Surah Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", membawa berbagai kisah penting dalam sejarah kenabian. Ayat 20 hingga 30 secara spesifik merangkum dialog penting antara Nabi Musa AS dengan kaumnya, Bani Israil, mengenai perintah Allah SWT untuk memasuki tanah suci yang telah dijanjikan.
Ayat 20 diawali dengan seruan kepada Bani Israil: "Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kamu, ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka dan Dia memberikan kepadamu apa yang belum pernah Dia berikan kepada seorang pun di antara umat-umat sebelum kamu." Ini adalah pengingat akan status istimewa dan nikmat besar yang telah dilimpahkan Allah kepada mereka, termasuk terlepasnya mereka dari perbudakan Firaun.
Namun, respons kaum tersebut terhadap nikmat ini sering kali berupa penolakan dan kedurhakaan. Ayat 21 menegaskan perintah Allah melalui lisan Musa: "Hai kaumku, masuklah kamu ke tanah suci (Baitul Maqdis) yang telah ditentukan Allah untukmu, dan janganlah kamu melarikan diri dari kebenaran (perjuangan), karena sesungguhnya kamu akan menjadi orang-orang yang merugi." Perintah memasuki tanah suci ini adalah ujian keimanan dan kepatuhan absolut.
Tantangan terbesar muncul ketika kaum tersebut melihat kondisi di tanah suci. Mereka menjawab Musa dengan ketidakpercayaan dan rasa takut yang berlebihan: "Hai Musa, sesungguhnya di negeri itu ada suatu kaum yang kuat-kuat perkasa, dan sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar dari sana. Jika mereka keluar dari sana, maka kami pasti akan masukinya." (Ayat 22).
Ketakutan mereka bukanlah tanpa alasan, namun alasan tersebut dijadikan pembenaran untuk membangkang. Nabi Musa dan Harun AS kemudian memohon kepada Allah. Allah SWT mengetahui ketidakmampuan dan keengganan mereka. Sebagai konsekuensinya, Allah menetapkan hukuman atas penolakan mereka untuk berjuang.
Ayat 26 merangkum inti hukuman tersebut: "Tuhan berfirman: 'Maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, mereka akan mengembara di bumi ini. Maka janganlah kamu bersedih hati atas (nasib) orang-orang yang fasik (durhaka)'." Empat puluh tahun pengembaraan ini adalah periode pembuktian di padang pasir, di mana generasi yang enggan berjuang tersebut meninggal, dan hanya generasi baru yang memiliki keimanan kuat yang diizinkan masuk.
Setelah membahas kegagalan Bani Israil, Allah SWT mengalihkan pembahasan pada kisah teladan tentang pengorbanan dan kedengkian melalui kisah Qabil dan Habil, dua putra Nabi Adam AS. Kisah ini disajikan sebagai perbandingan kontras antara kepatuhan (Habil) dan kedengkian (Qabil).
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (Ayat 27): "Dan ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) dengan sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Berkata (Qabil): 'Aku pasti membunuhmu'. Berkatalah (Habil): 'Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa.'"
Pesan utama dari ayat ini adalah bahwa penerimaan amal perbuatan di sisi Allah tidak didasarkan pada jenis kurban, tetapi pada ketakwaan dan keikhlasan pelakunya. Sikap Habil yang bertakwa menunjukkan ketenangan dan penyerahan diri kepada ketetapan Ilahi, sementara Qabil didorong oleh ego dan kedengkian yang berujung pada pembunuhan pertama dalam sejarah manusia.
Ayat 29 adalah seruan Qabil yang ironis, di mana ia meminta Habil untuk menanggung dosanya dan dosa Qabil sendiri, sebuah bentuk pengakuan terselubung atas kesalahannya. Namun, Habil menegaskan bahwa membawa dosa adalah urusan Qabil (Ayat 30).
Rangkaian ayat 20 hingga 30 Surah Al-Maidah ini memberikan pelajaran mendasar tentang konsekuensi dari ketidaktaatan dan pentingnya ketakwaan. Kegagalan Bani Israil untuk memasuki tanah suci adalah akibat langsung dari penolakan mereka terhadap perintah Allah karena rasa takut dan kurangnya kepercayaan pada pertolongan-Nya. Sebaliknya, kisah Habil menunjukkan bahwa ketakwaan adalah penentu utama diterimanya amal seseorang di hadapan Allah, terlepas dari kesulitan atau keadaan duniawi.