Menguak Makna Spiritual Surat Terkait Isra Mi'raj

Peristiwa Isra Mi'raj merupakan salah satu mukjizat terbesar yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, sebuah perjalanan agung dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra), dilanjutkan ke Sidratul Muntaha (Mi'raj). Meskipun peristiwa ini merupakan kisah naratif, dampaknya sangat mendalam sehingga seringkali menjadi rujukan dalam berbagai literatur dan surat-surat keagamaan, terutama yang membahas tentang fondasi syariat Islam.

Ketika berbicara mengenai surat yang berkaitan dengan Isra Mi'raj, kita tidak selalu menemukan penyebutan langsung nama peristiwa tersebut dalam ayat-ayat Al-Qur'an. Sebagian besar landasan utama peristiwa ini diambil dari gabungan hadis shahih. Namun, satu surat dalam Al-Qur'an secara eksplisit merujuk pada bagian awal dari perjalanan tersebut, yaitu Isra. Surat tersebut adalah Surat Al-Isra’ (atau dikenal juga sebagai Bani Isra’il).

Perjalanan Cahaya Spiritual

Visualisasi konsep perjalanan spiritual Isra Mi'raj.

Korelasi Surat Al-Isra’ Ayat 1

Ayat pembuka Surat Al-Isra’ adalah titik temu utama yang sering dikaitkan dengan peristiwa agung ini. Allah SWT berfirman: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Isra’: 1).

Ayat ini secara eksplisit menegaskan aspek Isra (perjalanan malam dari Mekkah ke Yerusalem). Surat ini, dengan segala isinya yang membahas tentang bani Israil (keturunan Yakub), menjadi wadah di mana mukjizat ini pertama kali diperkenalkan secara formal dalam susunan mushaf. Ini menunjukkan bahwa Isra Mi'raj bukanlah sekadar kisah terpisah, melainkan bagian integral dari narasi sejarah kenabian yang juga mencakup keturunan para nabi terdahulu.

Implikasi Surat Lain dan Hadis

Meskipun Al-Isra’ mencakup Isra, bagian Mi'raj (kenaikan ke langit tertinggi) tidak disebutkan secara eksplisit dalam surat tersebut, melainkan dikuatkan oleh sumber hadis. Namun, surat-surat lain dalam Al-Qur'an seringkali menjadi referensi pendukung dalam tafsir tentang tingkatan spiritual yang dicapai Nabi SAW saat Mi'raj. Misalnya, surat-surat yang menjelaskan tentang keagungan Allah dan tempat tertinggi di sisi-Nya, seperti bagian dari Surat An-Najm, sering dikutip bersamaan saat menjelaskan tahapan Mi'raj hingga Sidratul Muntaha.

Surat An-Najm, khususnya ayat 13-18, menceritakan tentang bagaimana Nabi SAW melihat Jibril dalam wujud aslinya di dekat pohon Sidratul Muntaha. Surat ini memberikan perspektif teologis tentang kedekatan Nabi dengan Allah SWT—sebuah tujuan akhir dari perjalanan Mi'raj. Oleh karena itu, dalam kajian mendalam mengenai surat yang berkaitan dengan Isra Mi'raj, para ulama umumnya merujuk pada Al-Isra’ (untuk landasan Isra) dan An-Najm (untuk landasan Mi'raj).

Pesan Utama dan Warisan Spiritual

Keterkaitan peristiwa agung ini dengan surat-surat Al-Qur'an menegaskan bahwa Isra Mi'raj bukan sekadar perjalanan fisik semata. Perjalanan tersebut adalah proses penyucian jiwa dan penetapan syariat fundamental, yaitu kewajiban salat lima waktu. Surat Al-Isra’ sendiri diakhiri dengan pesan-pesan moral yang luas, mengingatkan umat Islam untuk bersyukur dan menjauhi perbuatan tercela.

Maka, ketika kita menelaah kembali surat yang berkaitan dengan Isra Mi'raj, kita diingatkan bahwa fondasi ajaran Islam—terutama salat—diperoleh langsung dari pertemuan spiritual tertinggi tersebut. Ini menjadikan surat-surat tersebut sebagai pengingat abadi akan ketinggian kedudukan Nabi Muhammad SAW dan pentingnya menjaga tiang agama Islam, terlepas dari tantangan dan godaan duniawi yang juga disinggung dalam berbagai ayat Surat Al-Isra’. Peristiwa ini mengajarkan bahwa di balik perjalanan kosmik, terdapat pelajaran moral dan spiritual yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

🏠 Homepage