QS. Al-Ma'idah 111-120

Ilham dari petunjuk Ilahi

Refleksi Mendalam: Surat Al-Ma'idah Ayat 111 hingga 120

Surat Al-Ma'idah, yang berarti "Hidangan," adalah surat Madaniyah yang kaya akan makna, hukum, dan kisah-kisah penting dalam sejarah kenabian. Bagian akhir dari surat ini, khususnya ayat 111 hingga 120, mengandung dialog ilahi yang menguatkan posisi kenabian Nabi Muhammad SAW, serta mengingatkan kaum beriman tentang tanggung jawab mereka dan akhir dari segala urusan. Mempelajari ayat-ayat ini bukan sekadar membaca teks, melainkan meresapi janji dan peringatan yang terkandung di dalamnya.

Konfirmasi Wahyu dan Keimanan Para Hawariyyin

Ayat 111 dimulai dengan konfirmasi dari Allah kepada Nabi Musa tentang pewahyuan-Nya. Allah memerintahkan Nabi Musa agar umatnya bertawakal kepada-Nya setelah wahyu tersebut disampaikan. Ini adalah penekanan mendasar bahwa setelah petunjuk datang, satu-satunya respons yang benar adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan.

"Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada kaum Hawariyyin (sahabat-sahabat setia Nabi Isa), 'Berimanlah kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku (Isa)!' Mereka menjawab, 'Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri (muslimin).'" (QS. Al-Ma'idah: 111)

Ayat ini menunjukkan contoh sempurna dari keyakinan yang tak tergoyahkan. Para Hawariyyin, meskipun hidup di bawah bayang-bayang tekanan, memilih untuk segera menerima kebenaran yang diwahyukan melalui Nabi Isa AS. Ketegasan mereka menjadi teladan bagi umat Islam di masa kini: ketika kebenaran datang, penerimaan haruslah total dan tanpa keraguan.

Permintaan Hidangan dan Kekuatan Iman

Melanjutkan kisah Nabi Isa AS, ayat 112 hingga 115 menceritakan permintaan kaum Hawariyyin untuk diturunkannya hidangan dari langit (Al-Ma'idah) sebagai mukjizat penambah keyakinan. Permintaan ini menunjukkan adanya kerentanan manusiawi, bahkan pada orang-orang yang saleh, yang terkadang membutuhkan bukti fisik untuk menguatkan hati mereka.

Setelah mukjizat itu terjadi, Allah menegaskan konsekuensinya. Ayat 115 menyebutkan bahwa barangsiapa di antara mereka yang kafir setelah mukjizat itu, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Dia timpakan kepada seorang pun dari seluruh umat manusia. Peringatan keras ini menggarisbawahi betapa seriusnya mengingkari bukti nyata dari keesaan Allah.

Kedudukan Nabi Muhammad SAW dan Masa Depan Umat

Fokus kemudian beralih kepada kedudukan tertinggi Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi. Ayat 116-117 adalah dialog penting antara Allah dan Nabi Isa AS pada hari kiamat. Allah bertanya kepada Isa apakah dia pernah memerintahkan manusia untuk menyembah dirinya dan ibunya selain Allah. Jawaban Nabi Isa AS tegas dan penuh kepasrahan:

"Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, apakah engkau yang mengatakan kepada manusia, "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah"?' Isa menjawab, 'Maha Suci Engkau! Tidak patut bagiku mengucapkan apa yang tidak berhak aku katakan. Jika aku mengatakannya, tentulah Engkau sudah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Mengetahui segala yang gaib.'" (QS. Al-Ma'idah: 116)

Penegasan ini membersihkan segala kesalahpahaman atau penyimpangan akidah yang mungkin terjadi setelah wafatnya para nabi. Bagi umat Islam, ayat ini memperkuat prinsip dasar tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW: tidak ada yang berhak disembah selain Allah.

Kekuasaan Mutlak Allah dan Hari Penghisaban

Ayat-ayat penutup (118-120) mengukuhkan kekuasaan Allah yang meliputi seluruh alam semesta, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Ayat 118 memuat doa Nabi Isa AS, memohon agar Allah mengampuni kaumnya yang tetap beriman, jika memang itu kehendak-Nya. Ini menunjukkan kasih sayang seorang nabi yang bahkan mendoakan umatnya hingga akhir zaman.

Ayat 120 mengakhiri rangkaian ini dengan pernyataan otoritas absolut Allah. Langit, bumi, dan segala isinya berada dalam genggaman-Nya. Segala urusan kembali kepada-Nya. Hal ini memberikan ketenangan bagi mukmin bahwa meskipun dunia penuh gejolak, kendali tertinggi ada di tangan Sang Pencipta. Pemahaman ini mendorong seorang Muslim untuk hidup penuh tanggung jawab, menyadari bahwa setiap tindakan akan dihisab di hadapan Yang Maha Kuasa.

🏠 Homepage