Surat Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak ayat penting mengenai hukum, etika, dan perjanjian. Dua ayat yang sangat relevan dalam konteks hubungan sosial dan spiritual adalah ayat 12 dan 13. Ayat-ayat ini mengingatkan umat Islam tentang pentingnya menepati janji dan konsekuensi dari pelanggaran perjanjian tersebut.
Surat Al-Maidah Ayat 12
Kandungan Ayat 12
Ayat ini mengawali dengan penegasan bahwa Allah telah mengambil perjanjian (mīthāq) yang kuat dari Bani Israil. Perjanjian ini diperkuat dengan diutusnya 12 orang pemimpin (naqīb) yang bertugas mengawasi pelaksanaan perjanjian tersebut. Inti dari perjanjian ini adalah serangkaian kewajiban spiritual dan sosial yang jika dipenuhi, akan diikuti dengan janji balasan berupa rahmat dan surga dari Allah.
Kewajiban yang ditekankan meliputi: mendirikan salat (hubungan vertikal dengan Allah), menunaikan zakat (hubungan horizontal dengan sesama), beriman kepada para rasul Allah, menghormati dan mendukung para rasul tersebut, serta memberikan "pinjaman yang baik" kepada Allah. Pinjaman yang baik di sini sering diartikan sebagai sedekah atau infak di jalan Allah. Jika semua ini dipenuhi, Allah berjanji akan menghapuskan dosa-dosa kecil dan memberikan ganjaran berupa surga yang dialiri sungai-sungai.
Namun, ayat ini diakhiri dengan peringatan keras: siapa pun yang mengingkari janji setelah menerima ikrar tersebut, berarti ia telah sesat dari jalan yang lurus. Ini menunjukkan betapa seriusnya Allah memandang perjanjian dan amanah yang telah diberikan.
Surat Al-Maidah Ayat 13
Kandungan Ayat 13
Ayat ini menjelaskan konsekuensi langsung dari pelanggaran perjanjian yang disebutkan pada ayat sebelumnya. Allah mengutuk Bani Israil karena melanggar janji tersebut, dan sebagai akibatnya, hati mereka menjadi keras.
Kekerasan hati ini termanifestasi dalam beberapa bentuk, yang paling nyata adalah tindakan "mengubah-ubah kalimat dari tempat-tempatnya." Ini merujuk pada praktik penafsiran ulang atau pemalsuan ayat-ayat suci yang bertentangan dengan kebenaran yang mereka terima. Selain itu, mereka juga melupakan sebagian besar ajaran yang telah diperingatkan kepada mereka. Kesalahan fatal ini membuat mereka jauh dari petunjuk Allah.
Ayat ini juga mengandung pesan kepada Nabi Muhammad SAW mengenai sikap terhadap pengkhianatan yang terus-menerus mereka lakukan. Allah memberitahu bahwa pengkhianatan akan terus terjadi dari mayoritas mereka, kecuali segelintir yang tetap teguh. Meskipun demikian, Nabi diperintahkan untuk memaafkan dan berpaling dari kesalahan mereka, karena Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan).
Pelajaran Penting dari Al-Maidah Ayat 12-13
Kedua ayat ini memberikan pelajaran universal tentang pentingnya menjaga amanah dan perjanjian, baik perjanjian dengan Tuhan maupun antar sesama manusia. Ketaatan pada perintah Allah (salat, zakat, keimanan) adalah kunci keberkahan dan rahmat. Sebaliknya, pengkhianatan terhadap janji akan membawa konsekuensi berupa kekerasan hati, penyimpangan dari kebenaran, dan kutukan ilahi.
Bagi umat Islam, ayat ini mengingatkan bahwa setiap ikrar dan janji yang kita buat, terutama janji iman dan ketaatan kepada syariat, harus ditepati. Sikap memaafkan dan berbuat baik (ihsan) kepada mereka yang bersalah, meskipun mereka sering mengkhianati, adalah manifestasi tertinggi dari akhlak yang dicintai Allah, sambil tetap waspada terhadap kecenderungan pengkhianatan.