Ilustrasi Konsep Pewahyuan dan Penjagaan Firman
Surat Al-Hijr (Surat ke-15 dalam Al-Qur'an) mengandung banyak pelajaran penting mengenai keesaan Allah, kisah para nabi terdahulu, dan juga penekanan kuat terhadap keotentikan Al-Qur'an. Ayat ke-9, yang menjadi fokus pembahasan ini, adalah salah satu janji ilahi yang paling monumental bagi umat Islam. Ayat ini secara eksplisit menegaskan bahwa Al-Qur'an bukanlah ciptaan manusia, melainkan wahyu langsung dari Allah SWT.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ" (Inna nahnu nazzalna adh-Dzikra), yang berarti "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an (Adz-Dzikr)". Penggunaan kata ganti orang pertama jamak "Kami" (Nahnu) dalam konteks ketuhanan adalah bentuk pengagungan (ta'zhim) yang menunjukkan kekuasaan mutlak Allah sebagai sumber wahyu. "Adz-Dzikr" di sini merujuk pada Al-Qur'an, Kitab Suci yang menjadi pedoman utama bagi kehidupan.
Namun, inti dari ayat ini terletak pada bagian kedua: "وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ" (Wa inna lahu lahafidzun), yaitu "dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." Janji pemeliharaan ini memiliki implikasi yang sangat luas dan mendalam. Berbeda dengan kitab-kitab suci terdahulu yang mengalami perubahan, penambahan, atau penghapusan makna seiring waktu akibat campur tangan manusia, Allah SWT menjamin bahwa Al-Qur'an akan tetap terjaga keasliannya hingga akhir zaman.
Pemeliharaan Allah terhadap Al-Qur'an mencakup berbagai aspek. Secara tekstual, pemeliharaan ini diwujudkan dalam bentuk hafalan oleh jutaan umat Muslim di seluruh dunia (para penghafal Al-Qur'an), serta penulisan yang teliti di atas berbagai media selama empat belas abad. Transmisi ayat per ayat, dari Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat, dan terus berantai hingga kini, terjamin keakuratan sanadnya.
Selain pemeliharaan lafadz (teks), janji ini juga mencakup pemeliharaan makna dan ajarannya. Hukum-hukum, hikmah, dan petunjuk moral yang terkandung di dalamnya tetap relevan dan tidak lekang oleh perubahan zaman. Ini adalah mukjizat abadi Al-Qur'an yang membedakannya dari teks-teks kuno lainnya. Ketika bangsa-bangsa lain mungkin kesulitan mencari teks asli dari kitab suci mereka yang telah lama, umat Islam dapat merujuk pada Mushaf yang tersebar di seluruh dunia dan menemukan kesamaan persis.
Penting bagi seorang Muslim untuk menghayati ayat ini sebagai sumber ketenangan. Di tengah keraguan atau tuduhan mengenai keaslian Al-Qur'an, ayat 9 Al-Hijr berdiri tegak sebagai bukti nyata bahwa kitab suci ini berada di bawah perlindungan langsung dari Pencipta alam semesta. Tugas kita sebagai umat adalah merenungkan, memahami, dan mengamalkan petunjuk yang telah dipelihara oleh-Nya ini.
Ayat ini juga merupakan peringatan bagi mereka yang mencoba menyimpang atau mengubah ajaran Al-Qur'an. Upaya apa pun yang dilakukan manusia untuk merusak atau menyesatkan Al-Qur'an akan selalu gagal karena Allah telah menetapkan bahwa Dia sendiri yang akan menjaganya. Janji ini mengukuhkan posisi Al-Qur'an sebagai satu-satunya kitab suci yang otentik dan tidak terubah hingga hari kiamat.
Dengan memahami kedalaman makna ayat "Inna nahnu nazzalna Adz-Dzikra wa inna lahu lahafidzun", seorang mukmin semakin mantap dalam keyakinannya terhadap sumber ajaran agamanya. Ayat ini bukan sekadar informasi historis, melainkan sebuah deklarasi ilahi yang menjadi fondasi bagi akidah dan praktik keagamaan umat Islam.