Surat Al-Maidah Ayat 22: Kisah Kaum Nabi Musa dan Tanah Suci
Terjemahan Ayat
Mereka berkata, "Hai Musa, sesungguhnya di negeri itu ada kaum yang sangat kuat, dan kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar dari sana. Jika mereka keluar dari sana, kami pasti akan masukinya."
Konteks dan Penjelasan Ayat
Ayat ke-22 dari Surat Al-Maidah ini melanjutkan narasi penting mengenai perjalanan Bani Israil setelah mereka dibebaskan dari perbudakan di Mesir oleh Nabi Musa 'alaihissalam. Ayat ini secara spesifik merekam momen ketika Allah SWT memerintahkan mereka untuk memasuki negeri yang telah dijanjikan (Palestina/Kanaan), tanah yang diberkahi.
Setelah melalui tantangan di padang gurun selama empat puluh tahun karena kekufuran dan pembangkangan mereka, tiba saatnya bagi mereka untuk mengambil hak warisan spiritual dan geografis yang dijanjikan oleh Allah SWT. Namun, reaksi yang muncul bukanlah antusiasme dan kepatuhan, melainkan ketakutan dan penolakan yang mendalam.
Respon Ketakutan Kaum Nabi Musa
Respon mereka terangkum dalam ucapan mereka kepada Nabi Musa: "Hai Musa, sesungguhnya di negeri itu ada kaum yang sangat kuat..." Kata "Jabbareen" (جَبَّارِينَ) merujuk pada orang-orang yang memiliki postur tubuh yang besar, gagah perkasa, dan memiliki kekuatan militer yang dominan di negeri tersebut. Bagi Bani Israil yang baru saja keluar dari perbudakan dan mungkin trauma dengan dominasi Mesir, menghadapi musuh yang terlihat superior secara fisik adalah momok yang menakutkan.
Mereka mengajukan sebuah syarat yang menunjukkan keengganan mereka untuk berjuang demi kemerdekaan dan warisan mereka. Syarat tersebut adalah: "kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar dari sana." Ini adalah bentuk delegasi total atas tanggung jawab perjuangan kepada Nabi Musa, alih-alih mereka mengambil peran aktif sesuai perintah Ilahi. Mereka ingin tanah itu menjadi "kosong" terlebih dahulu, baru kemudian mereka akan masuk dengan mudah.
Pelajaran dari Penolakan
Penolakan ini adalah puncak dari ketidakpatuhan mereka yang berkelanjutan. Allah SWT telah menjanjikan kemenangan dan kepemilikan tanah itu, namun keyakinan mereka goyah ketika dihadapkan pada rintangan nyata. Ayat ini menyoroti bahaya menunda ketaatan karena rasa takut atau menaruh percaya lebih besar pada kekuatan fisik musuh daripada janji dan kuasa Allah.
Akibat dari penolakan dan pembangkangan kolektif ini diceritakan dalam ayat-ayat berikutnya (Al-Maidah 24-26), di mana Allah menghukum mereka dengan ditahan di padang gurun selama empat puluh tahun, sebagai konsekuensi dari ketidakmauan mereka untuk berjuang demi kebenaran yang telah ditetapkan bagi mereka.
Surat Al-Maidah ayat 22 menjadi pengingat abadi bagi umat Islam bahwa janji Allah harus disambut dengan keberanian, usaha, dan tawakal, bukan dengan pengecut dan alasan untuk menunda kewajiban yang telah diperintahkan.