Fokus pada Surat Al-Maidah Ayat 73

Tauhid

Ilustrasi sederhana yang melambangkan keesaan.

Teks dan Terjemahan Surat Al-Maidah Ayat 73

Ayat ke-73 dari Surat Al-Maidah merupakan penegasan mendalam mengenai konsep dasar dalam Islam, yaitu tauhid atau keesaan Allah SWT. Ayat ini sering dikutip untuk membantah keyakinan musyrik atau politeisme.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۗ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۗ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
"Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya Allah adalah yang ketiga dari tiga (Trinitas),' padahal tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Ilah Yang Maha Esa. Dan jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, niscaya orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih." (QS. Al-Maidah: 73)

Kandungan Pokok: Penolakan Terhadap Tiga Tuhan

Fokus utama dari Surat Al-Maidah ayat 73 adalah respons tegas Al-Qur'an terhadap keyakinan sebagian kalangan pada masa itu yang menyatakan bahwa Allah adalah salah satu dari tiga Tuhan (konsep Trinitas). Ayat ini secara lugas menyatakan bahwa klaim tersebut adalah kekufuran (tidak beriman).

Islam dibangun di atas fondasi tauhid yang murni, yaitu keyakinan bahwa Allah adalah Al-Ahad (Yang Maha Esa) dan Al-Wahid (Tunggal). Tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang setara, dan tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Penegasan "Wama min Ilahin illa Ilahun Wahid" (tidak ada ilah selain Ilah Yang Maha Esa) adalah inti dari syahadat dan pondasi seluruh ajaran Islam.

Ancaman dan Konsekuensi

Selain pernyataan teologis yang jelas, ayat ini juga memberikan peringatan keras. Allah SWT mengancam bahwa jika mereka yang meyakini konsep tiga Tuhan tidak menghentikan ucapan dan keyakinan mereka tersebut, maka akan menimpa mereka azab yang pedih. Peringatan ini menekankan betapa seriusnya masalah menyekutukan Allah (syirik) dalam pandangan syariat.

Dalam konteks dakwah, ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran tauhid harus disampaikan tanpa kompromi, meskipun menghadapi perbedaan keyakinan yang mendasar. Tujuan akhir dari penegasan ini adalah menyelamatkan manusia dari kesesatan yang membawa konsekuensi abadi di akhirat.

Relevansi Sepanjang Masa

Meskipun konteks historis ayat ini ditujukan kepada komunitas tertentu pada masa kerasulan Nabi Muhammad SAW, pesan inti dari Surat Al-Maidah ayat 73 tetap relevan hingga kini. Ini menjadi pengingat abadi bagi seluruh umat Muslim untuk senantiasa memurnikan akidah mereka.

Memahami ayat ini membantu seorang Muslim untuk selalu waspada terhadap segala bentuk pemikiran atau praktik yang mengarah pada politeisme, baik dalam bentuk yang terang-terangan maupun yang terselubung. Keselamatan spiritual seseorang bergantung pada sejauh mana ia berpegang teguh pada prinsip keesaan Allah SWT. Menjaga tauhid adalah prioritas utama, sebagaimana ditegaskan oleh firman Allah dalam bagian akhir ayat tersebut mengenai azab yang menanti bagi mereka yang terus menerus dalam kekufuran tersebut.

Dengan demikian, ayat ini bukan sekadar narasi sejarah, melainkan pilar teologis yang mengokohkan fondasi keimanan umat Islam di seluruh dunia.

🏠 Homepage