Ilustrasi visualisasi perjalanan spiritual dan perjanjian.
Surat Al-Maidah, yang berarti "Alas Makan," adalah surat Madaniyah yang kaya akan ajaran mengenai hukum, etika, dan hubungan antar umat beragama. Ayat 14 hingga 20 secara khusus menyoroti sejarah perjanjian Allah dengan umat-umat sebelumnya, konsekuensi dari melanggar perjanjian tersebut, serta posisi umat Islam sebagai saksi dan penerus risalah.
Allah SWT mengingatkan Bani Israil mengenai janji yang mereka ambil, yaitu janji untuk taat dan mengikuti petunjuk. Namun, sebagian besar dari mereka melanggarnya, memilih untuk melupakan sebagian besar ajaran yang telah diperingatkan kepada mereka.
فَنَسُوا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۖ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ اللَّهُ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
(14) Maka karena mereka telah melupakan sebagian daripada peringatan yang diberikan kepada mereka, Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Dan Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.
Ayat ini mengandung pelajaran penting bahwa melupakan ajaran agama, meskipun hanya sebagian, akan membawa dampak buruk yang berkepanjangan. Konsekuensi langsungnya adalah munculnya permusuhan dan kebencian yang mengakar kuat, bahkan hingga akhir zaman. Ini menjadi cerminan bagaimana perpecahan dan konflik sering kali berakar dari pengabaian terhadap prinsip-prinsip moral dan spiritual yang diamanahkan.
Selanjutnya, Al-Maidah menekankan bahwa telah datang kepada mereka seorang Rasul (Nabi Muhammad SAW) yang menjelaskan banyak hal dari Kitab yang mereka sembunyikan sebagiannya. Respons mereka terhadap kebenaran ini sangat beragam, ada yang menerima, namun banyak pula yang menolaknya.
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ ۚ قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ
(15) Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan bagimu sebahagian besar dari apa yang kamu telah rahasiakan daripada Al-Kitab, dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan.
Ayat 15 ini menegaskan kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai 'cahaya' (nur) dan 'kitab yang menerangkan' (kitab mubin). Cahaya ini berfungsi menerangi kegelapan kesalahpahaman dan penyembunyian kebenaran. Bagi umat Islam, ini adalah penguatan bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk yang jelas, menyempurnakan dan meluruskan apa yang telah diwahyukan sebelumnya.
Ayat 18 menanggapi klaim beberapa kelompok Yahudi dan Nasrani bahwa merekalah satu-satunya yang dicintai Allah. Allah menegaskan bahwa jika itu benar, mereka pasti akan meminta kematian karena takut menghadapi hisab (perhitungan amal). Namun, karena mereka mengetahui perbuatan buruk mereka, mereka justru takut mati.
Ayat berikutnya (Ayat 19 dan 20) memanggil Ahli Kitab, khususnya Yahudi dan Nasrani, untuk meninggalkan klaim eksklusif mereka dan merangkul kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Ini adalah ajakan untuk kembali kepada fitrah dan kepatuhan total kepada Allah.
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا لِيُبَيِّنَ لَكُمْ عَلَىٰ فَتْرَةٍ مِّنَ الرُّسُلِ أَن تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِن بَشِيرٍ وَلَا نَذِيرٍ ۖ فَقَدْ جَاءَكُم بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
(19) Wahai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan syariat (ajaran) di antara terputusnya para rasul, agar kamu tidak mengatakan: "Tidak ada datang kepada kami seorang pembawa kabar gembira dan seorang pemberi peringatan." Maka sungguh telah datang kepadamu pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Ayat 20 menutup segmen ini dengan pengingat akan tanggung jawab besar yang diemban umat Islam. Ketika umat terdahulu gagal menunaikan perjanjian mereka dan terpecah belah, umat Nabi Muhammad SAW hadir membawa kejelasan dan peringatan. Tugas kita adalah menjadi umat yang menyaksikan kebenaran dan menerapkan petunjuk ilahi secara utuh, bukan terpecah belah karena urusan duniawi atau klaim kesalehan semu.
Kisah dalam Al-Maidah ayat 14-20 adalah cermin abadi. Kegagalan mempertahankan perjanjian dengan Allah—baik perjanjian iman maupun perjanjian sosial—selalu menghasilkan perpecahan dan kebencian yang berkelanjutan. Umat Islam harus mengambil pelajaran bahwa konsistensi dalam mengikuti petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah adalah benteng utama dari kehancuran internal. Cahaya Al-Qur'an tidak hanya untuk dibaca, tetapi untuk dijadikan pedoman agar kita tidak jatuh pada jurang perselisihan yang digambarkan dalam ayat-ayat tersebut.