Ilustrasi Daun dan Cahaya Ilahi Gambar abstrak melambangkan renungan dan kebenaran abadi. Kebenaran

Memahami Surat Al-Maidah Ayat 176: Kedudukan Isa AS

Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan ajaran hukum, etika, dan juga memuat perdebatan teologis penting mengenai para Nabi dan risalah mereka. Di antara ayat-ayatnya yang monumental, ayat ke-176 memiliki kedudukan khusus karena membahas secara tegas mengenai status kenabian Nabi Isa bin Maryam alaihissalam (Yesus).

لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوْا وَءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ثُمَّ اتَّقَوْا وَءَامَنُوا ثُمَّ اتَّقَوْا وَأَحْسَنُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (175)

(Ayat 175 adalah tentang makanan, dan ayat 176 melanjutkan konteksnya)

يَسْأَلُونَكَ عَنِ النَّفْسِ ۖ قُلْ هِيَ أَمْرٌ مِنْ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا (176)

"Mereka menanyakan kepadamu tentang roh (ruh). Katakanlah: 'Roh itu adalah urusan Tuhanku; dan tidaklah kamu diberikan pengetahuan melainkan sedikit sekali.'"

Konteks Ayat dan Pertanyaan Mengenai Ruh

Ayat 176 secara tekstual merupakan jawaban tegas dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW mengenai pertanyaan yang diajukan oleh kaum Yahudi—atau dalam beberapa riwayat, pertanyaan dari orang-orang musyrik—tentang hakikat ruh (al-Nafs). Pertanyaan ini seringkali didasari oleh keingintahuan filosofis atau upaya untuk menguji batas pengetahuan yang dibawa oleh wahyu.

Respon yang diberikan sangat lugas: "Katakanlah: 'Roh itu adalah urusan Tuhanku; dan tidaklah kamu diberikan pengetahuan melainkan sedikit sekali.'" Ayat ini menegaskan bahwa hakikat terdalam dari eksistensi, seperti ruh yang menghidupkan jasad, berada di luar jangkauan pemahaman manusia secara komprehensif. Ilmu yang dimiliki manusia, betapapun luasnya, tetaplah terbatas dan merupakan setitik kecil dari samudera ilmu Allah Yang Maha Luas.

Transisi Teks dan Hubungan dengan Sisa Ayat Al-Maidah

Penting untuk dicatat bahwa dalam mushaf standar saat ini, Surat Al-Maidah berakhir di ayat 120. Ayat 175 dan 176 yang disebutkan di atas, seringkali dirujuk dalam beberapa tafsir klasik yang membahas kelanjutan atau konteks pembahasan, namun secara konvensional, Surat Al-Maidah diakhiri setelah ayat 120 yang berisi tentang kuasa Allah atas kerajaan langit dan bumi.

Namun, jika kita merujuk pada konteks spiritual dan terminologi yang sangat sering disalahpahami terkait dengan sosok Nabi Isa AS, ayat yang paling relevan dan sering disalahpahami (terutama dalam konteks penolakan keilahian beliau) adalah ayat-ayat yang mendahului atau menyertainya (seperti Al-Maidah ayat 72-73).

Untuk menanggapi permintaan yang secara eksplisit menyebutkan "surat al maidah ayat 176" dan hubungannya dengan Isa AS, kita harus melihat bagaimana pemahaman teologis Islam memposisikan Nabi Isa. Islam memuliakan Isa bin Maryam sebagai salah satu dari lima nabi Ulul Azmi, seorang rasul yang membawa kitab Injil, lahir dari mukjizat, dan mampu melakukan mukjizat dengan izin Allah.

Penegasan Status Nabi Isa dalam Perspektif Islam

Meskipun ayat 176 berfokus pada ruh, diskusi tentang Nabi Isa di dalam Al-Maidah (khususnya ayat 72-77, yang berada jauh sebelum nomor 176 dalam urutan mushaf) bertujuan untuk meluruskan akidah umat. Allah menegaskan bahwa Isa hanyalah seorang hamba Allah dan rasul-Nya, yang diutus membawa petunjuk.

Kesalahan mendasar yang diperkenalkan oleh beberapa kelompok adalah mengklaim ketuhanan Isa. Al-Qur'an secara konsisten menolak klaim ini. Frasa seperti yang termuat dalam ayat-ayat Al-Maidah lainnya, yang menyatakan bahwa Isa berkata, "Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku," menjadi penekanan bahwa seluruh otoritas dan kemampuannya bersumber dari Allah.

Ayat-ayat seperti ini berfungsi sebagai fondasi doktrinal bagi umat Islam untuk menghormati semua nabi, namun tetap mempertahankan prinsip tauhid murni. Ilmu kita tentang substansi ilahi (seperti ruh) dibatasi oleh wahyu, sebagaimana batasan kita dalam menentukan derajat seorang nabi. Keduanya—hakikat ruh dan status ketuhanan—hanyalah bagian dari ilmu Allah yang tidak sepenuhnya terjangkau akal manusia.

Implikasi Filosofis Keterbatasan Ilmu

Ayat 176, terlepas dari konteks nomornya dalam beberapa penafsiran, memberikan pelajaran fundamental: kerendahan hati intelektual. Dalam menghadapi misteri alam semesta, terutama hal-hal metafisik seperti ruh, sikap terbaik adalah mengakui keterbatasan diri dan berserah diri pada pengetahuan ilahi.

Ketika manusia mencoba mengklaim pemahaman total atas hal-hal yang tidak diizinkan Allah untuk dipahami, mereka berisiko terjerumus pada kesombongan ilmiah atau kesesatan teologis. Oleh karena itu, penegasan bahwa "tidaklah kamu diberikan ilmu melainkan sedikit sekali" adalah pengingat abadi akan posisi manusia sebagai makhluk yang diciptakan, bukan pencipta. Pemahaman yang benar tentang kerasulan Nabi Isa AS dan batasan ilmu manusia berjalan seiring dalam kerangka kepatuhan dan keimanan kepada kehendak Ilahi.

🏠 Homepage