Dalam ajaran Islam, terdapat peringatan-peringatan tegas mengenai akhir zaman dan hari perhitungan amal. Dua surat pendek dalam Al-Qur'an, yaitu Surat Al-Qari'ah (Surat yang Mengguncang) dan Surat Al-Zalzalah (Kegoncangan), secara eksplisit menggambarkan kengerian dan kedahsyatan peristiwa tersebut. Kedua surat ini, meskipun ringkas, menyimpan pesan kosmik yang mendalam tentang keadilan ilahi dan pertanggungjawaban universal.
Al-Qari'ah (Surat ke-101) dibuka dengan sumpah Allah terhadap nama hari kiamat itu sendiri: "Al-Qari'ah! Apakah Al-Qari'ah itu?" (QS. Al-Qari'ah: 1-2). Kata 'Al-Qari'ah' berasal dari akar kata yang berarti 'mengetuk dengan keras' atau 'mengguncang dengan hebat'. Ini adalah metafora untuk peristiwa yang tiba-tiba, mengejutkan, dan menghancurkan segala struktur duniawi yang selama ini dianggap kokoh.
Deskripsi selanjutnya menggambarkan intensitas guncangan tersebut. Gunung-gunung yang selama ini menjadi penanda keabadian dan keteguhan akan menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan.
Puncak dari surat ini adalah tentang penentuan nasib manusia. Segala amal perbuatan akan ditimbang menggunakan "Mawazin" (timbangan). Ayat 7 berbunyi, "Maka adapun orang-orang yang berat timbangan kebaikannya, maka ia berada dalam kehidupan yang memuaskan." Ini adalah momen paling krusial; keberuntungan atau kerugian seseorang bergantung pada kebaikan yang melebihi keburukan di timbangan tersebut. Sebaliknya, jika timbangan kebaikannya ringan, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah, jurang yang menyala.
Sementara Al-Qari'ah fokus pada dampak global dan penimbangan amal, Surat Al-Zalzalah (Surat ke-99) lebih menekankan pada proses goncangan dan kesaksian bumi itu sendiri. Surat ini dimulai dengan pertanyaan retoris yang sangat kuat: "Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan isi beratnya," (QS. Al-Zalzalah: 1-2).
Goncangan ini tidak sekadar gempa bumi biasa; ini adalah dislokasi total tata ruang alam semesta yang menandakan berakhirnya masa hidup dunia. Manusia saat melihat fenomena ini akan berkata dengan kebingungan dan ketakutan luar biasa: "Mengapa bumi menjadi demikian?" (Ayat 3).
Inti ajaran dari Surat Al-Zalzalah terletak pada ayat berikutnya, yang sering disebut sebagai prinsip keadilan absolut:
Pada hari itu, bumi akan menyampaikan semua beritanya. Bumi yang selama ini menjadi saksi bisu setiap langkah, setiap transaksi, setiap perbuatan rahasia, akan dipaksa berbicara dan melaporkan semuanya kepada Allah SWT. Ayat ini mengingatkan bahwa tidak ada tindakan, sekecil apapun ('mitsqala dzarrah' – seberat atom), yang terlepas dari pencatatan dan pertanggungjawaban.
Kedua surat ini bekerja secara sinergis dalam memberikan gambaran utuh tentang akhirat. Al-Zalzalah menyiapkan panggung kehancuran dan kesaksian, sementara Al-Qari'ah menjelaskan mekanisme penghakiman (penimbangan amal) yang menentukan nasib akhir. Kedua narasi ini berfungsi sebagai alarm bagi umat manusia untuk selalu sadar akan pertanggungjawaban. Ketika bumi diguncang dan segala rahasia terungkap, tidak ada lagi tempat untuk berlindung selain amal shaleh yang telah dikumpulkan.
Memahami Al-Qari'ah dan Al-Zalzalah bukan sekadar pengetahuan teologis, melainkan motivasi praktis untuk menjalani hidup dengan integritas. Kita diingatkan bahwa masa depan kita tidak ditentukan oleh kekayaan atau kekuatan duniawi, melainkan oleh bobot kebaikan yang ringan di mata manusia tetapi berat di hadapan Timbangan Ilahi. Mereka adalah pengingat permanen bahwa setiap detik hidup di bumi ini sedang dihitung dan bumi itu sendiri akan menjadi saksi utama kita.