Surat Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak sekali ayat penting yang berkaitan dengan syariat, janji Allah, dan kisah umat terdahulu. Salah satu ayat yang menjadi sorotan utama dalam pembahasan mengenai keteguhan iman dan tanggung jawab kolektif adalah ayat ke-23. Ayat ini menyoroti bagaimana kaum Nabi Musa AS bereaksi ketika diperintahkan untuk memasuki tanah suci yang dijanjikan.
Ayat ini merupakan kelanjutan dari respons negatif dan ketakutan yang ditunjukkan oleh sebagian besar Bani Israil (seperti dijelaskan pada ayat sebelumnya). Ketika Nabi Musa diperintahkan oleh Allah SWT untuk memimpin kaumnya merebut tanah Palestina (yang saat itu dikuasai oleh kaum yang kuat), reaksi yang muncul adalah penolakan karena rasa takut.
Namun, di tengah keraguan massal itu, muncul dua individu pemberani yang dijuluki sebagai orang-orang yang "takut (kepada Allah)"—yang justru berarti merekalah yang paling memahami konsekuensi dari durhaka kepada-Nya, sehingga mereka memilih ketaatan mutlak. Dua tokoh ini, yang dalam tafsir sering dikaitkan dengan **Yusha' bin Nun** dan **Khaalid bin Yuqhanna**, memberikan suntikan semangat.
Inti dari pesan Al-Maidah ayat 23 terletak pada dua pilar utama yang menjadi syarat keberhasilan spiritual maupun duniawi bagi seorang mukmin:
Frasa "Majulah (seranglah) mereka melalui pintu itu, maka apabila kamu memasukinya, kamu pasti menang" menunjukkan kepastian hasil jika langkah pertama diambil sesuai petunjuk Ilahi. Kemenangan tidak datang dengan menunggu, melainkan dengan melangkah maju melewati "pintu" (rintangan). Ini adalah pelajaran bahwa iman sejati menuntut aksi yang berani, bukan kepasifan. Kaum yang diancam dengan kekalahan justru dijanjikan kemenangan asalkan mereka mau berjuang melewati rintangan utama.
Setelah memberikan perintah untuk bertindak, ayat ini segera mengunci pesan tersebut dengan syarat: "Dan bertawakallah kamu kepada Allah, jika kamu adalah orang-orang yang beriman." Tawakal di sini bukanlah pasrah tanpa usaha, melainkan penyerahan hasil akhir kepada Allah setelah usaha maksimal telah dilakukan. Keberanian mereka didasarkan bukan pada kekuatan fisik mereka sendiri, tetapi pada janji Zat yang Maha Kuasa. Jika keimanan itu nyata, maka hasil akhirnya sudah terjamin oleh Allah.
Pelajaran dari Al-Maidah ayat 23 jauh melampaui konteks peperangan fisik. Dalam kehidupan kontemporer, "pintu" yang harus dimasuki bisa berupa tantangan karier, ujian ilmiah yang sulit, atau perubahan sosial yang membutuhkan keberanian moral. Banyak orang terhenti karena rasa takut akan kegagalan atau penolakan masyarakat.
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin sejati harus memiliki mentalitas dua langkah: Pertama, tentukan tindakan benar yang diperintahkan (langkah aktif), dan kedua, bersandarlah sepenuhnya kepada Allah mengenai hasilnya (langkah spiritual). Keraguan yang dialami oleh Bani Israil adalah cerminan dari kurangnya kejelasan dalam pilar kedua ini—mereka mungkin memiliki perintah, namun tawakal mereka lemah.
Keteguhan dua orang saleh ini mengingatkan kita bahwa di tengah kebimbangan kolektif, selalu ada ruang bagi individu yang memprioritaskan ridha Allah di atas kenyamanan sesaat. Keimanan yang kokoh akan selalu memunculkan keberanian untuk menghadapi 'benteng' ketakutan dan keraguan, dengan keyakinan penuh bahwa pertolongan Allah akan menyertai mereka yang benar-benar bertawakal. Memahami dan mengamalkan ayat ini adalah kunci untuk mengubah potensi menjadi prestasi melalui lensa keimanan.