Tadabbur: Al-Ma'idah Ayat 71

K 71 Peringatan

Ilustrasi visualisasi ayat tentang kehati-hatian dalam beriman.

Teks Asli (Arab) Al-Ma'idah Ayat 71

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَسْبَابَكُمْ فَوْقَ أَسْبَابِ النَّبِيِّ وَلَا تَدْعُوا الرَّسُولَ كَمَا يَدْعُو بَعْضُكُمْ بَعْضًا لِتَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

Terjemahan Bahasa Indonesia

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berbicara kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya ucapan sebagian kamu kepada sebagian yang lain, supaya amal-amalmu yang banyak itu tidak hapus (terbakar) sedang kamu tidak menyadarinya.

Konteks dan Penjelasan Ayat

Surat Al-Ma'idah ayat 71 adalah salah satu ayat yang menekankan pentingnya adab (etika) dan penghormatan mutlak terhadap Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ayat ini turun sebagai teguran keras terhadap sikap beberapa sahabat yang, meskipun beriman, terkadang lupa akan kedudukan agung Rasulullah.

Larangan Meninggikan Suara

Allah melarang kaum mukminin meninggikan suara mereka di hadapan Rasulullah melebihi suara beliau sendiri. Larangan ini bukan sekadar masalah volume suara, tetapi mencerminkan penghormatan dan ketundukan terhadap otoritas kenabian. Jika suara ditinggikan, ini bisa mengindikasikan kesetaraan atau bahkan perlawanan, padahal Rasulullah adalah utusan Allah yang membawa wahyu.

Ibnu Katsir dan mufasir lainnya menyebutkan bahwa ayat ini bisa jadi berhubungan dengan suatu kejadian di mana beberapa sahabat berbicara dengan suara keras saat berinteraksi dengan Nabi, mungkin karena sudah terbiasa berbicara keras satu sama lain. Nabi Muhammad memiliki martabat yang sangat tinggi di sisi Allah, sehingga interaksi dengan beliau harus dilakukan dengan penuh kesopanan dan kerendahan hati.

Larangan Memanggil Seperti Memanggil Sesama

Poin kedua adalah larangan memanggil Rasulullah sebagaimana mereka memanggil satu sama lain. Dalam konteks bahasa Arab saat itu, memanggil sesama dengan nama langsung atau panggilan akrab biasa adalah hal umum. Namun, memanggil Rasulullah dengan cara yang sama dianggap merendahkan kemuliaan beliau. Seharusnya, panggilan yang digunakan adalah panggilan yang menunjukkan rasa hormat, seperti "Ya Rasulullah" atau "Ya Nabi Allah."

Pentingnya ketaatan pada adab ini dipertegas dengan ancaman yang sangat serius: "supaya amal-amalmu yang banyak itu tidak hapus (terbakar) sedang kamu tidak menyadarinya." Ini menunjukkan bahwa dosa yang berkaitan dengan meremehkan kedudukan Nabi—sekecil apapun itu dalam pandangan manusia—dapat menyebabkan gugurnya amal kebaikan tanpa disadari pelakunya. Ini adalah peringatan keras mengenai bahaya kesembronoan dalam berinteraksi dengan syiar dan pribadi Nabi.

Relevansi Kontemporer

Ayat 71 Surat Al-Ma'idah memiliki relevansi abadi. Dalam konteks modern, penghormatan ini meluas pada cara kita memperlakukan sunnah, hadis, dan ajaran beliau. Ketika ajaran Nabi dihadapkan dengan hawa nafsu atau pendapat pribadi, sikap yang mengambil jalan pintas atau meremehkan kebenaran yang dibawa Nabi adalah bentuk kontemporer dari tindakan yang dilarang dalam ayat ini. Keimanan yang sejati menuntut adanya pengagungan terhadap sumber syariat, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah.

🏠 Homepage