Surat An-Najm, yang berarti "Bintang", adalah surat ke-53 dalam urutan Mushaf Utsmani. Surat ini tergolong surat Makkiyah, diturunkan di Mekkah sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Sebagai surat Makkiyah, An-Najm banyak membahas tentang tauhid, keesaan Allah SWT, bantahan terhadap kesyirikan, dan penegasan akan wahyu yang dibawa oleh Rasulullah. Salah satu aspek penting yang menjadi landasan utama dalam surat ini adalah penguatan posisi kenabian Muhammad SAW, terutama ketika kaum musyrikin meragukan kejujuran dan keaslian wahyu yang diterimanya.
Penamaan surat ini diambil dari ayat pertama: "Demi bintang apabila ia terbenam." Ayat-ayat awal ini menjadi saksi nyata atas kebenaran wahyu yang diterima Rasulullah, menegaskan bahwa apa yang diwahyukan bukanlah berdasarkan hawa nafsu atau kebohongan, melainkan wahyu yang murni dari Allah SWT.
Ilustrasi simbolis malam dan perjalanan spiritual.
Meskipun Surat An-Najm tidak secara eksplisit menceritakan seluruh detail kronologis perjalanan Isra Mi'raj seperti yang terdapat dalam hadis-hadis shahih, ayat-ayat tertentu dalam surat ini diyakini oleh banyak mufassir sebagai referensi penting yang menegaskan kebenaran peristiwa agung tersebut. Peristiwa Isra Mi'raj adalah mukjizat luar biasa yang dialami Rasulullah SAW, perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra), dilanjutkan dengan kenaikan beliau ke langit (Mi'raj) hingga Sidratul Muntaha.
Ayat kunci yang sering dikaitkan adalah ayat 13 hingga 18:
"Dan sungguh, (Muhammad) telah melihat Jibril dalam perwujudan aslinya pada kali yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal (al-Ma'wa). (Tafsir: Ketika ia sedang berada di Sidratul Muntaha, yaitu suatu pohon di atas langit ketujuh, di mana tidak ada seorang pun yang bisa melewatinya kecuali para malaikat dan para Nabi.) Ketika (Sidratul Muntaha) itu diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Maka, pandangan (Muhammad) tidak berpaling (dari apa yang dilihatnya) dan tidak pula melampauinya. Sungguh, ia telah melihat sebagian tanda-tanda Tuhannya yang paling besar." (QS. An-Najm: 13-18)
Ayat-ayat ini secara definitif menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar melihat Jibril dalam wujud aslinya, dan mencapai batas tertinggi di alam semesta, yaitu Sidratul Muntaha. Sidratul Muntaha adalah titik akhir dalam Mi'raj vertikal Nabi. Melihat tanda-tanda kebesaran Allah di sana membuktikan bahwa beliau telah melintasi batas-batas alam materi dan menyaksikan realitas yang hanya bisa diakses melalui wahyu ilahi.
Surat An-Najm juga berfungsi sebagai pembelaan langsung terhadap tuduhan kaum kafir Mekah bahwa Nabi mengarang-ngarang ayat atau mendapatkan wahyu dari jin atau setan. Ayat-ayat ini menegaskan kembali bahwa penglihatan Nabi adalah nyata dan bersumber dari Allah, bukan ilusi. Ketika disebutkan bahwa Nabi melihat Jibril dalam wujud aslinya (yang pertama kali terjadi di Gua Hira, dan yang kedua di Sidratul Muntaha saat Mi'raj), ini memperkuat otoritas kenabiannya.
Ayat 18, "Sungguh, ia telah melihat sebagian tanda-tanda Tuhannya yang paling besar," adalah puncak penegasan. Ini bukan sekadar mimpi biasa atau penglihatan sesaat, melainkan pengalaman spiritual tertinggi yang melibatkan penglihatan fisik (spiritual) Nabi terhadap kebesaran Ilahi, yang merupakan inti dari mukjizat Isra Mi'raj. Peristiwa ini membuktikan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan terpilih yang diangkat langsung oleh Allah SWT untuk menerima risalah dan menyaksikan keagungan-Nya.
Surat An-Najm memainkan peran krusial dalam menguatkan fondasi keimanan terhadap kenabian Muhammad SAW. Melalui deskripsi gamblang tentang pertemuan Nabi dengan Jibril di Sidratul Muntaha, surat ini secara tidak langsung memberikan konfirmasi ilahiah atas kebenaran perjalanan agung Isra Mi'raj. Peristiwa ini, yang dijelaskan secara ringkas namun kuat dalam An-Najm, menjadi salah satu pilar mukjizat yang membuktikan bahwa beliau adalah manusia biasa yang diangkat Allah untuk menyaksikan rahasia alam semesta dan menyampaikan ajaran-Nya kepada umat manusia.