Surat Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, sarat dengan ajaran-ajaran mengenai hukum, etika sosial, dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Di dalamnya, terdapat ayat-ayat yang menjadi pondasi kuat bagi seorang Muslim dalam menjalani hidup dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Salah satu ayat kunci yang menekankan aspek keberanian, keyakinan, dan penyerahan diri penuh adalah Surat Al-Maidah ayat 20. Ayat ini bukan sekadar kisah historis, melainkan sebuah panggilan abadi untuk memiliki mentalitas pembebasan dari ketakutan duniawi.
وَاِذۡ قَالَ مُوۡسٰى لِقَوۡمِهٖ يٰقَوۡمِ اذۡكُرُوا نِعۡمَةَ اللّٰهِ عَلَيۡكُمۡ اِذۡ جَعَلَ فِيۡكُمۡ اَنۡۢبِيَآءَ وَجَعَلَكُمۡ مُلُوۡكًا ۙ وَّاٰتٰىكُمۡ مَّا لَمۡ يُؤۡتِ اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِيۡنَ
"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Wahai kaumku! Ingatlah nikmat Allah (yang telah dilimpahkan) kepadamu, ketika Dia mengangkat dari antara kamu para nabi dan menjadikan kamu orang-orang merdeka (pemimpin), dan Dia memberikan kepadamu apa yang belum pernah Dia berikan kepada seorang pun di antara umat-umat (sebelummu).'" (QS. Al-Maidah: 20)
Ayat ini merupakan bagian dari narasi panjang Allah SWT kepada Bani Israil setelah mereka berhasil keluar dari penindasan Firaun di Mesir. Nabi Musa Alaihissalam (AS) diperintahkan untuk mengingatkan kaumnya tentang serangkaian nikmat luar biasa yang telah Allah berikan. Seruan ini memiliki tujuan mendasar: menumbuhkan rasa syukur (syukur) dan memperkuat ikatan batin mereka dengan Allah SWT menjelang tantangan besar yang akan mereka hadapi di depan.
Tiga nikmat utama yang ditekankan dalam Al-Maidah ayat 20 adalah: Pertama, pengangkatan para nabi di antara mereka. Keberadaan para pembimbing ilahi adalah kehormatan tertinggi. Kedua, status mulukan (raja-raja atau orang merdeka/pemimpin). Ini merujuk pada pembebasan dari status budak dan pemberian hak untuk mengatur urusan mereka sendiri. Ketiga, pemberian sesuatu yang belum pernah diberikan kepada umat lain di zaman itu. Ini bisa merujuk pada Taurat, mukjizat-mukjizat yang disaksikan, atau keistimewaan historis lainnya.
Frasa "menjadikan kamu orang-orang merdeka (pemimpin)" adalah inti penting yang sering menjadi fokus tafsir. Dalam konteks penindasan, kemerdekaan adalah harta yang paling berharga. Namun, kemerdekaan yang dimaksud di sini bukan sekadar kemerdekaan politik, melainkan kemandirian spiritual dan moral. Ketika seseorang telah menerima petunjuk ilahi (kenabian) dan karunia-Nya, ia tidak lagi tunduk pada tirani hawa nafsu atau penguasa zalim. Mereka dipanggil untuk memimpin – memimpin diri sendiri menuju kebenaran, dan kemudian memimpin masyarakat dengan prinsip keadilan.
Ayat ini mengajarkan bahwa status superioritas umat di mata Allah SWT adalah karena karunia dan bukan karena hak waris semata. Keistimewaan ini membawa tanggung jawab besar untuk menggunakan kemerdekaan dan pengetahuan yang dimiliki untuk menegakkan kebenaran. Jika nikmat ini disalahgunakan atau dilupakan, maka kenikmatan tersebut dapat berubah menjadi azab.
Setelah Musa mengingatkan kaumnya tentang nikmat-nikmat besar ini, Al-Maidah ayat 21 segera menyajikan reaksi kaum tersebut: "Hai kaumku, masuklah ke negeri suci (Palestina) yang telah dijanjikan Allah untukmu, dan janganlah kamu berpaling ke belakang (menjadi murtad), nanti kamu akan menjadi orang-orang yang merugi."
Ini menunjukkan hubungan sebab-akibat yang erat. Mengingat nikmat adalah fondasi untuk menaati perintah. Karena Allah telah memberikan keistimewaan dan kemerdekaan, maka mereka harus berani mengambil langkah selanjutnya: menghadapi tantangan untuk menempati tanah perjanjian yang dijanjikan Allah, meskipun di sana terdapat bangsa yang kuat dan perkasa. Keberanian untuk maju ini adalah ujian nyata dari rasa syukur mereka.
Bagi umat Islam hari ini, pesan dari ayat ini tetap relevan. Kita diingatkan bahwa kita sebagai umat Muhammad SAW juga telah dianugerahi karunia luar biasa, yaitu Al-Qur'an dan kenabian penutup. Status sebagai umat terbaik (khairu ummah) menuntut kita untuk hidup merdeka dari penjajahan pemikiran sekuler yang menjauhkan dari nilai Ilahi, serta menuntut kepemimpinan moral dalam setiap aspek kehidupan.
Inilah seruan untuk keluar dari zona nyaman kepasrahan buta dan mengambil peran aktif sebagai pewaris risalah. Kemerdekaan sejati hanya terwujud ketika hati kita terikat kuat pada Allah SWT (tawakkal), dan tangan kita bergerak aktif untuk mewujudkan keadilan di muka bumi, sebagaimana teladan para nabi yang telah diangkat di antara kita. Menghargai karunia berarti menggunakannya sesuai dengan tujuan pemberinya.