Kekuasaan Mutlak di Tangan Allah Ilustrasi timbangan keadilan di bawah cahaya ilahi, melambangkan penghakiman mutlak Allah SWT.

Makna Mendalam Surat Al-Maidah Ayat 118

Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan hukum, kisah, dan pedoman moralitas. Di antara ayat-ayatnya yang sarat hikmah, terdapat ayat 118 yang seringkali menjadi titik fokus dalam pembahasan mengenai kekuasaan dan intervensi ilahi. Ayat ini menggambarkan puncak dari dialog antara Allah SWT dengan Nabi Isa AS pada hari kiamat.

Teks dan Terjemahan Surat Al-Maidah Ayat 118

Ayat ini secara spesifik merangkum respon Allah ketika bertanya kepada Nabi Isa tentang klaim bahwa beliau memerintahkan manusia untuk menjadikan beliau dan ibu-Nya sebagai dua tuhan selain Allah.

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"(Ya Tuhan), jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu; dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Konteks Penurunan dan Kisah Hari Kiamat

Untuk memahami kedalaman ayat 118, kita harus melihat konteks ayat-ayat sebelumnya (Al-Maidah 116-117). Ayat-ayat ini menceritakan sebuah dialog dahsyat pada hari penghakiman. Allah bertanya kepada Nabi Isa bin Maryam: "Apakah engkau yang mengatakan kepada manusia: 'Jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah'?"

Nabi Isa AS dengan tegas menjawab penolakan (Al-Maidah: 116), menyatakan bahwa ia hanya menyampaikan perintah Allah, dan klaim tersebut adalah kebohongan besar yang dibuat oleh kaumnya setelah Nabi Isa diangkat ke langit. Ayat 118 adalah kelanjutan dari jawaban Nabi Isa yang menunjukkan puncak kerendahan hati, pengakuan mutlak atas kekuasaan Allah, dan penyerahan total nasib umatnya.

Penyerahan Total kepada Kehendak Allah

Pernyataan Nabi Isa dalam ayat 118 mengandung beberapa poin teologis yang sangat penting. Bagian pertama, "Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu," menunjukkan pengakuan bahwa semua manusia—bahkan mereka yang telah menyimpang—tetap berada di bawah kekuasaan dan kepemilikan penuh Allah. Tidak ada yang mampu menentang kehendak-Nya dalam menghukum. Ini adalah pengakuan bahwa Allah adalah Hakim yang adil dan tidak seorang pun bisa mengajukan keberatan atas keputusan-Nya.

Bagian kedua, "dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana," adalah permohonan yang didasari oleh pemahaman tentang dua sifat utama Allah yang relevan dalam konteks pengampunan: Al-Aziz (Maha Perkasa) dan Al-Hakim (Maha Bijaksana).

Al-Aziz (Maha Perkasa) di sini menekankan bahwa pengampunan yang diberikan Allah bukanlah tanda kelemahan, melainkan manifestasi dari kekuatan-Nya yang tak terbatas. Allah memiliki kekuatan penuh untuk menghukum, tetapi memilih untuk mengampuni berdasarkan kemahabijaksanaan-Nya. Pengampunan datang dari sumber kekuatan tertinggi.

Sementara itu, Al-Hakim (Maha Bijaksana) menegaskan bahwa keputusan Allah—baik itu memberi rahmat maupun menahan rahmat—selalu didasarkan pada hikmah yang sempurna dan tidak pernah bertentangan dengan keadilan. Nabi Isa memahami bahwa nasib umatnya berada di tangan Dzat yang paling mengetahui apa yang terbaik.

Implikasi Teologis dari Surat Al-Maidah Ayat 118

Ayat ini memberikan pelajaran mendalam bagi umat Islam, khususnya dalam menyikapi masalah dosa dan rahmat:

  1. Tauhid yang Murni: Dialog ini adalah penegasan kembali tauhid. Nabi Isa, seorang utusan besar, menjauhkan diri dari segala bentuk pemujaan yang keliru dan mengembalikan semua otoritas, termasuk otoritas menghakimi, hanya kepada Allah.
  2. Harapan dalam Rahmat: Meskipun mengakui keadilan hukuman, penutup ayat dengan menyebut sifat Al-Aziz dan Al-Hakim memberikan harapan bahwa pengampunan Allah adalah mungkin, karena pengampunan-Nya adalah tindakan Dzat yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana, bukan tindakan yang dilakukan karena ketidakmampuan untuk menghukum.
  3. Posisi Seorang Nabi: Ayat ini menunjukkan etika seorang nabi di hadapan Tuhannya. Nabi Isa tidak menuntut pembebasan untuk umatnya, tetapi menyerahkan keputusan akhir sepenuhnya kepada kehendak Allah, menunjukkan ketundukan tertinggi.

Oleh karena itu, Surat Al-Maidah ayat 118 adalah pengingat abadi bahwa di akhirat, semua urusan akan dikembalikan kepada Yang Memiliki Kekuasaan Mutlak. Keputusan akhir mengenai siapa yang berhak menerima surga dan siapa yang harus menerima azab, sepenuhnya berada di tangan Allah SWT, Dzat yang Maha Perkasa yang keputusannya selalu dilandasi kebijaksanaan yang tak tertandingi.

Memahami ayat ini mendorong kita untuk selalu memohon ampunan dengan penuh harap kepada Allah, sembari menyadari bahwa kedaulatan tertinggi dan hak menghakimi hanya milik-Nya seorang.

🏠 Homepage