إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا
(1) Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat,
وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا
(2) dan bumi mengeluarkan isi perutnya,
وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا
(3) dan manusia bertanya, "Ada apa dengan bumi ini?"
يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا
(4) Pada hari itu bumi menceritakan berita-berita tentang dirinya,
بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَىٰ لَهَا
(5) karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan demikian kepadanya.
يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِّيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ
(6) Pada hari itu manusia keluar dari kubur mereka dalam keadaan berkelompok-kelompok untuk diperlihatkan kepada mereka perbuatan mereka.
Ayat pertama memulai dengan deskripsi yang sangat dramatis: "Idzaa zulzilatil ardu zilzaalaha". Kata "zilzalaha" (guncangan yang dahsyat) menggunakan akar kata yang sama dengan nama suratnya, menekankan intensitas kejadian tersebut. Ini bukan sekadar gempa bumi biasa; ini adalah guncangan terakhir yang menghancurkan tatanan alam semesta sebagaimana yang kita kenal.
Ayat kedua memperkuat gambaran ini dengan menyatakan bahwa bumi akan "mengeluarkan isi perutnya" (akhrajatil ardu atqalaha). Dalam konteks tafsir klasik, ini sering diartikan sebagai keluarnya semua mayat atau beban tersembunyi yang ada di dalam perut bumi, termasuk harta karun atau bangkai peradaban yang telah terkubur. Ini adalah simbol keterbukaan total, di mana tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.
Ketika bencana kosmik terjadi, reaksi manusia digambarkan secara sederhana namun kuat: "Waqaalal insaanu maa lahaa?" (Dan manusia bertanya, "Ada apa dengan bumi ini?"). Rasa bingung dan ketakutan yang luar biasa melanda semua manusia. Mereka yang tadinya sombong dan menganggap diri penguasa bumi kini dihadapkan pada kenyataan bahwa alam yang mereka pijak telah berubah total. Pertanyaan ini menandai berakhirnya masa kealpaan dan dimulainya kesadaran akan kebangkitan.
Puncak penceritaan dalam bagian ini terletak pada ayat 4 dan 5. Bumi, yang selama ini menjadi saksi bisu atas segala perbuatan manusia—baik kebaikan maupun kejahatan—kini diperintahkan untuk berbicara: "Yaumadzin tuhadditsu akhbaarahaa" (Pada hari itu bumi menceritakan berita-berita tentang dirinya).
Mengapa bumi yang berbicara? Karena ia adalah arena tempat semua amal dilaksanakan. Semua jejak langkah, setiap pertengkaran, setiap amal jariyah, setiap kebohongan, tercatat di atas permukaannya. Ayat 5 menjelaskan bahwa perintah ini datang langsung dari Allah: "Bianna Rabbaka awhaa lahaa" (Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan demikian kepadanya). Ini menunjukkan bahwa kesaksian bumi adalah kebenaran mutlak yang tidak bisa dibantah, sebuah mekanisme keadilan Ilahi yang sempurna.
Ayat keenam mengaitkan keguncangan bumi dengan tujuan akhir dari peristiwa tersebut: pertanggungjawaban. "Yaumadzin yasdurun naasu asytaatal liyuraw a'maaluhum". Pada hari itu, manusia akan keluar dari kubur mereka tidak lagi dalam kelompok yang sama seperti di dunia (kelompok kaya, miskin, teman, lawan), melainkan dalam kelompok yang berbeda-beda (asytataan), yaitu kelompok berdasarkan amal perbuatan mereka.
Tujuan pemisahan ini sangat jelas: untuk diperlihatkan setiap amal yang pernah mereka lakukan. Ayat 1 hingga 6 secara kolektif membangun suasana ketegangan yang berakhir pada kesimpulan penting: segala sesuatu di dunia ini fana, tetapi jejak perbuatan kita diabadikan oleh alam itu sendiri untuk disaksikan di hadapan Yang Maha Kuasa. Surat ini berfungsi sebagai pengingat tegas akan tanggung jawab moral kita selama berada di bumi.