Surat Al-Ma'idah, surat kelima dalam Al-Qur'an, menyimpan banyak kisah penting mengenai sejarah kenabian dan penetapan hukum-hukum ilahi. Salah satu ayat yang sangat mendalam dan sering menjadi bahan perenungan adalah ayat ke-114, yang berisi doa Nabi Isa 'alaihissalam (Yesus) kepada Allah SWT setelah mukjizat penurunan hidangan (Al-Ma'idah) dari langit.
Ayat ini tidak hanya menceritakan sebuah peristiwa historis, tetapi juga mengajarkan prinsip dasar tawakkal, pengakuan akan kekuasaan mutlak Allah, serta harapan akan ampunan dan rahmat-Nya di dunia dan akhirat.
Kisah ini terjadi ketika Bani Israil, setelah menyaksikan berbagai mukjizat yang dilakukan oleh Nabi Isa AS, masih memiliki keraguan dan permintaan yang memberatkan hati mereka. Mereka meminta agar diturunkan makanan dari langit, serupa dengan mukjizat yang pernah dialami oleh kaum Nabi Musa AS. Permintaan ini pada dasarnya adalah ujian keimanan yang dilakukan oleh sebagian dari mereka.
Nabi Isa AS, sebagai seorang nabi yang penuh kasih dan memahami kelemahan umatnya, kemudian memanjatkan doa yang sangat indah kepada Allah. Doa ini menunjukkan sikap seorang hamba yang sempurna: mengakui kebesaran Allah sebagai Rabb (Tuhan Yang Memelihara) dan memohon rezeki langsung dari sumbernya.
Doa yang tersemat dalam Surat Al-Ma'idah ayat 114 ini mengandung beberapa dimensi penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Meskipun hidangan itu diturunkan, kisah ini berlanjut dengan peringatan keras dari Allah SWT bahwa siapa pun setelah itu yang kufur nikmat atau mengingkari kebenaran setelah melihat bukti nyata, akan Dia azab dengan azab yang tidak pernah Dia timpakan kepada siapapun di antara umat manusia. Ini adalah pengingat bahwa nikmat besar selalu disertai tanggung jawab yang besar pula.
Oleh karena itu, Al-Ma'idah ayat 114 menjadi pengingat abadi bahwa mencari rezeki harus selalu disertai dengan ketundukan, rasa syukur, dan kesadaran penuh bahwa Allah adalah sumber segala kebaikan, yang rezeki-Nya melampaui batas-batas yang dapat dijangkau oleh akal manusia.