Menggali Kedalaman Surat Al-Maidah Ayat 104: Ketaatan dan Peringatan

I T Kebenaran Ilahi Ilustrasi visualisasi petunjuk agama

Surat Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak sekali ajaran fundamental mengenai hukum, etika, dan hubungan sosial dalam Islam. Salah satu ayat yang sering menjadi fokus kajian para ulama adalah **Surat Al-Maidah ayat 104**. Ayat ini berbicara secara spesifik mengenai tanggung jawab umat dalam merespons ajakan menuju kebaikan dan menjauhi larangan agama.

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: 'Marilah kamu (untuk taat) kepada apa yang telah diturunkan Allah dan (marilah kamu) kepada Rasul', mereka menjawab: 'Cukuplah bagi kami ajaran yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya.' Apakah (kamu akan mengikuti nenek moyangmu) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?" (QS. Al-Maidah: 104)

Konteks Historis dan Pesan Utama

Ayat 104 ini diturunkan dalam konteks di mana masih banyak kalangan, khususnya kaum musyrikin atau mereka yang mengikuti tradisi buta, menolak untuk tunduk pada ajaran baru yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ. Penolakan mereka sering kali didasarkan pada prinsip taqlid buta—mengikuti tradisi leluhur tanpa mau menimbang kebenaran atau kesesuaiannya dengan wahyu Ilahi.

Pesan utama dari ayat ini adalah penegasan bahwa kebenaran sejati harus dicari melalui sumber yang sahih, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah (apa yang diturunkan Allah dan kepada Rasul-Nya), bukan semata-mata berdasarkan adat istiadat lama. Allah subhanahu wa ta'ala melalui ayat ini memberikan teguran keras kepada mereka yang berpegang teguh pada tradisi yang bertentangan dengan petunjuk ilahi, terutama jika tradisi tersebut didasarkan pada kebodohan atau kesesatan.

Prinsip Penolakan Terhadap Tradisi Buta

Ayat Al-Maidah ayat 104 secara tegas membatalkan argumen "kami hanya mengikuti nenek moyang kami". Dalam Islam, warisan budaya dan tradisi harus selalu disaring melalui timbangan syariat. Jika suatu tradisi bertentangan dengan prinsip tauhid, keadilan, atau akhlak mulia yang diajarkan dalam Al-Qur'an, maka tradisi tersebut harus ditinggalkan.

Poin krusial yang ditekankan adalah kondisi para nenek moyang tersebut: "walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?". Hal ini menunjukkan bahwa warisan tanpa landasan pengetahuan dan tanpa petunjuk (wahyu) adalah warisan yang kosong dan berpotensi menyesatkan. Keimanan dan ketaatan harus bersifat aktif dan rasional, bukan pasif dan otomatis. Setiap individu bertanggung jawab atas pilihan spiritualnya, terlepas dari bagaimana mayoritas atau leluhurnya bertindak.

Implikasi Kontemporer

Relevansi Surat Al-Maidah ayat 104 tidak lekang oleh waktu. Dalam era modern, tantangan ini muncul dalam berbagai bentuk: mengikuti tren sosial tanpa berpikir kritis, mengabaikan nilai-nilai agama demi mengikuti arus globalisasi yang meragukan, atau bahkan mempertahankan praktik keagamaan yang sudah kehilangan konteks spiritualnya karena hanya dianggap sebagai formalitas warisan.

Ayat ini mendorong umat Islam untuk senantiasa melakukan evaluasi diri (muhasabah) dan memastikan bahwa landasan hidup, keputusan, dan ibadah kita bersumber langsung dari ajaran yang telah Allah ridhai. Ini adalah panggilan untuk menjadi komunitas yang berpegang pada kebenaran yang jelas, bukan sekadar mengikuti mayoritas yang mungkin sedang dalam kesesatan.

Tafsir mendalam ayat ini memberikan semangat untuk menjadi muslim yang cerdas, yang menempatkan wahyu di atas segala bentuk tradisi atau pandangan manusiawi yang tidak berlandaskan ilmu yang benar. Ketaatan sejati adalah ketaatan yang didasari pemahaman dan kesadaran penuh akan kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ.

🏠 Homepage