Keadilan dan Ingatlah Nikmat Allah Ilustrasi Keadilan dan Persaudaraan

Memahami Surat Al-Maidah Ayat 11 Hingga 20

Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah surat Madaniyah yang kaya akan ajaran hukum, etika sosial, dan sejarah kenabian. Ayat 11 hingga 20 secara khusus memuat seruan penting bagi umat Islam untuk senantiasa mengingat janji Allah, menjaga keadilan, dan mengambil pelajaran dari umat terdahulu. Bagian ini menjadi landasan kuat dalam pembentukan karakter muslim yang bertanggung jawab dan adil.

Peringatan Atas Janji dan Kejahatan (Ayat 11-13)

Ayat-ayat pembuka dalam rentang ini dimulai dengan pengingat tegas mengenai pentingnya menepati janji, khususnya janji Allah kepada hamba-Nya. Allah mengingatkan kaum mukminin agar selalu waspada terhadap tipu daya setan yang seringkali memalingkan manusia dari jalan kebenaran setelah mereka mendapatkan karunia Ilahi.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ هَمَّ قَوْمٌ أَنْ يَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
(11) Hai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika kaum-kaum mencoba menghulurkan tangan mereka kepadamu, lalu Allah menahan tangan mereka darimu. Bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah-lah orang-orang yang beriman itu bertawakal.

Ayat 11 ini adalah pelajaran langsung mengenai pertolongan Allah saat kaum mukminin berada dalam ancaman bahaya besar. Kepercayaan penuh (tawakal) kepada Allah menjadi benteng utama. Ayat selanjutnya (12-13) menegaskan konsekuensi dari pengkhianatan perjanjian yang dilakukan oleh Bani Israil, menunjukkan bahwa pelanggaran perjanjian akan berakibat pada hilangnya keberkahan dan kerasnya hati.

Keadilan Sebagai Fondasi Agama (Ayat 14-17)

Salah satu tema sentral dalam Al-Maidah adalah penekanan absolut pada tegaknya keadilan, bahkan jika harus berhadapan dengan permusuhan.

وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۖ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ اللَّهُ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
(14) Dan dari orang-orang yang berkata, "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani", Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka melupakan sebahagian dari peringatan yang diberikan kepada mereka, maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.

Ayat 15 mengibaratkan Al-Qur'an sebagai cahaya terang. Sementara itu, ayat 16 menekankan bahwa petunjuk Allah adalah keselamatan. Namun, yang paling fundamental adalah perintah keadilan dalam konteks sosial, sebagaimana termaktub dalam ayat 17, yang menyatakan bahwa kemurkaan Allah akan menimpa mereka yang tidak mau membela kebenaran karena rasa takut atau kebencian terhadap suatu kaum.

Poin Kunci: Keimanan sejati tidak terlepas dari komitmen teguh pada keadilan, tanpa memandang afiliasi kelompok siapa pun.

Respons Terhadap Tantangan Keimanan (Ayat 18-20)

Ayat 18 membuka diskusi mengenai status Yahudi dan Nasrani, mengakui bahwa di antara mereka terdapat umat yang lurus, namun mayoritas telah menyimpang dan enggan menerima kebenaran final dari Nabi Muhammad SAW.

Ayat 19 menjadi seruan penutup era kenabian sebelumnya: "Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kalian Rasul Kami, menjelaskan kepada kalian syariat Kami di antara terputusnya para Rasul, agar kalian tidak mengatakan: 'Tidak ada datang kepada kami pemberi kabar gembira dan peringatan.' Sekarang telah datang kepada kalian pemberi kabar gembira dan peringatan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Ayat 20 merupakan penutup segmen ini dengan penekanan pada janji surga yang akan diperoleh melalui ketaatan total.

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَسْتُمْ عَلَىٰ شَيْءٍ حَتَّىٰ تُقِيمُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ ۗ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا ۖ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
(18) Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak akan menyempurnakan agamamu sehingga kamu menegakkan (hukum) Taurat, Injil dan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Al-Qur'an) dari Tuhanmu akan menambah kebanyakan dari mereka kedurhakaan dan kekafiran. Maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.

Refleksi Akhir

Secara keseluruhan, rentang ayat 11 hingga 20 Surat Al-Maidah ini berfungsi sebagai fondasi moral dan etika. Ayat-ayat ini menuntut umat Islam untuk waspada terhadap janji-janji duniawi yang dapat memalingkan dari janji Ilahi. Lebih jauh lagi, ia menuntut keberanian moral untuk menegakkan keadilan di tengah tekanan sosial, serta kesiapan untuk menerima kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai puncak risalah. Mengingat nikmat Allah, memegang teguh janji, dan konsisten dalam berlaku adil adalah inti pelajaran yang harus selalu dihidupi oleh setiap mukmin.

Semoga kita senantiasa menjadi hamba yang menepati janji dan menegakkan keadilan sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur'an.

🏠 Homepage