Surat Al-Hijr: Kisah Kaum Tsamud dan Peringatan Ilahi

Ilustrasi Pemandangan Gurun dengan Ukiran Batu Al-Hijr

Surat Al-Hijr, yang menempati urutan ke-15 dalam susunan mushaf Al-Qur'an, adalah surat yang penuh dengan pelajaran mendalam mengenai kebesaran Allah, kekuasaan-Nya dalam menciptakan, serta konsekuensi dari pembangkangan. Nama "Al-Hijr" sendiri berasal dari kata yang merujuk pada nama sebuah lembah yang pernah dihuni oleh kaum Tsamud, sebuah kaum terdahulu yang diberi mukjizat luar biasa namun berakhir dengan kehancuran akibat kesombongan mereka.

Mukjizat dan Kehancuran Kaum Tsamud

Kisah kaum Tsamud menjadi salah satu narasi sentral dalam surat ini. Mereka adalah kaum yang diberkahi dengan kemampuan luar biasa untuk memahat rumah-rumah mereka dari gunung-gunung batu. Dalam Surat Al-Hijr ayat 80 hingga 84, Allah SWT menceritakan bagaimana kaum Tsamud menolak seruan Nabi Shaleh AS. Meskipun telah diperingatkan secara tegas mengenai azab yang akan menimpa jika mereka terus mendustakan ayat-ayat Allah, mereka justru menantang dengan meminta bukti nyata.

Mukjizat yang diberikan kepada mereka adalah seekor unta betina yang keluar dari celah batu. Unta tersebut memiliki hak minum yang terbagi jelas dengan mereka. Namun, kesombongan dan keangkuhan yang mengakar dalam diri mereka mendorong mereka untuk menyembelih unta tersebut. Akibat kedurhakaan fatal ini, mereka dihukum dengan guncangan keras dan akhirnya binasa, meninggalkan jejak peradaban mereka yang terpahat di batu-batu sebagai peringatan abadi bagi generasi mendatang. Kisah ini berfungsi sebagai cermin bagi umat Nabi Muhammad SAW, agar tidak jatuh pada kesombongan yang sama.

Keindahan Penciptaan dan Keagungan Sang Pencipta

Berbeda dengan kisah pembinasaan yang keras, Al-Hijr juga dipenuhi dengan ayat-ayat yang mengajak perenungan terhadap keindahan alam semesta ciptaan Allah. Surat ini secara berulang menekankan bagaimana Allah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran dan tujuan yang tepat. Mulai dari penciptaan langit yang dihiasi bintang-bintang, pembagian air hujan yang terukur, hingga proses pertumbuhan tanaman yang ajaib.

Ayat-ayat seperti ayat 19 yang berbunyi, "Dan Kami telah menghamparkan bumi dan Kami pancangkan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran," menegaskan prinsip keseimbangan (mizan) dalam ciptaan-Nya. Perenungan atas hal-hal ini seharusnya mendorong hati manusia untuk tunduk dan bersyukur, bukan malah berlagak sombong seperti kaum Tsamud.

Peran Setan dan Kehati-hatian Terhadap Waswas

Babak penting lainnya dalam Al-Hijr adalah pengisahan tentang Iblis (Setan) yang enggan bersujud kepada Nabi Adam AS atas perintah Allah. Keengganan ini didasari oleh kesombongannya, di mana ia merasa lebih mulia karena diciptakan dari api, sedangkan Adam diciptakan dari tanah. Penolakan ini menyebabkan ia diusir dari rahmat Allah.

Setelah diusir, Iblis bersumpah untuk menyesatkan seluruh umat manusia, kecuali hamba-hamba Allah yang telah disucikan. Hal ini menjadi peringatan keras bagi setiap Muslim mengenai adanya musuh nyata yang selalu mengintai dan membisikkan keraguan serta godaan. Surat ini mengingatkan bahwa meskipun janji godaan Setan itu nyata, Allah memberikan jaminan perlindungan bagi hamba-hamba-Nya yang teguh memegang kebenaran.

Keutamaan Membaca dan Menjaga Al-Qur'an

Di bagian akhir surat, Allah SWT memberikan penegasan mengenai kedudukan Al-Qur'an itu sendiri. Ayat 9 merayakan janji Allah untuk menjaga kemurnian Al-Qur'an dari segala bentuk penyelewengan atau perubahan, sebuah jaminan yang tidak diberikan kepada kitab-kitab suci sebelumnya. Hal ini memberikan ketenangan hati bagi umat Islam, bahwa mereka memiliki pedoman hidup yang otentik hingga akhir zaman.

Oleh karena itu, mempelajari Surat Al-Hijr bukan sekadar membaca kisah-kisah masa lalu, melainkan sebuah panggilan untuk introspeksi diri. Ia mengingatkan kita agar selalu bersyukur atas nikmat penciptaan, waspada terhadap kesombongan yang dapat membawa kehancuran, dan teguh memegang pedoman ilahi yang telah dijamin keasliannya. Surat ini adalah gabungan harmonis antara peringatan keras (ancaman) dan janji manis (rahmat dan perlindungan bagi yang taat).

🏠 Homepage