Fokus pada Keutamaan Ahli Kitab yang Beriman
Artinya: Seandainya Ahli Kitab itu beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan menghapuskan dosa-dosa mereka dan memasukkan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan.
Artinya: Dan seandainya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan apa yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka, niscaya mereka akan mendapat rezeki dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada umat yang pertengahan (moderat), tetapi kebanyakan dari mereka sangat buruk apa yang mereka kerjakan.
Artinya: Wahai Rasul, janganlah engkau disedihkan oleh orang-orang yang berlomba-lomba dalam kekafiran, yaitu mereka yang mengatakan dengan mulut mereka, "Kami telah beriman," padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) orang-orang Yahudi yang suka mendengar kebohongan dan suka mendengar perkataan orang lain yang tidak datang kepadamu; mereka mengubah-ubah kalimat (Allah) dari tempat-tempatnya, (seraya) berkata, "Jika kamu diberi ini, terimalah, dan jika kamu tidak diberi, waspadalah." Barangsiapa dikehendaki Allah fitnah (kesesatan) baginya, sekali-kali engkau tidak akan mampu menolak sesuatu pun (pertolongan) dari Allah. Mereka itulah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka mendapat kehinaan di dunia, dan bagi mereka di akhirat adalah azab yang besar.
Artinya (68-70): Katakanlah: "Wahai Ahli Kitab, kamu tidak (mempunyai pendirian) yang teguh hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu." Sesungguhnya (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu pasti akan menambah keingkarankejelasan bagi kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabiin, dan orang-orang Nasrani, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan Kami telah mengutus kepada mereka rasul-rasul. Setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka, segolongan (dari mereka) mereka dustakan, dan segolongan (yang lain) mereka bunuh.
Ayat 65 hingga 70 dari Surat Al-Maidah merupakan bagian penting yang membahas tentang ekspektasi ilahi terhadap Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) serta memberikan peringatan tegas kepada mereka yang menolak kebenaran wahyu Muhammad SAW. Inti dari enam ayat ini berpusat pada syarat diterimanya amal dan keimanan, yaitu ketaqwaan dan penegakan syariat yang diwahyukan.
Allah SWT membuka firman-Nya dengan janji yang sangat besar bagi Ahli Kitab. Ayat 65 menegaskan bahwa jika mereka benar-benar beriman (kepada ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW) dan bertakwa, maka dosa-dosa mereka akan dihapuskan dan mereka akan dimasukkan ke dalam surga kenikmatan. Ini menunjukkan sifat rahmat Allah yang terbuka lebar, namun syaratnya adalah pengakuan dan kepatuhan total.
Ayat 66 memperkuat hal ini dengan menekankan pentingnya menjalankan isi kitab suci mereka terdahulu—Taurat dan Injil—bersama dengan ajaran baru yang diturunkan. Hasil dari ketaatan ini adalah keberkahan duniawi dan ukhrawi: rezeki yang melimpah dari segala penjuru ("dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka"). Namun, ayat ini juga menyoroti ironi bahwa meskipun ada kelompok moderat di antara mereka, mayoritas justru memilih jalan keburukan dalam amal perbuatan mereka.
Ayat 67 merupakan bentuk penghiburan dari Allah kepada Rasulullah SAW terhadap kaum munafik (yang mengaku beriman tetapi hati mereka kosong) dan segolongan Yahudi yang terang-terangan menolak dakwah dengan cara memutarbalikkan syariat. Rasul diperintahkan untuk tidak bersedih hati atas pembangkangan mereka. Sikap ini menunjukkan bahwa iman sejati diukur dari ketulusan hati, bukan sekadar pengakuan lisan.
Selanjutnya, ayat 68 menjadi tantangan langsung: Allah memerintahkan Nabi untuk menyatakan kepada Ahli Kitab bahwa mereka tidak memiliki pijakan yang kuat ("tidaklah kamu berada di atas sesuatu") kecuali jika mereka menegakkan Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Penolakan mereka terhadap Al-Qur’an justru akan menambah kezaliman dan kekufuran mereka, dan Rasul diperingatkan agar tidak berduka atas nasib kaum kafir tersebut.
Ayat 69 memberikan kabar gembira yang bersifat universal dan inklusif. Kriteria keselamatan di akhirat tidak lagi eksklusif berdasarkan label agama, melainkan berdasarkan kualitas iman dan amal. Siapapun—baik dari kalangan Muslim, Yahudi, Shabiin (sekelompok penganut agama monoteistik kuno), maupun Nasrani—yang beriman sejati kepada Allah dan Hari Akhir serta melakukan amal saleh, mereka akan mendapatkan pahala di sisi Tuhan, tanpa rasa takut dan kesedihan.
Ayat 70 menutup rentetan ini dengan mengingatkan kembali sejarah perjanjian (misytaq) antara Allah dengan Bani Israil. Sejarah ini dipenuhi pengkhianatan. Setiap kali rasul datang membawa kebenaran yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, respon yang diterima adalah pendustaan atau bahkan pembunuhan. Ini menjadi peringatan keras bahwa penolakan terhadap rasul dan wahyu adalah pola perilaku yang berulang, yang berpuncak pada penolakan terhadap risalah penutup.
Secara keseluruhan, ayat 65-70 Al-Maidah menekankan bahwa standar ketuhanan selalu tentang ketulusan hati, ketaatan pada wahyu yang diterima, dan amal saleh. Rahmat Allah terbuka bagi siapa pun yang memenuhinya, terlepas dari latar belakang keagamaan mereka.