Ilustrasi: Cahaya petunjuk dalam Al-Qur'an
Surat Al-Ma'idah (Hidangan) adalah salah satu surat Madaniyah yang sarat dengan muatan hukum dan etika sosial. Di antara banyak ayat penting di dalamnya, ayat ke-51 dan ayat ke-57 sering menjadi sorotan utama dalam kajian keislaman, terutama terkait prinsip persaudaraan, loyalitas, dan menjaga independensi umat Islam dari pengaruh negatif luar. Kedua ayat ini memberikan batasan tegas mengenai siapa yang layak dijadikan pelindung dan panutan.
Ayat-ayat ini secara kolektif membentuk fondasi penting bagi kemandirian berpikir dan bersikap bagi seorang Muslim. Mereka menuntut kesadaran tinggi agar umat tidak mudah terombang-ambing oleh kepentingan pihak lain yang mungkin bertentangan dengan nilai-nilai keimanan. Ayat 51 membahas larangan mengambil orang Yahudi dan Nasrani sebagai awliya (pemimpin atau pelindung), sementara ayat 57 menggarisbawahi bahwa agama Islam adalah satu-satunya jalan yang harus diikuti, bukan mengikuti gaya hidup atau ideologi yang mengolok-olok agama.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi awliya (pemimpin atau pelindung); mereka satu sama lain adalah awliya (pemimpin atau pelindung) bagi yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi awliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini bukan berarti melarang interaksi sosial biasa, muamalah, atau jual beli. Inti dari ayat ini adalah larangan totalitas dalam loyalitas politik, spiritual, dan ideologis. Awliya di sini dimaknai sebagai orang yang dijadikan sebagai penentu kebijakan, mitra utama dalam menghadapi musuh, atau orang yang dijadikan sandaran utama dalam menentukan arah hidup beragama. Jika seorang Muslim menjadikan mereka sebagai pelindung utama, maka ia telah menyerahkan kedaulatan imannya kepada pihak di luar koridor Islam.
Konsekuensi dari perbuatan tersebut dijelaskan sangat tegas: "maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka." Ini adalah peringatan keras mengenai bahaya kehilangan identitas keimanan ketika loyalitas utama dibagikan atau dialihkan kepada pihak yang jelas-jelas memiliki pandangan yang bertentangan dengan prinsip dasar akidah Islam.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan dari golongan orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang kafir menjadi awliya (pemimpin atau pelindung) dan bertakwalah kepada Allah jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman.
Ayat 57 melengkapi batasan yang diberikan ayat 51. Jika ayat 51 menargetkan loyalitas terhadap Ahli Kitab secara umum, ayat 57 menargetkan mereka—dan juga kaum musyrikin—yang secara aktif menjadikan ajaran Islam sebagai bahan olok-olokan. Ini menekankan pentingnya harga diri spiritual. Seorang mukmin tidak seharusnya memberikan kepercayaan politik atau kepemimpinan kepada pihak yang secara terang-terangan merendahkan pondasi keyakinannya.
Dalam konteks modern yang serba terhubung, pemahaman terhadap kedua ayat ini harus disaring melalui lensa kontekstual yang bijaksana namun tegas. Ayat ini mengajarkan prinsip dasar: loyalitas tertinggi seorang Muslim hanya ditujukan kepada Allah dan Rasul-Nya. Keimanan yang sejati menuntut sikap keberanian untuk tidak tunduk secara ideologis kepada kekuatan mana pun yang ingin mendistorsi atau meremehkan ajaran Islam.
Menghindari awliya dalam konteks ini berarti menjaga integritas kebijakan dan arah perjuangan umat. Ini adalah seruan untuk membangun kekuatan internal (ukhuwah) dan tidak bergantung pada kemitraan yang berpotensi mengancam eksistensi moral dan spiritual umat Islam. Dengan memegang teguh arahan dari Surat Al-Ma'idah ayat 51 dan 57, seorang Muslim berusaha keras untuk selalu berada di bawah naungan petunjuk ilahi, menjadikannya hamba Allah yang konsisten dan berprinsip.
Ketaatan pada ayat-ayat ini adalah manifestasi nyata dari takwa. Allah menutup ayat 57 dengan perintah, "dan bertakwalah kepada Allah jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." Ini menegaskan bahwa ketaatan pada larangan tersebut adalah barometer keimanan itu sendiri.