Surat Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak pelajaran penting mengenai hukum, sejarah umat terdahulu, dan sifat-sifat Allah SWT. Salah satu ayat yang seringkali menjadi sorotan dalam diskusi keagamaan adalah ayat ke-64. Ayat ini secara tegas menyoroti respons kaum Yahudi terhadap ajaran Allah dan konsekuensi dari penolakan mereka terhadap kebenaran.
Ayat ini berfungsi sebagai pengingat keras bahwa tindakan manusia dicatat dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Berikut adalah teks Arab, transliterasi, dan terjemahannya:
Ayat ini memberikan beberapa poin pelajaran yang sangat penting. Pertama, ia membahas respons terhadap karunia ilahi. Frasa "Tangan Allah terbelenggu" (yadullāhi maghlūlah) merupakan metafora yang menunjukkan sikap kikir atau terbatasnya kekuasaan dan kemurahan Allah, sebagaimana yang mereka tuduhkan. Tentu saja, ini adalah klaim yang batil dan merupakan bentuk penistaan terhadap keagungan-Nya.
Sebagai balasan atas tuduhan tersebut, Allah menyatakan bahwa tangan merekalah yang terbelenggu (kikir) dan mereka dikutuk. Ini menunjukkan bahwa kesempitan rezeki atau keberkahan yang mereka rasakan adalah akibat langsung dari sifat kikir dan penolakan mereka terhadap kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Kontras yang tajam disajikan dengan pernyataan: "Padahal kedua tangan Allah terbentang, Dia menafkahkan (memberi rezeki) sebagaimana Dia kehendaki." Ini menegaskan bahwa sumber daya dan kemurahan Allah tidak terbatas. Allah Maha Pemberi, tidak pernah terhalang dalam memberikan anugerah-Nya, meskipun manusia seringkali menutup diri dari rahmat tersebut karena kesombongan atau penolakan iman.
Ayat ini juga menjelaskan bahwa semakin banyak wahyu (Al-Qur'an) diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, bukannya membawa mereka kepada kebenaran, justru semakin menambah keangkuhan, kedustaan, dan kekufuran pada sebagian besar dari mereka. Kebenaran yang jelas seringkali justru mempertebal jarak antara orang yang menolaknya dengan petunjuk sejati.
Salah satu konsekuensi spiritual dan sosial yang disebutkan secara eksplisit adalah ditimbulkannya permusuhan dan kebencian di antara mereka hingga hari kiamat. Ini adalah hukuman ilahiah bagi kelompok yang menyimpang dari jalan Allah dan menyebarkan perpecahan. Sejarah menunjukkan bahwa perpecahan internal seringkali menjadi ciri khas komunitas yang berpaling dari ajaran persatuan Ilahi.
Poin terakhir yang sangat relevan adalah peringatan tentang upaya merusak. Setiap kali mereka mencoba menyulut api peperangan atau konflik (baik secara harfiah maupun kiasan), Allah selalu memadamkannya. Ini menunjukkan campur tangan ilahi dalam menjaga keseimbangan dan mencegah kehancuran total yang diinginkan oleh para perusak. Meskipun demikian, mereka terus berusaha menyebarkan kerusakan (fasad) di muka bumi, padahal Allah tidak menyukai perbuatan tersebut.
Secara keseluruhan, Al-Maidah ayat 64 adalah teguran keras terhadap kesombongan intelektual dan penolakan terhadap petunjuk Ilahi. Ayat ini mengingatkan kita bahwa kebenaran yang datang dari Allah adalah solusi, bukan masalah. Menolaknya hanya akan membawa kehancuran pribadi dan permusuhan sosial yang abadi.