Memahami Surat Al-Ma'idah Ayat 107: Kesaksian dan Kebenaran

Kebenaran Keadilan Kesaksian yang Jujur

Surat Al-Ma'idah (Hidangan) merupakan salah satu surat Madaniyah dalam Al-Qur'an yang kaya akan ajaran hukum, etika, dan muamalah. Di antara ayat-ayat penting di dalamnya, terdapat ayat ke-107 yang memberikan penekanan kuat pada pentingnya kesaksian yang adil dan kejujuran dalam persaksian.

وَإِذَا جَآءُوا۟ لَكَ حَسِبُوا۟ أَنَّهُمُ ٱلَّذِينَ يَحْلِفُونَ بِٱللَّهِ ۙ إِنِ ٱبْتَغَوْنَآ إِلَّا حُسْنَىٰ وَرِضْوَٰنًا ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَٰذِبُونَ

Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka bersumpah dengan nama Allah bahwa sesungguhnya maksud mereka tidak lain kecuali untuk berbuat baik dan memperoleh keredhaan-Nya. Katakanlah: "Janganlah kamu bersumpah." Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(QS. Al-Ma'idah: 107)

Konteks Turun dan Permasalahan yang Disoroti

Ayat 107 ini sering dikaitkan dengan konteks di mana sekelompok orang munafik atau orang yang memiliki niat tersembunyi berusaha mendekati Rasulullah SAW dengan menunjukkan kesalehan lahiriah. Mereka mengucapkan sumpah palsu atas nama Allah, mengklaim bahwa tujuan mereka hanyalah kebaikan (*husna*) dan mencari keridhaan Allah. Namun, Allah SWT menegaskan melalui ayat ini bahwa Dia Maha Mengetahui niat tersembunyi mereka yang sebenarnya kontradiktif dengan ucapan mereka.

Pesan sentral dari ayat ini adalah peringatan keras terhadap kemunafikan dan sumpah palsu. Dalam Islam, sumpah atas nama Allah adalah perkara yang sangat serius. Menggunakan nama suci Tuhan untuk membenarkan kebohongan atau untuk mencapai kepentingan duniawi adalah dosa besar yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Ayat ini secara implisit menguji kejujuran hati manusia, yang tidak dapat disembunyikan dari pandangan Ilahi.

Larangan Bersumpah yang Tidak Perlu

Perhatikanlah bagaimana Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menjawab mereka: "Katakanlah: 'Janganlah kamu bersumpah.'" Ini bukan sekadar penolakan terhadap sumpah mereka saat itu, tetapi juga sebuah prinsip umum. Dalam beberapa tafsir, hal ini diartikan sebagai larangan untuk terlalu sering bersumpah dalam urusan remeh-temeh atau sebagai alat manipulasi. Jika seseorang terbiasa bersumpah untuk setiap perkataan, maka ketika ia benar-benar bersumpah atas kebenaran, sumpah tersebut kehilangan bobotnya di mata orang lain, apalagi di hadapan Allah.

Ayat ini mendorong umat Islam untuk hidup dalam kejujuran sejati sehingga mereka tidak perlu terus-menerus mengandalkan sumpah untuk meyakinkan orang lain. Tindakan nyata dan konsistensi dalam perkataan dan perbuatan jauh lebih bernilai daripada sumpah yang diucapkan dengan lisan namun bertentangan dengan hati.

Pentingnya Introspeksi Diri (Muhasabah)

Salah satu pelajaran terpenting yang dapat kita ambil dari Surat Al-Ma'idah ayat 107 adalah pentingnya introspeksi diri (*muhasabah*). Karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang kita kerjakan, kita harus selalu sadar bahwa tidak ada satu pun niat atau perbuatan yang tersembunyi dari-Nya. Hal ini seharusnya memotivasi seorang mukmin untuk:

Perbedaan Antara Niat dan Perbuatan

Ayat ini menggarisbawahi bahwa klaim verbal tidak cukup jika tidak didukung oleh bukti empiris atau konsistensi perilaku. Orang-orang yang disinggung dalam ayat ini mungkin pandai merangkai kata dan tampak meyakinkan di hadapan manusia, tetapi bagi Allah, penipuan tersebut sudah terbongkar. Allah melihat inti permasalahannya.

Tafsir klasik sering menyebutkan bahwa ayat ini mengingatkan kita bahwa standar penilaian Allah berbeda dengan standar penilaian manusia. Manusia mungkin tertipu oleh penampilan luar, kesalehan yang diperagakan, atau janji manis yang diucapkan dengan sumpah. Namun, Allah tidak pernah tertipu. Ayat ini menjadi pengingat abadi bahwa integritas sejati terletak pada keselarasan antara apa yang diyakini hati, apa yang diucapkan lisan, dan apa yang dilakukan oleh anggota tubuh.

Dengan demikian, Al-Ma'idah ayat 107 mengajarkan kita untuk hidup transparan di hadapan Tuhan, menjauhi kemunafikan, dan selalu menjaga kesucian nama Allah dari penggunaan yang tidak semestinya demi keuntungan duniawi sesaat.

🏠 Homepage