Surat Al-Ma'idah, surat kelima dalam Al-Qur'an, menyimpan banyak sekali ayat penting mengenai akidah, hukum, dan pedoman hidup seorang Muslim. Salah satu ayat yang memiliki signifikansi besar dalam konteks pengadilan dan hari kiamat adalah Surat Al-Ma'idah ayat 119.
Ayat ini secara khusus menyoroti dialog antara Allah SWT dengan para nabi di akhirat kelak, sebuah pengingat kuat akan pertanggungjawaban mutlak atas semua perbuatan yang dilakukan di dunia. Memahami konteks dan makna ayat ini membantu kita untuk senantiasa berlaku adil dan jujur.
Berikut adalah lafal ayat suci tersebut dalam bahasa Arab, diikuti dengan terjemahan bahasa Indonesianya:
Ayat ini merupakan penutup dari rangkaian pembahasan mengenai hari penghisaban dan dialog antara Allah dengan Nabi Isa bin Maryam. Fokus utamanya adalah pada nilai kejujuran dan dampaknya pada kebahagiaan abadi.
Ayat ini membuka lembaran baru dalam pemahaman kita mengenai konsep pahala dan balasan ilahi. Kata kunci utama dalam Surat Al-Ma'idah ayat 119 dan artinya adalah frasa "يَوْمُ يَنفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ" (hari di mana kejujuran orang-orang yang jujur mendapat manfaat).
Hari yang dimaksud adalah Hari Kiamat. Pada hari itu, semua tipu muslihat duniawi akan lenyap. Tidak ada lagi kesempatan untuk beralasan atau menyembunyikan kebenaran. Hanya kejujuran (Shidq) yang tulus—baik dalam ucapan, perbuatan, maupun niat hati—yang akan diperhitungkan dan memberikan keuntungan hakiki.
Kejujuran di sini bukan sekadar tidak berbohong, tetapi mencakup konsistensi antara apa yang diyakini (iman), apa yang diucapkan (syahadat), dan apa yang diamalkan (amal saleh). Orang yang selama hidupnya konsisten dalam kebenaran, di hari itu mereka tidak akan merasa khawatir.
Keuntungan yang diberikan kepada orang-orang jujur sangatlah substansial: "bagi mereka adalah surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." Ini adalah janji tertinggi dalam Islam. Surga digambarkan dengan kenikmatan yang tidak pernah terputus. Keabadian (kekal di dalamnya) menunjukkan bahwa kenikmatan tersebut melampaui batas waktu dan ruang yang kita kenal.
Ayat ditutup dengan penegasan, "ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ" (Itulah kemenangan yang agung). Kemenangan terbesar bukanlah keberhasilan duniawi—kekuasaan, kekayaan, atau ketenaran—tetapi keberhasilan meraih keridhaan Allah dan mendapatkan tempat tertinggi di surga-Nya.
Ayat ini menjadi motivasi kuat bagi kita untuk menanamkan nilai kejujuran sejak dini. Dalam konteks sosial dan personal, kejujuran membangun kepercayaan. Dalam konteks spiritual, kejujuran adalah pondasi iman yang kokoh. Ketika dunia menguji integritas kita dengan godaan kemudahan yang dibangun atas kebohongan, ayat ini mengingatkan bahwa kenikmatan sesaat itu tidak sebanding dengan "Kemenangan yang Agung" di akhirat yang hanya diberikan kepada orang-orang yang jujur.
Pengutamaan kejujuran (sidq) oleh Allah SWT menunjukkan bahwa kualitas batiniah seorang hamba jauh lebih penting daripada penampilan luarnya. Ayat ini menutup pembahasan Hari Perhitungan dengan nada optimis bagi mereka yang telah memilih jalan kebenaran.
Meskipun ayat ini secara spesifik merujuk pada konteks Hari Kiamat (setelah dialog dengan Nabi Isa), implikasinya berlaku sepanjang kehidupan. Seorang Muslim harus berusaha keras untuk memelihara kejujuran, bahkan ketika itu sulit. Kehidupan di dunia sering kali menuntut kita untuk membuat pilihan sulit, namun keyakinan bahwa kejujuran akan "bermanfaat" di hari penghisaban seharusnya menjadi kompas moral utama.
Sebagai kesimpulan, ketika kita mempelajari Surat Al-Ma'idah ayat 119 dan artinya, kita diingatkan bahwa amal yang paling sederhana—yaitu ketulusan dan kejujuran—adalah investasi terbaik untuk kehidupan abadi. Semua kenikmatan duniawi akan hilang, namun buah dari kejujuran akan dinikmati selamanya di taman-taman surga yang mengalirkan sungai-sungai kenikmatan.