Makna dan Kisah di Balik Surat Al-Maidah Ayat 20 dan 21

Ilustrasi simbolis dari kisah Musa diperintahkan memasuki tanah suci.

Teks Surat Al-Maidah Ayat 20 dan 21

Surat Al-Maidah adalah surat ke-5 dalam Al-Qur'an. Ayat 20 dan 21 dari surat ini secara spesifik menceritakan momen penting dalam sejarah Bani Israil, yaitu ketika Nabi Musa diperintahkan untuk memimpin kaumnya memasuki tanah suci (Palestina), namun mereka menolak.

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنبِيَاءَ وَجَعَلَكُم مُّلُوكًا وَآتَاكُم مَّا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِّنَ الْعَالَمِينَ
"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Wahai kaumku! Ingatlah nikmat Allah atasmu, ketika Dia menjadikan di antaramu para nabi, dan Dia menjadikan kamu para raja, serta Dia memberikan kepadamu apa yang belum pernah Dia berikan kepada seorang pun di antara alam (seisinya).'" (QS. Al-Maidah: 20)
يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي وَعَدَكُمُ اللَّهُ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِكُمْ فَتَنقَلِبُوا خَاسِرِينَ
"'Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah dijanjikan Allah untukmu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (menjadi murtad), karena sesungguhnya kamu akan menjadi orang-orang yang rugi.'" (QS. Al-Maidah: 21)

Konteks Historis dan Pelajaran Iman

Ayat 20 dan 21 dari Surat Al-Maidah membawa kita kembali ke periode setelah pembebasan Bani Israil dari perbudakan di Mesir di bawah pimpinan Nabi Musa AS. Ayat 20 adalah seruan inspiratif dari Nabi Musa kepada kaumnya, mengingatkan mereka akan status istimewa yang telah Allah anugerahkan kepada mereka. Allah telah mengangkat para nabi di antara mereka, menjadikan mereka pemimpin (raja), dan memberikan kemuliaan yang belum pernah diberikan kepada bangsa lain pada masa itu. Ini adalah pengingat akan rahmat dan kepercayaan besar yang diemban oleh Bani Israil.

Pesan ini bertujuan untuk mempersiapkan mereka menghadapi tantangan besar yang akan datang. Setelah semua pertolongan ilahi yang mereka saksikan—mulai dari wabah di Mesir, terbelahnya Laut Merah, hingga turunnya makanan (manna dan salwa) di padang pasir—tugas selanjutnya adalah membuktikan kesetiaan mereka.

Seruan Memasuki Tanah Suci

Ayat 21 melanjutkan dengan perintah langsung: "Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah dijanjikan Allah untukmu." Tanah suci ini adalah wilayah yang dijanjikan Allah kepada keturunan Nabi Ibrahim AS sebagai warisan. Ini adalah tujuan akhir dari perjalanan panjang mereka.

Namun, ayat ini juga mengandung peringatan keras: "...dan janganlah kamu berbalik ke belakang (menjadi murtad), karena sesungguhnya kamu akan menjadi orang-orang yang rugi." Penolakan untuk maju atau kembali kepada pola pikir perbudakan adalah ujian iman yang krusial. Keengganan mereka saat itu, yang sering dijelaskan dalam kisah-kisah selanjutnya, disebabkan oleh rasa takut terhadap penduduk asli yang kuat dan kebiasaan hidup yang nyaman di Mesir. Mereka memilih untuk menolak janji Allah demi kenyamanan sesaat, yang berujung pada hukuman pengembaraan selama empat puluh tahun di padang gurun.

Implikasi Universal dari Ayat Ini

Meskipun konteks historisnya spesifik untuk Bani Israil, ayat ini memberikan pelajaran universal yang abadi bagi setiap Muslim. Surat Al-Maidah ayat 20-21 mengajarkan pentingnya menjaga nikmat Allah, yaitu iman dan potensi kepemimpinan spiritual. Ketika Allah memberikan kenikmatan atau kesempatan besar, itu seringkali disertai dengan tanggung jawab yang berat.

Seruan untuk "memasuki tanah yang dijanjikan" dapat diartikan secara metaforis sebagai dorongan untuk meraih cita-cita kebaikan, menegakkan kebenaran, atau menghadapi tantangan besar dalam hidup, tanpa rasa gentar yang berlebihan terhadap kesulitan duniawi. Rasa takut yang berlebihan atau ketidakmauan untuk berkorban demi meraih ridha Allah akan selalu berujung pada kerugian, sebagaimana yang dialami oleh kaum Musa ketika mereka memilih untuk mundur.

Intinya, ayat ini adalah pengingat bahwa janji Allah pasti ditepati, tetapi memerlukan partisipasi aktif, keberanian, dan keteguhan iman dari pihak yang dijanjikan. Penolakan atau kemunduran iman di saat kritis adalah jalan menuju kegagalan spiritual dan duniawi.

🏠 Homepage