Kisah Permintaan Kaum Nabi Isa: Al-Ma'idah Ayat 114

Ilustrasi Doa dan Berkah

Surat Al-Ma'idah, surat kelima dalam Al-Qur'an, menyimpan banyak kisah penting mengenai sejarah kenabian dan penetapan hukum-hukum ilahi. Salah satu ayat yang sangat mendalam dan sering menjadi bahan perenungan adalah ayat ke-114, yang berisi doa Nabi Isa 'alaihissalam (Yesus) kepada Allah SWT setelah mukjizat penurunan hidangan (Al-Ma'idah) dari langit.

Ayat ini tidak hanya menceritakan sebuah peristiwa historis, tetapi juga mengajarkan prinsip dasar tawakkal, pengakuan akan kekuasaan mutlak Allah, serta harapan akan ampunan dan rahmat-Nya di dunia dan akhirat.

Teks dan Terjemahan Al-Ma'idah Ayat 114

قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ ۖ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
Isa putra Maryam berkata, "Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit, yang hari turunnya menjadi hari raya bagi kami, baik bagi orang-orang yang ada bersama kami maupun yang datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu dari Engkau. Berilah kami rezeki, dan Engkaulah Pemberi rezeki yang paling utama."

Konteks Penurunan Hidangan

Kisah ini terjadi ketika Bani Israil, setelah menyaksikan berbagai mukjizat yang dilakukan oleh Nabi Isa AS, masih memiliki keraguan dan permintaan yang memberatkan hati mereka. Mereka meminta agar diturunkan makanan dari langit, serupa dengan mukjizat yang pernah dialami oleh kaum Nabi Musa AS. Permintaan ini pada dasarnya adalah ujian keimanan yang dilakukan oleh sebagian dari mereka.

Nabi Isa AS, sebagai seorang nabi yang penuh kasih dan memahami kelemahan umatnya, kemudian memanjatkan doa yang sangat indah kepada Allah. Doa ini menunjukkan sikap seorang hamba yang sempurna: mengakui kebesaran Allah sebagai Rabb (Tuhan Yang Memelihara) dan memohon rezeki langsung dari sumbernya.

Pelajaran Penting dari Doa Nabi Isa

Doa yang tersemat dalam Surat Al-Ma'idah ayat 114 ini mengandung beberapa dimensi penting dalam kehidupan seorang Muslim.

  1. Pengakuan Ketuhanan Penuh: Nabi Isa memulai dengan memanggil Allah dengan sebutan "Allahumma Rabbana" (Ya Allah, Tuhan kami). Ini menegaskan bahwa semua urusan, termasuk kebutuhan dasar seperti rezeki, harus dikembalikan kepada Allah yang Maha Mengatur.
  2. Permintaan Tanda Kenabian: Permintaan hidangan itu tidak hanya demi perut, tetapi juga "menjadi tanda bagi kami dari Engkau" (wa ayatan minka). Ini menunjukkan bahwa mukjizat adalah sarana untuk menguatkan keyakinan, bukan sekadar hiburan duniawi.
  3. Berkah Lintas Generasi: Nabi Isa berdoa agar hidangan tersebut menjadi hari raya "bagi orang-orang yang ada bersama kami dan yang datang setelah kami." Ini adalah doa yang mencakup keberkahan untuk generasi yang akan datang, menekankan pentingnya warisan spiritual dan kenangan akan pertolongan Allah.
  4. Tawakkal dalam Memohon Rezeki: Bagian penutup, "Wazuqna wa Anta Khairur Raziqin" (Berilah kami rezeki, dan Engkaulah Pemberi rezeki yang paling utama), adalah puncak tawakkal. Setelah mengakui bahwa Allah adalah yang terbaik dalam memberi, manusia hanya perlu berusaha dan berserah.

Meskipun hidangan itu diturunkan, kisah ini berlanjut dengan peringatan keras dari Allah SWT bahwa siapa pun setelah itu yang kufur nikmat atau mengingkari kebenaran setelah melihat bukti nyata, akan Dia azab dengan azab yang tidak pernah Dia timpakan kepada siapapun di antara umat manusia. Ini adalah pengingat bahwa nikmat besar selalu disertai tanggung jawab yang besar pula.

Oleh karena itu, Al-Ma'idah ayat 114 menjadi pengingat abadi bahwa mencari rezeki harus selalu disertai dengan ketundukan, rasa syukur, dan kesadaran penuh bahwa Allah adalah sumber segala kebaikan, yang rezeki-Nya melampaui batas-batas yang dapat dijangkau oleh akal manusia.

🏠 Homepage