Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah surat Madaniyah yang kaya akan hukum, kisah, dan petunjuk moral bagi umat Islam. Salah satu ayat kunci dalam surat ini, yang sering menjadi fokus pembahasan dalam studi keimanan dan kepemimpinan, adalah **Al-Maidah Ayat 56**. Ayat ini memberikan landasan tegas mengenai siapa yang seharusnya menjadi penolong dan pelindung utama bagi seorang Muslim.
Teks dan Terjemahan Surat Al-Maidah Ayat 56
Ayat ini menegaskan prinsip dasar loyalitas (al-wala') dalam Islam. Berikut adalah teks aslinya dan terjemahan Indonesianya:
Konteks Historis dan Tafsir Singkat
Ayat ini turun dalam konteks interaksi sosial dan politik Muslimin di Madinah. Fokus utamanya adalah peringatan keras terhadap pengambilan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai Auliya' (pemimpin, pelindung, atau sekutu dekat yang memiliki loyalitas penuh).
Batasan Pengambilan Auliya'
Kata kunci di sini adalah 'Auliya'. Dalam konteks tafsir klasik, 'Auliya' tidak selalu merujuk pada hubungan bertetangga biasa atau perlakuan baik dalam muamalah sehari-hari (seperti jual beli atau silaturahmi yang dianjurkan dalam konteks umum selama mereka tidak memerangi Muslim). Namun, ayat ini melarang pengangkatan mereka sebagai pemimpin politik, penasihat utama yang menentukan arah kebijakan umat, atau sekutu militer yang kepentingannya didahulukan di atas kepentingan umat Islam sendiri.
Frasa "sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain" menggarisbawahi realitas bahwa pada saat itu, kelompok-kelompok tersebut memiliki orientasi dan kepentingan yang berbeda, bahkan bertentangan, dengan tujuan utama dakwah Islam. Mengambil mereka sebagai pemimpin berarti mengabaikan prinsip persatuan dan kesetiaan (al-wala' wal-bara') kepada ajaran Islam itu sendiri.
Implikasi Loyalitas dalam Keimanan
Pernyataan terakhir ayat ini sangat tegas: "Dan barangsiapa di antara kamu yang mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka."
Ini menunjukkan bahwa loyalitas struktural dan ideologis memiliki dampak langsung pada identitas keagamaan seseorang. Jika seseorang secara sadar memilih untuk menempatkan kepemimpinan atau arahan hidupnya di tangan pihak yang tidak sejalan dengan prinsip tauhid, maka ia telah menempatkan dirinya di luar lingkaran orang-orang yang dibimbing Allah.
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa larangan ini berkaitan dengan ketakutan hilangnya identitas Islam dan rusaknya struktur sosial yang baru dibangun oleh Rasulullah SAW. Mengangkat non-Muslim sebagai pemimpin berarti memberikan otoritas untuk mengubah hukum atau nilai-nilai yang telah ditetapkan Allah.
Fokus pada Zalim
Penutup ayat, "Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim," berfungsi sebagai penutup yang memberikan peringatan. Dikatakan bahwa tindakan mengambil non-Muslim sebagai pemimpin dengan penuh loyalitas adalah sebuah bentuk kezaliman—kezaliman terhadap diri sendiri karena menempatkan urusan agama pada posisi yang salah, dan kezaliman terhadap umat karena mengabaikan prinsip perlindungan iman.
Pelajaran Kontemporer
Meskipun ayat ini berbicara tentang konteks spesifik pada masa Nabi, prinsipnya relevan hingga kini. Surat Al-Maidah ayat 56 mengajarkan prinsip fundamental tentang **prioritas loyalitas**. Dalam dunia modern, hal ini diterjemahkan menjadi kehati-hatian dalam menyerahkan urusan fundamental umat—terutama dalam bidang pendidikan, hukum, dan pertahanan—kepada pihak-pihak yang orientasi ideologisnya secara inheren bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Ini bukan seruan untuk bersikap kasar, melainkan seruan untuk bijak dalam memilih siapa yang kita percayai untuk memegang kendali atas arah kolektif kita. Keselamatan agama, akhlak, dan masa depan komunitas bergantung pada kepemimpinan yang teguh memegang prinsip Al-Qur'an. Ayat ini adalah pengingat abadi bahwa iman menuntut adanya batasan yang jelas dalam hal afiliasi dan kepemimpinan.
Oleh karena itu, setiap Muslim perlu merenungkan kembali makna 'wala' (loyalitas) dan memastikan bahwa sumber petunjuk utamanya tetap Allah SWT, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman.