Mengenal Batasan: Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 77

QS 5:77 Simbol Keadilan dan Peringatan Ilahi

Surat Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, sarat dengan pembahasan hukum, perjanjian, dan akhlak. Di dalamnya, terdapat ayat-ayat yang memberikan peringatan keras mengenai batasan-batasan moral dan spiritual yang tidak boleh dilanggar oleh seorang Mukmin. Salah satu ayat yang sangat menonjol dalam konteks ini adalah Surat Al-Maidah ayat 77. Ayat ini secara spesifik menyoroti bahaya melampaui batas dalam beragama, khususnya bagi mereka yang memiliki sumber daya dan kekuasaan.

Teks dan Terjemahan Surat Al-Maidah Ayat 77

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ
Katakanlah (Muhammad): "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebihan (melampaui batas) dalam agamamu, dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang sungguh telah sesat dahulu dan mereka telah menyesatkan banyak (orang), dan mereka telah tersesat dari jalan yang lurus."

Makna Inti: Peringatan Melampaui Batas (Ghulw)

Inti dari Al-Maidah ayat 77 terletak pada larangan "ghulw" (berlebihan atau melampaui batas). Allah SWT, melalui lisan Nabi Muhammad SAW, memerintahkan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) untuk tidak bersikap ekstrem dalam urusan agama mereka. Meskipun ayat ini ditujukan secara langsung kepada mereka, para ulama tafsir sepakat bahwa pesan ini bersifat universal dan berlaku bagi seluruh umat Islam.

Sikap berlebihan dalam agama dapat terwujud dalam berbagai bentuk. Bagi sebagian kelompok, ini bisa berarti mengagungkan tokoh agama atau Nabi hingga taraf yang mendekati ilahiyyah. Bagi yang lain, ia mungkin terwujud dalam bentuk ritual yang memberatkan, atau bahkan menolak kebenaran yang datang dari luar keyakinan mereka sendiri karena fanatisme buta. Konsekuensi dari sikap ghulw ini sangat jelas: ia menjauhkan seseorang dari kebenaran hakiki, yaitu jalan tengah (ash-shirath al-mustaqim).

Mengikuti Keinginan yang Sesat

Ayat ini melanjutkan larangannya dengan memperingatkan agar tidak mengikuti hawa nafsu (keinginan) orang-orang yang sebelumnya telah sesat. Ayat ini secara historis merujuk pada beberapa kelompok Yahudi dan Nasrani yang telah menyimpang dari ajaran asli para nabi mereka, seperti penolakan terhadap kenabian Muhammad SAW atau perubahan Taurat dan Injil.

Poin krusial di sini adalah bahwa kesesatan masa lalu memiliki potensi menular. Ketika seseorang mengikuti jejak langkah kaum yang telah terbukti menyimpang, meskipun mereka terlihat taat atau memiliki tradisi kuat, mereka berisiko mewarisi kesesatan tersebut. Ayat ini mengingatkan bahwa kuantitas pengikut atau lamanya tradisi tidak otomatis menjamin kebenaran. Kebenaran sejati diukur dari kesesuaiannya dengan wahyu ilahi.

Bahaya Kehilangan Jalan Lurus (Sawā as-Sabīl)

Frasa penutup, "wa dhalu 'an sawā as-sabīl" (dan mereka telah tersesat dari jalan yang lurus), adalah konsekuensi akhir dari dua larangan sebelumnya. Jalan lurus adalah jalan yang ditetapkan oleh Allah, yang dicontohkan oleh para Nabi dan diwariskan kepada umat Islam melalui Al-Qur'an dan Sunnah.

Ketika seseorang melakukan ghulw, ia menambahkan sesuatu yang tidak diperintahkan agama, dan ketika ia mengikuti hawa nafsu orang yang sesat, ia mengurangi atau mengubah apa yang seharusnya ia ikuti. Kedua tindakan ini akan mengakibatkan penyimpangan dari jalan tengah yang seimbang dan adil. Islam mengajarkan keseimbangan; tidak berlebihan dalam kerohanian hingga meninggalkan dunia, namun juga tidak tenggelam dalam duniawi hingga melupakan akhirat.

Relevansi Kontemporer Ayat 77

Di era modern, Surat Al-Maidah ayat 77 ini memiliki resonansi yang kuat. Dalam konteks persaingan ideologi dan paham keagamaan yang semakin terbuka, tantangan untuk tidak bersikap ekstrem (baik liberal ekstrem maupun konservatif ekstrem) menjadi nyata. Umat Islam didorong untuk berpegang teguh pada ajaran yang murni, menghindari pemikiran radikal yang seringkali lahir dari pemahaman parsial terhadap teks agama, serta menjauhi adaptasi budaya yang secara fundamental bertentangan dengan prinsip tauhid.

Memahami ayat ini berarti menanamkan kesadaran kritis: agama adalah panduan hidup yang paripurna, bukan arena untuk memuaskan ego atau mengikuti tren ideologis. Ia menuntut kejujuran intelektual untuk tunduk pada kebenaran yang ditetapkan Allah, bukan mengikuti tokoh atau kelompok yang telah lama menyimpang dari konsensus para ulama yang berpegang pada dalil shahih. Dengan demikian, Al-Maidah 77 menjadi kompas abadi bagi setiap Muslim agar senantiasa berada di jalur yang lurus, bebas dari belenggu ekstremitas dan bid'ah yang menyesatkan.

🏠 Homepage