وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
"Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, pasti Kami akan menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan Kami pasti akan memasukkan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan."
Surat Al-Maidah ayat 65 merupakan salah satu ayat kunci dalam Al-Qur'an yang menyoroti pentingnya iman dan takwa, tidak hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi umat-umat sebelumnya, khususnya Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Ayat ini mengandung janji ilahi yang luar biasa, namun disertai dengan peringatan keras atas penolakan mereka terhadap kebenaran.
Allah SWT menyatakan dalam ayat ini, "Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa...". Kata "beriman" di sini merujuk pada keimanan yang sejati, yaitu membenarkan kerasulan Muhammad SAW dan menerima ajaran yang dibawanya sebagai penyempurna risalah sebelumnya. Sementara "bertakwa" adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Jika syarat ini dipenuhi, janji yang diberikan sangatlah besar: "pasti Kami akan menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan Kami pasti akan memasukkan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan."
Lebih lanjut, janji tersebut diperkuat dengan keberkahan yang bersifat duniawi dan ukhrawi. "Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." Berkah dari langit bisa diartikan sebagai rahmat hujan yang cukup, hasil panen yang melimpah, dan ketenangan batin. Sementara berkah dari bumi adalah kemakmuran materi, kesuburan tanah, dan kedamaian sosial. Ini menunjukkan bahwa jalan kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun akhirat, sangat erat kaitannya dengan kepatuhan total kepada wahyu ilahi.
Namun, ayat ini melanjutkan dengan realitas yang terjadi: "Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami)...". Penolakan kolektif Ahli Kitab terhadap ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW memiliki konsekuensi yang tegas. Allah berfirman, "...maka Kami azab mereka disebabkan apa yang telah mereka perbuat." Azab di sini tidak hanya berarti siksa akhirat, tetapi juga bisa mencakup penurunan berkah, kesulitan hidup, perpecahan internal, dan hilangnya kedudukan mulia yang pernah mereka pegang.
Ayat 65 ini berfungsi sebagai teguran universal. Ia menegaskan bahwa status sebagai Ahli Kitab atau keturunan nabi tertentu tidak menjamin keselamatan jika tidak diikuti dengan keimanan yang benar dan ketakwaan yang konsisten. Allah berlaku adil; siapa pun yang memilih mendustakan kebenaran, akan menuai hasil dari pilihan tersebut.
Meskipun ayat ini ditujukan kepada Ahli Kitab terdahulu, ia memberikan pelajaran mendasar bagi umat Islam. Ayat ini mengingatkan bahwa iman yang hanya di lisan tidaklah cukup. Kita harus merefleksikan apakah kehidupan kita sudah mencerminkan ketakwaan yang substantif. Keberkahan dan kemuliaan yang dijanjikan Allah adalah hasil dari dua pilar utama: memegang teguh akidah yang benar (iman) dan mengaplikasikannya dalam perilaku sehari-hari (takwa). Jika umat Islam lalai dan mulai meninggalkan prinsip ketakwaan, maka keberkahan yang tadinya tercurah bisa dicabut, sebagaimana yang diisyaratkan dalam konteks ayat ini. Surat Al-Maidah ayat 65 adalah pengingat abadi akan korelasi langsung antara kualitas spiritualitas individu/komunitas dengan kualitas kehidupan yang dianugerahkan Allah.