ayat 90 Al-Ma'idah ini memberikan penekanan yang luar biasa tegas dengan mengumpulkan empat kategori perbuatan maksiat yang berakar pada godaan setan. Ayat ini tidak sekadar melarang, tetapi juga memberikan justifikasi (‘rijsun min ‘amalisy syaithan’ - najis dari perbuatan setan) serta konsekuensi yang jelas (agar kamu mendapat keberuntungan).
1. Khamr (Minuman Keras)
Khamr mencakup segala sesuatu yang memabukkan akal dan menghilangkan kesadaran. Larangan ini mencakup produksi, penjualan, hingga konsumsi. Dampak buruknya tidak hanya pada fisik peminumnya, tetapi juga pada rusaknya tatanan keluarga dan masyarakat akibat hilangnya kendali diri.
2. Maysir (Judi)
Judi adalah segala bentuk pertaruhan yang melibatkan uang atau harta benda tanpa adanya upaya kerja nyata. Maysir menimbulkan sifat malas, ketamakan, dan permusuhan antar sesama. Keuntungan yang didapat bersifat ilusi dan seringkali membawa kerugian besar bagi banyak pihak.
3. Anshab (Berhala/Sesembahan Selain Allah)
Anshab merujuk pada batu-batu atau benda-benda yang didirikan untuk disembah selain Allah SWT. Ini adalah pelanggaran paling serius dalam tauhid, yaitu menyekutukan Allah (syirik). Ayat ini menempatkannya setara dengan keburukan lainnya dalam hal menjauhkan dari rahmat Allah.
4. Azlam (Undian Berjanji/Perjudian)
Azlam adalah alat undian yang digunakan untuk menentukan nasib atau keputusan, seringkali dilakukan dengan cara yang menyerupai judi. Ini merusak konsep usaha dan tawakal yang benar kepada Allah, karena menyerahkan keputusan kepada alat atau kebetulan.
Keberuntungan (Al-Falah) Sebagai Tujuan
Poin krusial dari ayat ini terletak pada perintah terakhir: "Fajtanibuhu la'allakum tuflihun" (maka jauhilah itu agar kamu mendapat keberuntungan). Kata 'jauhi' (ijtanibuh) dalam bahasa Arab memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar 'jangan lakukan'. Ini berarti menjauhi segala hal yang dapat mendekatkan kepada perbuatan tersebut.
Keberuntungan (Al-Falah) yang dijanjikan bukanlah keberuntungan duniawi sesaat, melainkan keberuntungan hakiki yang meliputi keselamatan dunia akhirat. Bagaimana mungkin seseorang bisa mencapai keberuntungan hakiki jika ia terus-menerus tenggelam dalam perbuatan yang dikategorikan sebagai 'perbuatan setan' dan 'najis'? Ayat ini secara logis mengajarkan bahwa kesucian spiritual dan keberhasilan sejati hanya dapat dicapai dengan membersihkan diri dari noda-noda tersebut.
Relevansi Kontemporer
Meskipun konteks historis ayat ini sangat spesifik mengenai khamr dan berhala fisik, prinsipnya berlaku universal hingga akhir zaman. Dalam konteks modern, para ulama seringkali meluaskan makna 'khamr' hingga mencakup segala zat adiktif yang memabukkan. Sementara 'maysir' bisa direfleksikan pada skema investasi cepat untung yang berisiko tinggi tanpa dasar syariat, atau bentuk-bentuk lotere modern.
Inti dari Surat Al-Ma'idah ayat 90 adalah sebuah filter moral. Ia membantu seorang Mukmin membedakan mana jalan yang mengantarkan kepada kebahagiaan sejati (Falah) dan mana jalan yang merupakan jebakan setan yang justru menjauhkan dari ketenangan batin dan ridha Ilahi. Menjauhi hal-hal yang dilarang ini adalah fondasi pertama membangun kehidupan yang diridhai Allah.