Ilustrasi simbolis tentang wahyu dan petunjuk Al-Maidah.
Surat Al-Maidah, yang merupakan surat ke-5 dalam susunan mushaf Al-Qur'an, memiliki posisi istimewa. Nama surat ini diambil dari kisah mukjizat hidangan (ma'idah) yang diturunkan kepada Bani Israil atas permintaan Hawariyyin (pengikut setia Nabi Isa 'alaihissalam). Namun, makna yang terkandung dalam surat ini jauh melampaui kisah tersebut. Al-Maidah adalah surat Madaniyah yang kaya akan pembahasan hukum, etika sosial, perjanjian, dan penguatan akidah.
Salah satu inti utama dari Surat Al-Maidah adalah penetapan berbagai hukum syariat Islam. Surat ini menegaskan pentingnya menunaikan janji dan akad (QS. Al-Maidah ayat 1). Ayat-ayat awal juga membahas secara rinci tentang halal dan haramnya makanan, termasuk penghalalan binatang ternak dan pengharaman bangkai, darah, serta daging babi. Ketentuan ini menjadi landasan fundamental dalam kehidupan seorang Muslim terkait konsumsi dan interaksi dengan lingkungannya.
Lebih lanjut, Al-Maidah memberikan aturan mengenai tata cara shalat, terutama saat hendak melaksanakan shalat dengan tayammum jika dalam kondisi tertentu. Ayat-ayat mengenai wudhu dan bersuci menunjukkan betapa pentingnya kesucian lahiriah sebagai prasyarat menghadap Allah SWT. Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang komprehensif, mengatur baik urusan ibadah ritual maupun muamalah (interaksi sosial).
Al-Maidah menekankan perlunya menegakkan keadilan secara mutlak. Ayat 8 dari surat ini adalah seruan moral yang sangat kuat: "Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan karena Allah, lagi pula karena menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa..." Ayat ini menjadi pedoman universal bagi umat Islam dalam bersikap, bahkan ketika berhadapan dengan pihak yang berseberangan. Keadilan bukan hanya kewajiban hukum, tetapi juga merupakan puncak dari ketakwaan.
Selain itu, surat ini juga menyinggung tentang tanggung jawab umat terhadap kepemimpinan dan penegakan syariat. Allah SWT memberikan peringatan keras kepada Bani Israil yang menyia-nyiakan perjanjian mereka dengan Allah dan para rasul-Nya. Kontras dengan mereka, umat Islam diperintahkan untuk memegang teguh janji dan menghindari penyimpangan yang pernah dilakukan umat terdahulu.
Seperti yang telah disinggung, kisah hidangan dari langit (Ma'idah) menjadi penanda penting dalam surat ini. Kisah ini berfungsi untuk menguji keimanan kaum Hawariyyin dan menunjukkan kasih sayang Allah kepada para pengikut yang tulus.
Al-Maidah juga memuat dialog penting mengenai hubungan Islam dengan Ahli Kitab, yaitu Yahudi dan Nasrani. Surat ini menegaskan bahwa Islam adalah penyempurnaan dari risalah sebelumnya. Meskipun mengkritisi penyimpangan akidah yang dilakukan oleh sebagian Yahudi dan Nasrani, surat ini tetap membedakan antara mereka yang jujur dalam keimanannya dengan mereka yang menolak kebenaran. Ayat yang menyatakan bahwa makanan yang disembelih oleh Ahli Kitab itu halal bagi Muslim, sementara wanita dari kalangan mereka boleh dinikahi, menunjukkan prinsip keterbukaan dan toleransi dalam batasan syariat yang jelas.
Surat Al-Maidah ditutup dengan ayat yang mengagumkan, yaitu ayat terakhir (ayat 3), yang menegaskan kesempurnaan agama Islam: "Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu." Penegasan ini menandakan bahwa risalah Islam telah final dan lengkap, tidak memerlukan tambahan atau pengurangan setelahnya.
Secara keseluruhan, Al-Maidah adalah sumber hukum dan etika yang mengatur kehidupan Muslim secara holistik, mulai dari hal paling pribadi (makanan) hingga prinsip bernegara (keadilan dan perjanjian). Mempelajari surat ini adalah upaya mendekatkan diri pada pemahaman menyeluruh tentang syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.